Oposisi: Militan asing hancurkan revolusi Suriah
Sabtu, 07 Desember 2013 - 14:36 WIB
Oposisi: Militan asing hancurkan revolusi Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Kelompok oposisi bersenjata Suriah membenci kehadiran para militan radikal asing yang ikut bertempur di Suriah. Mesikpun sama-sama ingin melengserkan Presiden Bashar al-Assad, para militan asing itu juga memerangi pasukan oposisi.
Seorang komandan Tentara Pembebasan Suriah (FSA), mengaku, ia harus melarikan diri ke Turki, setelah pasukannya ditangkap para militan asing yang mereka sebut kelompok jihadis.
”Mereka (militan radikal asing) mengatakan kepada kami, bahwa kami bukan benar-benar Muslim,” kata komandan FSA, yang diwawancarai BBC, dengan syarat anonim, karena alasan keamanan itu.
”Saya melihat bagaimana mereka mengalahkan teman-teman saya dengan jeruji besi, menghancurkan wajah orang-orang kami dengan amunisi dan kemudian membunuhnya. Lantai dilumuri dengan darah,” ungkapnya.
”Kami membuat revolusi untuk kebebasan dan kesetaraan, tetapi para jihadis tidak menginginkan ini. Mereka datang untuk menghancurkan (revolusi) Suriah.”
Komandan FSA itu, menambahkan, bahwa ia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa bertahan hidup.
Sebuah laporan yang dilansir BBC, Sabtu (7/12/2013),menyebut, para militan asing itu menggunakan safe house atau rumah aman di Turki. Reyhanli, orang yang bertanggung jawab atas safe house di Turki mengatakan, lebih dari 150 militan tinggal di safe house.
Mereka tinggal di safe house selama 90 hari terakhir. ”Antara 15 dan 20 orang adalah warga Inggris . Ini semua melalui undangan dari teman,” katanya.
Seorang komandan Tentara Pembebasan Suriah (FSA), mengaku, ia harus melarikan diri ke Turki, setelah pasukannya ditangkap para militan asing yang mereka sebut kelompok jihadis.
”Mereka (militan radikal asing) mengatakan kepada kami, bahwa kami bukan benar-benar Muslim,” kata komandan FSA, yang diwawancarai BBC, dengan syarat anonim, karena alasan keamanan itu.
”Saya melihat bagaimana mereka mengalahkan teman-teman saya dengan jeruji besi, menghancurkan wajah orang-orang kami dengan amunisi dan kemudian membunuhnya. Lantai dilumuri dengan darah,” ungkapnya.
”Kami membuat revolusi untuk kebebasan dan kesetaraan, tetapi para jihadis tidak menginginkan ini. Mereka datang untuk menghancurkan (revolusi) Suriah.”
Komandan FSA itu, menambahkan, bahwa ia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa bertahan hidup.
Sebuah laporan yang dilansir BBC, Sabtu (7/12/2013),menyebut, para militan asing itu menggunakan safe house atau rumah aman di Turki. Reyhanli, orang yang bertanggung jawab atas safe house di Turki mengatakan, lebih dari 150 militan tinggal di safe house.
Mereka tinggal di safe house selama 90 hari terakhir. ”Antara 15 dan 20 orang adalah warga Inggris . Ini semua melalui undangan dari teman,” katanya.
(mas)