Gagal perang, bos militer oposisi Suriah dipecat
Senin, 17 Februari 2014 - 16:06 WIB
Gagal perang, bos militer oposisi Suriah dipecat
A
A
A
Sindonews.com – Kelompok koalisi oposisi atau pemberontak Suriah memecat kepala militer Tentara Pembebasan Suriah (FSA), Salim Idriss. Musababnya, Idris dianggap gagal dalam misi perang melawan pasukan Presiden Bashar al-Assad di Suriah.
Dalam sebuah siaran video di internet, koalisi oposisi mengatakan, bahwa Dewan Militer telah memutuskan untuk mengganti Idriss dengan Brigadir Jenderal Abdel al - Ilah al- Bachir.
Pimpinan tertinggi Dewan Militer Oposisi Suriah, Kolonel Qassem Saadeddine, mengatakan keputusan itu diambil karena terjadi kelumpuhan dalam komando militer oposisi Suriah dalam beberapa bulan terakhir. “Sehingga butuh restrukturisasi,” katanya, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (17/2/2014).
Seorang sumber di dalam oposisi Suriah, menyebut, Idriss yang ditunjuk untuk sebagai pemimpin militer oposisi pada Desember 2012, telah menghadapi kritik karena kegagalannya di medan perang.
”Ini termasuk kesalahan dan kecerobohannya dalam pertempuran. Serta miskinnya distribusi senjata untuk para pemberontak Suriah,” kata sumber tersebut.
Sejatinya, sejak konflik Suriah pecah pada 2011, FSA merupakan kelompok bersenjata paling kuat yang menjadi lawan utama pasukan loyalis Assad. Namun, lambat laun kekuatan mereka tergeser oleh para kelompok bersenjata lainnya, termasuk militan asing yang menjadi saingan FSA.
Dalam sebuah siaran video di internet, koalisi oposisi mengatakan, bahwa Dewan Militer telah memutuskan untuk mengganti Idriss dengan Brigadir Jenderal Abdel al - Ilah al- Bachir.
Pimpinan tertinggi Dewan Militer Oposisi Suriah, Kolonel Qassem Saadeddine, mengatakan keputusan itu diambil karena terjadi kelumpuhan dalam komando militer oposisi Suriah dalam beberapa bulan terakhir. “Sehingga butuh restrukturisasi,” katanya, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (17/2/2014).
Seorang sumber di dalam oposisi Suriah, menyebut, Idriss yang ditunjuk untuk sebagai pemimpin militer oposisi pada Desember 2012, telah menghadapi kritik karena kegagalannya di medan perang.
”Ini termasuk kesalahan dan kecerobohannya dalam pertempuran. Serta miskinnya distribusi senjata untuk para pemberontak Suriah,” kata sumber tersebut.
Sejatinya, sejak konflik Suriah pecah pada 2011, FSA merupakan kelompok bersenjata paling kuat yang menjadi lawan utama pasukan loyalis Assad. Namun, lambat laun kekuatan mereka tergeser oleh para kelompok bersenjata lainnya, termasuk militan asing yang menjadi saingan FSA.
(mas)