Jika terancam China, AS kirimi Jepang senjata nuklir
Sabtu, 15 Februari 2014 - 13:01 WIB
Jika terancam China, AS kirimi Jepang senjata nuklir
A
A
A
Sindonews.com – Pihak Tokyo menyatakan, Pemerintah Amerika Serikat (AS) berpotensi mengirim senjata nuklir ke Jepang, jika situasi keamanan negara itu terancam. Jepang selama ini berkonflik dengan China, terutama terkait sengketa maritim di Laut China Timur.
Saat briefing dengan Anggota Parlemen Jepang, Menteri Luar Negeri Jepang, Fumio Kishida, mengatakan, kondisi genting akan membuat pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe mengambil kebijakan pengecualian anti-senjata nuklir yang selama ini dipertahankan pendahulu Abe.
Menurut kantor berita Kyodo News, Sabtu (15/2/2014), Kishida mengatakan, pemerintahan selama ini Abe mematuhi kebijakan dari pendahulunya. “(Yang) tegas mematuhi prinsip-prinsip (non-nuklir), meskipun ancaman terhadap keselamatan masyarakat tergantung pada keputusan dari pemerintahan yang berkuasa,” katanya.
”Masa depan tidak dapat ditentukan pendahulu,” kata Kishida, menggemakan komentar mantan Menteri Luar Negeri Katsuya Okada dari partai oposisi Jepang. Di mana, pada tahun 2010, Okada mengungkapkan, bahwa Jepang dan AS memiliki perjanjian selama era Perang Dingin.
Isinya, Tokyo akan memungkinkan AS untuk membawa kapal selam bersenjata nuklir ke pelabuhan Jepang, yang sejatinya kontra dengan kebijakan non-nuklir.
Namun, perjanjian AS dan Jepang soal potensi AS mengirim senjata nuklir dirahasikan. Abe pernah mengkritik perjanjian yang disembunyikan itu sebagai kesalahan, karena tidak diumumkan.
Komentar Kishida soal AS yang akan mengirim senjata nuklir ke Jepang jika kondisi genting itu muncul di tengah ketegangan antara Jepang dan China. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, bertemu dengan Kishida untuk menekankan bahwa AS akan mendukung Jepang jika terlibat konflik.
Saat briefing dengan Anggota Parlemen Jepang, Menteri Luar Negeri Jepang, Fumio Kishida, mengatakan, kondisi genting akan membuat pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe mengambil kebijakan pengecualian anti-senjata nuklir yang selama ini dipertahankan pendahulu Abe.
Menurut kantor berita Kyodo News, Sabtu (15/2/2014), Kishida mengatakan, pemerintahan selama ini Abe mematuhi kebijakan dari pendahulunya. “(Yang) tegas mematuhi prinsip-prinsip (non-nuklir), meskipun ancaman terhadap keselamatan masyarakat tergantung pada keputusan dari pemerintahan yang berkuasa,” katanya.
”Masa depan tidak dapat ditentukan pendahulu,” kata Kishida, menggemakan komentar mantan Menteri Luar Negeri Katsuya Okada dari partai oposisi Jepang. Di mana, pada tahun 2010, Okada mengungkapkan, bahwa Jepang dan AS memiliki perjanjian selama era Perang Dingin.
Isinya, Tokyo akan memungkinkan AS untuk membawa kapal selam bersenjata nuklir ke pelabuhan Jepang, yang sejatinya kontra dengan kebijakan non-nuklir.
Namun, perjanjian AS dan Jepang soal potensi AS mengirim senjata nuklir dirahasikan. Abe pernah mengkritik perjanjian yang disembunyikan itu sebagai kesalahan, karena tidak diumumkan.
Komentar Kishida soal AS yang akan mengirim senjata nuklir ke Jepang jika kondisi genting itu muncul di tengah ketegangan antara Jepang dan China. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, bertemu dengan Kishida untuk menekankan bahwa AS akan mendukung Jepang jika terlibat konflik.
(mas)