Bos armada Pasifik AS ketar-ketir dengan Korut
Rabu, 22 Januari 2014 - 18:06 WIB
Bos armada Pasifik AS ketar-ketir dengan Korut
A
A
A
Sindonews.com –Pemimpin Armada Pasifik Amerika Serikat (AS),Harry B. Harris Jr, khawatir dengan kondisi keamanan di Asia. Yang membuatnya cemas adalah kekuatan Korea Utara (Korut).
Dia juga mempertimbangkan kekuatan China yang terus terlibat polemik dalam sengketa maritim di Asia. ”Masalah keamanan nomor satu kami adalah Korea Utara,” kata Harris kepada wartawan di Singapura , Rabu (22/1/2014).
”Saya prihatin sebagai komandan untuk provokasi dari Korut. Saya tidak mengerti mereka, saya tidak mengerti kepemimpinan mereka dan niat mereka saya juga tidak mengerti,” lanjut dia, seperti dikutip AFP.
Pyongyang, pekan lalu memperingatkan "bencana dan bencana " jika AS dan Korea Selatan tidak menghentikan latihan perang gabungan yang digelar secara rutin saban tahun, pada bulan depan nanti.
Harris juga menyoroti klaim zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) di Laut Cina Timur oleh Beijing. Pulau di Laut China Timur itu disengketakan Jepang dan China selama berbulan-bulan. ”Kami pikir Bahwa ADIZ adalah pengenaan yang disayangkan di wilayah ini,” ucapnya. “Itu juga yang membuat saya prihatin, China memaksakan dalam kasus ini.”
Dia juga mempertimbangkan kekuatan China yang terus terlibat polemik dalam sengketa maritim di Asia. ”Masalah keamanan nomor satu kami adalah Korea Utara,” kata Harris kepada wartawan di Singapura , Rabu (22/1/2014).
”Saya prihatin sebagai komandan untuk provokasi dari Korut. Saya tidak mengerti mereka, saya tidak mengerti kepemimpinan mereka dan niat mereka saya juga tidak mengerti,” lanjut dia, seperti dikutip AFP.
Pyongyang, pekan lalu memperingatkan "bencana dan bencana " jika AS dan Korea Selatan tidak menghentikan latihan perang gabungan yang digelar secara rutin saban tahun, pada bulan depan nanti.
Harris juga menyoroti klaim zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) di Laut Cina Timur oleh Beijing. Pulau di Laut China Timur itu disengketakan Jepang dan China selama berbulan-bulan. ”Kami pikir Bahwa ADIZ adalah pengenaan yang disayangkan di wilayah ini,” ucapnya. “Itu juga yang membuat saya prihatin, China memaksakan dalam kasus ini.”
(mas)