Yanukovych berencana kerahkan militer untuk hancurkan demonstran
Selasa, 25 Februari 2014 - 17:00 WIB
Yanukovych berencana kerahkan militer untuk hancurkan demonstran
A
A
A
Sindonews.com – Mantan Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, sempat berencana mengerahkan kekuatan militer untuk menghancurkan para demonstran. Namun, rencana itu tak kunjung terealiasasi karena dia terlebih dahulu digulingkan oleh Parlemen Ukraina.
Hal tersebut terkuak setelah dokumen-dokumen pribadi milik Yanukovych bocor ke publik. Dokumen tersebut berhasil ditemukan di rumahnya. Seperti yang dilansir Reuters, Selasa (25/2/2014), dokumen-dokumen rahasia milik Yanukovych saat ini terus dicari oleh para jurnalis Ukraina.
Meski keaslian dokumen tersebut masih diperdebatkan, mantan Wakil Menteri Dalam Negeri Ukraina, Hennadi Moskal, tetap menyebarkan dokumen tersebut melalui internet. Dokumen tersebut pun menyebutkan detail dari pengepungan Independence Square yang menjadi pusat aksi protes.
Moskal mengaku sengaja merilis dokumen tersebut untuk menekan pemerintah baru Ukraina guna membawa Yanukovych ke pengadilan. Berdasarkan dokumen itu, Yanukovych telah memerintahkan pengerahan sekira 22 ribu polisi, termasuk sekira 2.000 pasukan polisi anti huru-hara untuk membubarkan aksi demonstrasi.
Yanukovych sendiri dikabarkan telah meninggalkan Ukraina pada Jumat peka lalu, setelah Parlemen Ukraina melengserkannya dari kursi Presiden. Pemerintahan sementara Ukraina telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Yanukovych atas tuduhan pembunuhan masal.
Hal tersebut terkuak setelah dokumen-dokumen pribadi milik Yanukovych bocor ke publik. Dokumen tersebut berhasil ditemukan di rumahnya. Seperti yang dilansir Reuters, Selasa (25/2/2014), dokumen-dokumen rahasia milik Yanukovych saat ini terus dicari oleh para jurnalis Ukraina.
Meski keaslian dokumen tersebut masih diperdebatkan, mantan Wakil Menteri Dalam Negeri Ukraina, Hennadi Moskal, tetap menyebarkan dokumen tersebut melalui internet. Dokumen tersebut pun menyebutkan detail dari pengepungan Independence Square yang menjadi pusat aksi protes.
Moskal mengaku sengaja merilis dokumen tersebut untuk menekan pemerintah baru Ukraina guna membawa Yanukovych ke pengadilan. Berdasarkan dokumen itu, Yanukovych telah memerintahkan pengerahan sekira 22 ribu polisi, termasuk sekira 2.000 pasukan polisi anti huru-hara untuk membubarkan aksi demonstrasi.
Yanukovych sendiri dikabarkan telah meninggalkan Ukraina pada Jumat peka lalu, setelah Parlemen Ukraina melengserkannya dari kursi Presiden. Pemerintahan sementara Ukraina telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Yanukovych atas tuduhan pembunuhan masal.
(esn)