Rusia: Sanksi dari AS bakal jadi bumerang!
Sabtu, 08 Maret 2014 - 18:54 WIB
Rusia: Sanksi dari AS bakal jadi bumerang!
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Rusia memperingatkan kepada Amerika Serikat (AS), bahwa keputusan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia akan berbalik atau menjadi bumerang bagi AS.
Peringatan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, kepada Menteri Luar Negeri AS, John Kerry. Tidak hanya menjadi bumerang, sanksi AS terhadap Rusia akan melukai hubungan Washington dan Moskow.
“Setiap sanksi terhadap Rusia, pasti akan melanda Amerika Serikat seperti bumerang,” ucap Lavrov, seperti dikutip Rusia Today, Sabtu (8/3/2014).
Kamis lalu, AS telah memberlakukan larangan visa pada pejabat Rusia, Crimea dan warga kedua pihak tersebut.”Yang dituduh mengancam kedaulatan dan integritas Ukraina,” bunyi pernyataan Gedung Putih.
Larangan itu muncul setelah rakyat Crimea mempersiapkan diri untuk mengadakan referendum pada 16 Maret 2014. Referendum itu untuk menentukan nasib, apakah mereka akan bergabung ke Rusia atau memilih bergabung dengan Ukraina.
Juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, mengatakan, Rusia tidak ingin kembali ke ke masa Perang Dingin dengan Amerika Serikat.”(Kami) masih tetap berharap, bahwa beberapa poin kesepakatan (atas krisis Ukraina) dapat ditemukan sebagai hasil dari dialog,” ujarnya.
Peringatan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, kepada Menteri Luar Negeri AS, John Kerry. Tidak hanya menjadi bumerang, sanksi AS terhadap Rusia akan melukai hubungan Washington dan Moskow.
“Setiap sanksi terhadap Rusia, pasti akan melanda Amerika Serikat seperti bumerang,” ucap Lavrov, seperti dikutip Rusia Today, Sabtu (8/3/2014).
Kamis lalu, AS telah memberlakukan larangan visa pada pejabat Rusia, Crimea dan warga kedua pihak tersebut.”Yang dituduh mengancam kedaulatan dan integritas Ukraina,” bunyi pernyataan Gedung Putih.
Larangan itu muncul setelah rakyat Crimea mempersiapkan diri untuk mengadakan referendum pada 16 Maret 2014. Referendum itu untuk menentukan nasib, apakah mereka akan bergabung ke Rusia atau memilih bergabung dengan Ukraina.
Juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, mengatakan, Rusia tidak ingin kembali ke ke masa Perang Dingin dengan Amerika Serikat.”(Kami) masih tetap berharap, bahwa beberapa poin kesepakatan (atas krisis Ukraina) dapat ditemukan sebagai hasil dari dialog,” ujarnya.
(mas)