Tidak percaya Iran, AS terus pantau nuklir Teheran
Senin, 09 Desember 2013 - 11:15 WIB
Tidak percaya Iran, AS terus pantau nuklir Teheran
A
A
A
Sindonews.com - Seorang diplomat tertinggi Amerika Serikat, mengatakan bahwa negaranya tidak sepenuhnya percaya dengan Iran, terkati kebijakan program nuklir Teheran. AS akan terus memantau program nuklir Iran tersebut.
”Puluhan tahun ada ketidakpercayaan antara AS dan Iran, berarti Washington akan harus bergantung kepada pemantauan fasilitas nuklir Iran,” kata Wendy Sherman, diplomat AS sekaligus negosiator utama dalam diplomasi nuklir Teheran, dalam sebuah wawancara dengan al-Arabiya yang dilansir Senin (9/12/2013).
”Kami telah menempatkan (kebijakan) di tempat, bahkan dalam langkah pertama ini, pemantauan yang paling mengganggu ada di Iran,” kata Sherman.
Komentar Sherman muncul menjelang pembicaraan lebih lanjut mengenai program nuklir Iran yang akan dimulai di Wina pada Senin, hari ini. Negoisasi itu melibatkan para ahli dari Iran dan enam negara kekuatan dunia (P5+1). Negoisasi kali ini akan membahas pelaksanaan pengawasan program nuklir Iran yang melibatkan inspektur PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Menurut Sherman, proses pemantauan fasilitas nuklir Iran akan fokus pada pembatasan kapasitas atom dan inspeksi akan lebih sering dan menyeruh. Selain itu, dalam negosiasi nuklir Teheran, AS juga akan berkonsultasi dengan negara-negara Teluk yang menjadi sekutunya, sebagai bentuk komitmen AS untuk melindungi mereka.
”Sebelum dan sesudah. Setiap dialog AS berdiri berdampingan dengan negara-negara Teluk untuk menjaga keamanan wilayah tersebut dari ancaman regional,” ujarnya.
Dia melanjutkan, meskipun sanksi atau embargo terhadap Iran diringankan, namun kapasitasnya sangat sedikit.”Sangat, sangat sedikit sanksi yang akan ditangguhkan,” ucapnya. Dia menyebut, peringanan sanksi itu adalah pecairan aset Iran di luar negeri senilai USD100 miliar yang sebelumnya dibekukan.
Pada November 2013 lalu , negoisator Iran dan negoisator negara-negara P5 +1 (AS, Inggris, Perancis, China, Rusia dan Jerman mencapai kesepakatan bersejarah. Di mana Teheran akan mengekang aktivitas nuklirnya dengan imbalan peringanan sanksi atau embargo ekonomi dalam skala terbatas.
”Puluhan tahun ada ketidakpercayaan antara AS dan Iran, berarti Washington akan harus bergantung kepada pemantauan fasilitas nuklir Iran,” kata Wendy Sherman, diplomat AS sekaligus negosiator utama dalam diplomasi nuklir Teheran, dalam sebuah wawancara dengan al-Arabiya yang dilansir Senin (9/12/2013).
”Kami telah menempatkan (kebijakan) di tempat, bahkan dalam langkah pertama ini, pemantauan yang paling mengganggu ada di Iran,” kata Sherman.
Komentar Sherman muncul menjelang pembicaraan lebih lanjut mengenai program nuklir Iran yang akan dimulai di Wina pada Senin, hari ini. Negoisasi itu melibatkan para ahli dari Iran dan enam negara kekuatan dunia (P5+1). Negoisasi kali ini akan membahas pelaksanaan pengawasan program nuklir Iran yang melibatkan inspektur PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Menurut Sherman, proses pemantauan fasilitas nuklir Iran akan fokus pada pembatasan kapasitas atom dan inspeksi akan lebih sering dan menyeruh. Selain itu, dalam negosiasi nuklir Teheran, AS juga akan berkonsultasi dengan negara-negara Teluk yang menjadi sekutunya, sebagai bentuk komitmen AS untuk melindungi mereka.
”Sebelum dan sesudah. Setiap dialog AS berdiri berdampingan dengan negara-negara Teluk untuk menjaga keamanan wilayah tersebut dari ancaman regional,” ujarnya.
Dia melanjutkan, meskipun sanksi atau embargo terhadap Iran diringankan, namun kapasitasnya sangat sedikit.”Sangat, sangat sedikit sanksi yang akan ditangguhkan,” ucapnya. Dia menyebut, peringanan sanksi itu adalah pecairan aset Iran di luar negeri senilai USD100 miliar yang sebelumnya dibekukan.
Pada November 2013 lalu , negoisator Iran dan negoisator negara-negara P5 +1 (AS, Inggris, Perancis, China, Rusia dan Jerman mencapai kesepakatan bersejarah. Di mana Teheran akan mengekang aktivitas nuklirnya dengan imbalan peringanan sanksi atau embargo ekonomi dalam skala terbatas.
(mas)