Ini pidato Obama yang bernafsu ingin serang Suriah
Rabu, 11 September 2013 - 10:48 WIB
Ini pidato Obama yang bernafsu ingin serang Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Presiden AS, Barack Obama, berpidato di stasiun televisi AS, semalam (10/9/2013). Dalam pidatonya itu, Obama menguraikan berbagai alasan mengapa ia ingin menyerang Suriah, dan menyalahkan Presiden Bashar al-Assad atas serangan senjata kimia pada 21 Agustus 2013.
Disaksikan publik AS, Obama mengatakan, ia tengah mengejar upaya diplomatik untuk menghapus senjata kimia Suriah. Jika upaya itu gagal, kata Obama, militer AS akan merespon dengan serangan. Dia juga telah meminta Kongres untuk menunda pemungutan suara terkait dukungan agresi militer AS terhadap Suriah.
Menurut Obama, semula pemerintahannya telah lama menolak seruan untuk aksi militer di Suriah. Karena, ia tidak percaya kekuatan militer bisa memecahkan perang saudara di sana. Namun, dalam pidato semalam, dia mengaku berubah pikiran setelah meyaksikan serangan senjata kimia di dekat Damaskus pada 21 Agustus 2013. Serangan itulah yang menjadi alasan utama Obama untuk menyerang Suriah.
”Gambar-gambar dari pembantaian itu, memuakkan,” ucap Obama, dalam pidatonya seperti dikutip BBC, Rabu (11/9/2013). ”Pada malam mengerikan itu, dunia melihat secara detail, serangan senjata kimia yang mengerikan,” lanjut dia.
Meski Pemerintah Suriah berkali-kali telah membantah melakukan serangan itu, dan menuduh balik pelakunya para pemberontak yang ingin menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, namun Obama memiliki alasan lain. Dia tetap menyalahkan rezim Assad dalam peristiwa itu.
”Kita tahu bahwa personil Assad menyiapkan serangan senjata kimia di dekat daerah mereka, di mana mereka mencampur gas sarin,” ujar Obama. ”Mereka membagi-bagikan masker gas untuk pasukan mereka. Kemudian mereka menembakkan roket dari wilayah yang dikuasai rezim dalam 11 titik, dan mereka berusaha untuk menghapus kekuatan oposisi.”
Obama mengatakan, bahwa serangan semacam itu tidak hanya merupakan pelanggaran hukum internasional, tapi juga berbahaya bagi keamanan nasional AS. ”Seperti halnya larangan terhadap penggunaan senjata-senjata itu, tiran lainnya tidak akan memiliki alasan untuk berpikir dua kali tentang penggunaan gas beracun,” imbuh dia.
Disaksikan publik AS, Obama mengatakan, ia tengah mengejar upaya diplomatik untuk menghapus senjata kimia Suriah. Jika upaya itu gagal, kata Obama, militer AS akan merespon dengan serangan. Dia juga telah meminta Kongres untuk menunda pemungutan suara terkait dukungan agresi militer AS terhadap Suriah.
Menurut Obama, semula pemerintahannya telah lama menolak seruan untuk aksi militer di Suriah. Karena, ia tidak percaya kekuatan militer bisa memecahkan perang saudara di sana. Namun, dalam pidato semalam, dia mengaku berubah pikiran setelah meyaksikan serangan senjata kimia di dekat Damaskus pada 21 Agustus 2013. Serangan itulah yang menjadi alasan utama Obama untuk menyerang Suriah.
”Gambar-gambar dari pembantaian itu, memuakkan,” ucap Obama, dalam pidatonya seperti dikutip BBC, Rabu (11/9/2013). ”Pada malam mengerikan itu, dunia melihat secara detail, serangan senjata kimia yang mengerikan,” lanjut dia.
Meski Pemerintah Suriah berkali-kali telah membantah melakukan serangan itu, dan menuduh balik pelakunya para pemberontak yang ingin menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, namun Obama memiliki alasan lain. Dia tetap menyalahkan rezim Assad dalam peristiwa itu.
”Kita tahu bahwa personil Assad menyiapkan serangan senjata kimia di dekat daerah mereka, di mana mereka mencampur gas sarin,” ujar Obama. ”Mereka membagi-bagikan masker gas untuk pasukan mereka. Kemudian mereka menembakkan roket dari wilayah yang dikuasai rezim dalam 11 titik, dan mereka berusaha untuk menghapus kekuatan oposisi.”
Obama mengatakan, bahwa serangan semacam itu tidak hanya merupakan pelanggaran hukum internasional, tapi juga berbahaya bagi keamanan nasional AS. ”Seperti halnya larangan terhadap penggunaan senjata-senjata itu, tiran lainnya tidak akan memiliki alasan untuk berpikir dua kali tentang penggunaan gas beracun,” imbuh dia.
(esn)