Turki pilih rudal China ketimbang dari AS & Rusia
Jum'at, 27 September 2013 - 14:47 WIB
Turki pilih rudal China ketimbang dari AS & Rusia
A
A
A
Sindonews.com - Turki telah memilih perusahaan pertahahnan militer China (CPMIEC) untuk pembelian rudal jarak jauh senilai USD4 miliar. Turki menolak tawaran produk rudal dari perusahaan Rusia dan Amerika Serikat.
Demikian disampaikan Menterian Pertahanan Turki, Ismet Yilmaz, kemarin, dalam sebuah pernyataan. Turki, sejatinya adalah anggota dari aliansi militer NATO. Tapi, negara itu tidak memiliki sistem pertahanan rudal jarak jauh sendiri. Selama ini, NATO mengerahkan sistem pertahanan rudal Patriot AS di sana sejak 2012.
China memilih perusahaan rudal FD-2000 milik China, dan menolak perusahaan rudal Patriot AS, dan perusahaan rudal S-400 Rusia. ”Turki telah memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan perusahaan CPMIEC dari Republik Rakyat China untuk memproduksi rudal di Turki,” bunyi pernyataan Yilmaz, seperti dikutip Reuters, Jumat (27/9/2013).
Raytheon Company, yang membangun sistem rudal Patriot AS di Turki, mengatakan pihaknya telah diberitahu tentang keputusan Turki, dan berharap bisa melakukan pembicaraan secepatnya. Selama ini ada 200 unit rudal Patriot AS dikerahkan di 12 negara, termasuk Turki.
”NATO telah lama mendukung sistem pertahanan, dan menyebarkan rudal Patriot di lima negara pada tahun 2012. Rudal itu juga ditempatkan untuk Turki. Mengingat kerjasama yang kuat ini, kami berharap untuk berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut tentang keputusan ini,” kata juru bicara Raytheon Company, Mike Doble .
Pernyataan Menteri Yilmaz juga menyebut, kontrak untuk memproduksi enam kapal korvet oleh Koc Holding, konglomerat terbesar Turki , telah dibatalkan. Kata Yilmaz, sebuah kontrak untuk membangun dua kapal akan diberikan kepada galangan kapal Angkatan Laut Turki. Pembangunan empat kapal sisanya akan dibuka lewat tender.
Demikian disampaikan Menterian Pertahanan Turki, Ismet Yilmaz, kemarin, dalam sebuah pernyataan. Turki, sejatinya adalah anggota dari aliansi militer NATO. Tapi, negara itu tidak memiliki sistem pertahanan rudal jarak jauh sendiri. Selama ini, NATO mengerahkan sistem pertahanan rudal Patriot AS di sana sejak 2012.
China memilih perusahaan rudal FD-2000 milik China, dan menolak perusahaan rudal Patriot AS, dan perusahaan rudal S-400 Rusia. ”Turki telah memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan perusahaan CPMIEC dari Republik Rakyat China untuk memproduksi rudal di Turki,” bunyi pernyataan Yilmaz, seperti dikutip Reuters, Jumat (27/9/2013).
Raytheon Company, yang membangun sistem rudal Patriot AS di Turki, mengatakan pihaknya telah diberitahu tentang keputusan Turki, dan berharap bisa melakukan pembicaraan secepatnya. Selama ini ada 200 unit rudal Patriot AS dikerahkan di 12 negara, termasuk Turki.
”NATO telah lama mendukung sistem pertahanan, dan menyebarkan rudal Patriot di lima negara pada tahun 2012. Rudal itu juga ditempatkan untuk Turki. Mengingat kerjasama yang kuat ini, kami berharap untuk berdiskusi dan mempelajari lebih lanjut tentang keputusan ini,” kata juru bicara Raytheon Company, Mike Doble .
Pernyataan Menteri Yilmaz juga menyebut, kontrak untuk memproduksi enam kapal korvet oleh Koc Holding, konglomerat terbesar Turki , telah dibatalkan. Kata Yilmaz, sebuah kontrak untuk membangun dua kapal akan diberikan kepada galangan kapal Angkatan Laut Turki. Pembangunan empat kapal sisanya akan dibuka lewat tender.
(esn)