Rezim Suriah kembali dituduh lancarkan serangan kimia
Jum'at, 06 Desember 2013 - 04:06 WIB
Rezim Suriah kembali dituduh lancarkan serangan kimia
A
A
A
Sindonews.com – Para aktivis oposisi Suriah kembali melontarkan tuduhan pada Kamis (5/12/2013), bahwa pasukan Presiden Bashar al-Assad telah menggunakan gas beracun dalam perang sipil di negara itu.
Para aktivis mengatakan kepada Reuters, tujuh korban ditemukan dengan kaki bengkak dan mulut berbusa. Serangan ini dilaporkan terjadi di sebuah daerah yang dikuasai pemberontak, di kota Nabak, sekitar 68 km timur laut dari Damaskus.
"Sejauh ini, tujuh orang dilaporkan jatuh sakit. Mereka mengalami kaki bengkak dan busa keluar dari mulut mereka," kata seorang aktivis yang menyebut dirinya sebagai Amer al-Qalamouni. "Tidak ada dokter yang merawat mereka, karena Nabak dibombardir dan sangat sedikit staf medis yang tersisa," lanjutnya.
Secara terpisah, Koordinator Revolusi Union Suriah juga menuduh pasukan Assad telah menggunakan gas beracun. "Kami telah mendokumentasikan sembilan korban dari gas beracun yang digunakan oleh rezim di lingkungan Nabak," sebut pernyataan Koordinator Revolusi Union Suriah pada halaman Facebook-nya.
Reuters tidak dapat memverifikasi laporan ini pada Pemerintah Suriah, karena adanya pembatasan ruang gerak bagi media yang diterapkan rezim Suriah. Hingga kini, tidak jelas jenis gas apa yang digunakan dalam serangan kimia yang dilaporkan terjadi di Nabak.
Beberapa bulan lalu, penggunaan senjata kimia dalam perang sipil di Suriah telah menyita perhatian dunia. Pada 21 Agustus, rezim Suriah dilaporkan telah melancarkan serangan senjata kimia di pinggiran Damaskus yang menewaskan ratusan orang. Rezim Suriah sendiri telah membantah melancarkan serangan kimia.
Imbas dari peristiwa ini, Amerika Serikat mengancam akan menyerang Suriah. Akhirnya, Assad setuju untuk menyerahkan gudang senjata kimia di bawah kesepakatan yang dicapai antara Moskow dan Washington. Inspektur internasional telah mulai bekerja untuk membongkar fasilitas senjata kimia milik rezim Suriah.
Para aktivis mengatakan kepada Reuters, tujuh korban ditemukan dengan kaki bengkak dan mulut berbusa. Serangan ini dilaporkan terjadi di sebuah daerah yang dikuasai pemberontak, di kota Nabak, sekitar 68 km timur laut dari Damaskus.
"Sejauh ini, tujuh orang dilaporkan jatuh sakit. Mereka mengalami kaki bengkak dan busa keluar dari mulut mereka," kata seorang aktivis yang menyebut dirinya sebagai Amer al-Qalamouni. "Tidak ada dokter yang merawat mereka, karena Nabak dibombardir dan sangat sedikit staf medis yang tersisa," lanjutnya.
Secara terpisah, Koordinator Revolusi Union Suriah juga menuduh pasukan Assad telah menggunakan gas beracun. "Kami telah mendokumentasikan sembilan korban dari gas beracun yang digunakan oleh rezim di lingkungan Nabak," sebut pernyataan Koordinator Revolusi Union Suriah pada halaman Facebook-nya.
Reuters tidak dapat memverifikasi laporan ini pada Pemerintah Suriah, karena adanya pembatasan ruang gerak bagi media yang diterapkan rezim Suriah. Hingga kini, tidak jelas jenis gas apa yang digunakan dalam serangan kimia yang dilaporkan terjadi di Nabak.
Beberapa bulan lalu, penggunaan senjata kimia dalam perang sipil di Suriah telah menyita perhatian dunia. Pada 21 Agustus, rezim Suriah dilaporkan telah melancarkan serangan senjata kimia di pinggiran Damaskus yang menewaskan ratusan orang. Rezim Suriah sendiri telah membantah melancarkan serangan kimia.
Imbas dari peristiwa ini, Amerika Serikat mengancam akan menyerang Suriah. Akhirnya, Assad setuju untuk menyerahkan gudang senjata kimia di bawah kesepakatan yang dicapai antara Moskow dan Washington. Inspektur internasional telah mulai bekerja untuk membongkar fasilitas senjata kimia milik rezim Suriah.
(esn)