Cegah agresi Rusia di Ukraina, AS bakal kerahkan 6 jet tempur
Jum'at, 07 Maret 2014 - 09:33 WIB
Cegah agresi Rusia di Ukraina, AS bakal kerahkan 6 jet tempur
A
A
A
Sindonews.com - Dengan dalih untuk menghalangi agresi Rusia di Ukraina, Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon berencana mengirim enam jet tempur F-15 ke wilayah dekat Ukraina.
Enam jet tempur tambahan, akan siaga di dekat perbatasan Rusia. Pentagon mengatakan, langkah itu juga untuk memberikan motivasi terhadap negara-negara Baltik dan Polandia, yang menjadi sekutu AS.
Kepala Pentagon, Chuck Hagel, menyebut, langkah itu sebagai bagian dari perluasan kerjasama militer AS dengan negara-negara Baltik dan Polandia.
“Departemen Pertahanan sedang mengejar langkah-langkah untuk mendukung sekutu-sekutu kami,” kata Hagel, kepada parlemen AS.
Sebuah-sumber di Pentagon berbicara kepada Reuters dalam kondisi anonim, yang dilansir Jumat (7/3/2014), membenarkan rencana pengiriman jet tempur F-15, sebagai pesawat tempur tambahan. Selain itu, Pentagon juga akan mengirim pesawat Boeing KC-135.
Sebelum muncul rencana ini, NATO sejatinya, sudah mengerahkan sejumlah pesawat jet tempur F-15 yang berpatroli di negara-negara Baltik selama 10 tahun terakhir.
Washington telah menuduh Moskow mengerahkan pasukan ke wilayah Crimea, Ukraina Crimea. Langkah Moskow yang dianggap sebagai agresi militer itu, membuat AS menghentikan kerjasama militer dengan Rusia.
Padahal, langkah Moskow itu sudah sesuai dengan perjanjian antara Rusia dan Ukraina yang ditandatangani pada tahun 2010. Isinya, Moskow berhak menempatkan pasukan militer secara konstan di Semenanjung Crimea.
Rusia juga membayar Ukraina sebesar USD97,7 juta per tahun untuk penggunaan pangkalan angkatan laut di Sevastopol. Perjanjian itu juga mengizinkan Rusia memperkuat Crimea dengan jumlah pasukan sebanyak 25 ribu personel.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan, keterlibatan militer Rusia di Ukraina hanya sebagai pelindung wilayah Semenajung Crimea semata. ”Jika kita melihat pelanggaran hukum di wilayah timur, jika orang-orang meminta bantuan kami untuk bantuan, termasuk dari presiden yang sah, maka kami berhak untuk menggunakan semua sarana yang kita miliki untuk melindungi warga negara mereka. Dan kami menganggap itu cukup sah,” kata Putin.
Enam jet tempur tambahan, akan siaga di dekat perbatasan Rusia. Pentagon mengatakan, langkah itu juga untuk memberikan motivasi terhadap negara-negara Baltik dan Polandia, yang menjadi sekutu AS.
Kepala Pentagon, Chuck Hagel, menyebut, langkah itu sebagai bagian dari perluasan kerjasama militer AS dengan negara-negara Baltik dan Polandia.
“Departemen Pertahanan sedang mengejar langkah-langkah untuk mendukung sekutu-sekutu kami,” kata Hagel, kepada parlemen AS.
Sebuah-sumber di Pentagon berbicara kepada Reuters dalam kondisi anonim, yang dilansir Jumat (7/3/2014), membenarkan rencana pengiriman jet tempur F-15, sebagai pesawat tempur tambahan. Selain itu, Pentagon juga akan mengirim pesawat Boeing KC-135.
Sebelum muncul rencana ini, NATO sejatinya, sudah mengerahkan sejumlah pesawat jet tempur F-15 yang berpatroli di negara-negara Baltik selama 10 tahun terakhir.
Washington telah menuduh Moskow mengerahkan pasukan ke wilayah Crimea, Ukraina Crimea. Langkah Moskow yang dianggap sebagai agresi militer itu, membuat AS menghentikan kerjasama militer dengan Rusia.
Padahal, langkah Moskow itu sudah sesuai dengan perjanjian antara Rusia dan Ukraina yang ditandatangani pada tahun 2010. Isinya, Moskow berhak menempatkan pasukan militer secara konstan di Semenanjung Crimea.
Rusia juga membayar Ukraina sebesar USD97,7 juta per tahun untuk penggunaan pangkalan angkatan laut di Sevastopol. Perjanjian itu juga mengizinkan Rusia memperkuat Crimea dengan jumlah pasukan sebanyak 25 ribu personel.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan, keterlibatan militer Rusia di Ukraina hanya sebagai pelindung wilayah Semenajung Crimea semata. ”Jika kita melihat pelanggaran hukum di wilayah timur, jika orang-orang meminta bantuan kami untuk bantuan, termasuk dari presiden yang sah, maka kami berhak untuk menggunakan semua sarana yang kita miliki untuk melindungi warga negara mereka. Dan kami menganggap itu cukup sah,” kata Putin.
(mas)