Tentara Suriah hancurkan basis al-Nusra di Lattakia
Kamis, 12 September 2013 - 18:55 WIB
Tentara Suriah hancurkan basis al-Nusra di Lattakia
A
A
A
Sindonews.com - Saat masyarakat internasional tengah sibuk membahas rencana solusi untuk menyikapi dugaan serangan senjata kimia di pinggiran Ibu Kota Damaskus pada 21 Agustus silam, tentara pemerintah dan pemberontak Suriah tidak berhenti berperang di beberapa wilayah Suriah, Rabu (12/9/2013).
Tentara Suriah dilaporkan melancarkan serangan ke basis al-Nusra, pemberontak Suriah yang terkait dengan al-Qaeda, di Desa Marj Khukheh, wilayah Salmi, Lattakia, sisi barat Suriah. Operasi militer tersebut berhasil menghancurkan basis al-Nusra dan menewaskan 20 anggotanya.
Operasi militer juga diluncurkan di Desa al-Qasatel dan Desa Marj Al-Zawiya. Sebanyak 15 militan dilaporkan tewas dalam baku tembak tersebut. Di saat yang bersamaan, pemberontak Suriah juga tidak berhenti meluncurkan serangan mortir kepada tentara Suriah dari Desa Ma'arasteh dan Desa Mayer di sekitar wilayah Nabl dan Al-Zahra.
Seperti diketahui perang internal yang terjadi di Suriah pecah sejak Maret 2011 silam. Ujuk rasa yang dilancarkan ribuan masa pro-reformasi berubah menjadi pemberontakan besar. Belakangan, sejumlah pejuang dari Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika Utara ambil bagian dan membuat krisis politik itu menjadi konflik paling berdarah dalam sejarah.
Tentara Suriah dilaporkan melancarkan serangan ke basis al-Nusra, pemberontak Suriah yang terkait dengan al-Qaeda, di Desa Marj Khukheh, wilayah Salmi, Lattakia, sisi barat Suriah. Operasi militer tersebut berhasil menghancurkan basis al-Nusra dan menewaskan 20 anggotanya.
Operasi militer juga diluncurkan di Desa al-Qasatel dan Desa Marj Al-Zawiya. Sebanyak 15 militan dilaporkan tewas dalam baku tembak tersebut. Di saat yang bersamaan, pemberontak Suriah juga tidak berhenti meluncurkan serangan mortir kepada tentara Suriah dari Desa Ma'arasteh dan Desa Mayer di sekitar wilayah Nabl dan Al-Zahra.
Seperti diketahui perang internal yang terjadi di Suriah pecah sejak Maret 2011 silam. Ujuk rasa yang dilancarkan ribuan masa pro-reformasi berubah menjadi pemberontakan besar. Belakangan, sejumlah pejuang dari Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika Utara ambil bagian dan membuat krisis politik itu menjadi konflik paling berdarah dalam sejarah.
(esn)