Kontak dengan Israel, pangeran Saudi sebut kesalahan setan
Jum'at, 14 Februari 2014 - 11:38 WIB
Kontak dengan Israel, pangeran Saudi sebut kesalahan setan
A
A
A
Sindonews.com – Pangeran Arab Saudi, Turki bin Faisal, menjelaskan ke publik soal dia menjalin kontak dengan Israel pada Konferensi Keamanan di Munich, Jerman bulan lalu.
Menurutnya, jika hal itu dianggap kesalahan, maka itu kesalahannya dan kesalahan setan. Penjelasan ke publik itu, dia tulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan kemarin, di surat kabar Saudi, Al Riyadh, yang dilansir Jpost, Jumat (14/2/2014).
Faisal mengatakan, ketika ia berada di konferensi internasional itu, dia sesekali mengajukan pertanyaan kepada delegasi Israel, yang disaksikan banya orang, baik dari pejabat maupun perwakilan publik.
“Kontak (dengan Israel) ini telah menimbulkan pertanyaan. Jadi, dalam artikel ini saya ingin menjelaskan perspektif saya. Bahkan, jika itu adalah sebuah kesalahan, (maka kesalahan) oleh saya dan setan,” tulis pangeran Saudi itu.
Faisal melanjutkan, dalam forum itu sejatinya dia menjelaskan bagaimana penderitaan rakyat Palestina akibat ketidakadilan, perang brutal, krisis pekerjaan dan sebagainya. Dia menegaskan, bahwa Arab Saudi telah berupaya untuk mendukung perjuangan Palestina.
Faisal menambahkan, satu-satunya cara untuk memecahkan "tragedi” di Palestina adalah mengadopsi Inisiatif Perdamaian Arab yang pernah diusulkan pada tahun 2002. Di mana di dalamnya mencakup sebuah negara Palestina di perbatasan pra-1967 dengan ibukotanya di Yerusalem.
Selain itu, usulan itu juga memuat klausul kembalinya para pengungsi Palestina sebagai kompensasi untuk menormalkan hubungan Israel dengan dunia Arab.
Namun, kata dia, Israel menolak opsi itu. Namun, Faisal mengatakan, Menteri Kehakiman Israel, Tzipi Livni merupakan orang yang tepat untuk memimpin tim negosiasi Israel. Sebab dia memahami esensi perdamaian antara Israel dan Palestina.
Menurutnya, jika hal itu dianggap kesalahan, maka itu kesalahannya dan kesalahan setan. Penjelasan ke publik itu, dia tulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan kemarin, di surat kabar Saudi, Al Riyadh, yang dilansir Jpost, Jumat (14/2/2014).
Faisal mengatakan, ketika ia berada di konferensi internasional itu, dia sesekali mengajukan pertanyaan kepada delegasi Israel, yang disaksikan banya orang, baik dari pejabat maupun perwakilan publik.
“Kontak (dengan Israel) ini telah menimbulkan pertanyaan. Jadi, dalam artikel ini saya ingin menjelaskan perspektif saya. Bahkan, jika itu adalah sebuah kesalahan, (maka kesalahan) oleh saya dan setan,” tulis pangeran Saudi itu.
Faisal melanjutkan, dalam forum itu sejatinya dia menjelaskan bagaimana penderitaan rakyat Palestina akibat ketidakadilan, perang brutal, krisis pekerjaan dan sebagainya. Dia menegaskan, bahwa Arab Saudi telah berupaya untuk mendukung perjuangan Palestina.
Faisal menambahkan, satu-satunya cara untuk memecahkan "tragedi” di Palestina adalah mengadopsi Inisiatif Perdamaian Arab yang pernah diusulkan pada tahun 2002. Di mana di dalamnya mencakup sebuah negara Palestina di perbatasan pra-1967 dengan ibukotanya di Yerusalem.
Selain itu, usulan itu juga memuat klausul kembalinya para pengungsi Palestina sebagai kompensasi untuk menormalkan hubungan Israel dengan dunia Arab.
Namun, kata dia, Israel menolak opsi itu. Namun, Faisal mengatakan, Menteri Kehakiman Israel, Tzipi Livni merupakan orang yang tepat untuk memimpin tim negosiasi Israel. Sebab dia memahami esensi perdamaian antara Israel dan Palestina.
(mas)