NATO: Opsi militer ke Suriah harus tetap terbuka
Jum'at, 20 September 2013 - 03:03 WIB
NATO: Opsi militer ke Suriah harus tetap terbuka
A
A
A
Sindonews.com – Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, mengatakan pada Kamis (19/9/2013), bahwa opsi militer harus tetap terbuka untuk memastikan rezim Suriah menepati janjinya untuk memusnahkan senjata kimia.
"Saya pikir, itu adalah penting untuk menjaga momentum dalam proses diplomatik dan politik, bahwa opsi militer masih di atas meja," kata Rasmussen, seperti dikutip dari Xinhua. Menurutnya, kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk memusnahkan senjata kimia milik rezim Suriah tidak dapat dicapai tanpa "ancaman tindakan militer yang kredibel".
Rasmussen mengatakan, sangat itu penting bagi Dewan Keamanan PBB untuk secepatnya mengadopsi resolusi untuk memastikan secara cepat, aman, dan dapat diverifikasi penghapusan senjata kimia Suriah dalam porsi yang besar.
“Penggunaan senjata kimia adalah kejahatan dan masyarakat internasional memiliki kewajiban untuk menahan mereka yang bertanggung jawab atas tindakan itu,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan, untuk memusnahkan senjata kimia Suriah, seperti kesepakatan AS dan Rusia butuh waktu setahun. Selain itu, biaya yang dibutuhkan senilai USD1 miliar atau Rp11,2 triliun.
"Saya pikir, itu adalah penting untuk menjaga momentum dalam proses diplomatik dan politik, bahwa opsi militer masih di atas meja," kata Rasmussen, seperti dikutip dari Xinhua. Menurutnya, kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk memusnahkan senjata kimia milik rezim Suriah tidak dapat dicapai tanpa "ancaman tindakan militer yang kredibel".
Rasmussen mengatakan, sangat itu penting bagi Dewan Keamanan PBB untuk secepatnya mengadopsi resolusi untuk memastikan secara cepat, aman, dan dapat diverifikasi penghapusan senjata kimia Suriah dalam porsi yang besar.
“Penggunaan senjata kimia adalah kejahatan dan masyarakat internasional memiliki kewajiban untuk menahan mereka yang bertanggung jawab atas tindakan itu,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan, untuk memusnahkan senjata kimia Suriah, seperti kesepakatan AS dan Rusia butuh waktu setahun. Selain itu, biaya yang dibutuhkan senilai USD1 miliar atau Rp11,2 triliun.
(esn)