Tentara Filipina & 100 gerilyawan bentrok di tengah kota
Senin, 09 September 2013 - 12:36 WIB
Tentara Filipina & 100 gerilyawan bentrok di tengah kota
A
A
A
Sindonews.com - Bentrokan antara tentara Filipina dan sekitar 100 gerilyawan Muslim, diduga telah menewaskan seorang tentara dan melukai enam lainnya. Demikian disampaikan para pejabat Filipina, Senin (9/9/2013).
Para gerilyawan yang terlibat bentrok, diduga dari kelompok Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Insiden itu terjadi ketika para gerilyawan berpindah ke wilayah Zamboanga, sebuah kota di Mindanao, dengan perahu pada Senin pagi. Bentrokan menyebar dari pantai ke Kota Rio Hondo Rio, pada jam sibuk.
MNLF telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan pemerintah pada tahun 1996 . Namun, beberapa pejuang mereka tetap aktif. Akibat insiden itu, banyak warga Rio Hondo melarikan diri.
Walikota setempat, Isabelle Climaco-Salazar, mengatakan kepada kantor berita AFP, bahwa sekitar 20 orang telah disandera. ”Target utama MNLF di kota Zamboanga, adalah untuk meningkatkan dukungan kemerdekaan mereka di balai kota,” ujarnya, seperti dikutip BBC.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Letkol Ramon Zagala, mengatakan, bahwa sekitar 800 tentara telah dikerahkan untuk mengamankan kota. ”Kami berusaha untuk mengendalikan mereka, sehingga hal ini tidak akan menyebar di tempat lain,” katanya.
Nur Misuari mendirikan MNLF, pada tahun 1971, dengan tujuan melawan pemerintah Filipina untuk sebuah negara Islam merdeka. Meskipun kelompok itu telah menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah pada tahun 1996, tetapi mereka terus terlibat dalam bentrokan di Filipina selatan. Banyak faksi di MNLF diketahui telah pecah.
Para gerilyawan yang terlibat bentrok, diduga dari kelompok Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Insiden itu terjadi ketika para gerilyawan berpindah ke wilayah Zamboanga, sebuah kota di Mindanao, dengan perahu pada Senin pagi. Bentrokan menyebar dari pantai ke Kota Rio Hondo Rio, pada jam sibuk.
MNLF telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan pemerintah pada tahun 1996 . Namun, beberapa pejuang mereka tetap aktif. Akibat insiden itu, banyak warga Rio Hondo melarikan diri.
Walikota setempat, Isabelle Climaco-Salazar, mengatakan kepada kantor berita AFP, bahwa sekitar 20 orang telah disandera. ”Target utama MNLF di kota Zamboanga, adalah untuk meningkatkan dukungan kemerdekaan mereka di balai kota,” ujarnya, seperti dikutip BBC.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Letkol Ramon Zagala, mengatakan, bahwa sekitar 800 tentara telah dikerahkan untuk mengamankan kota. ”Kami berusaha untuk mengendalikan mereka, sehingga hal ini tidak akan menyebar di tempat lain,” katanya.
Nur Misuari mendirikan MNLF, pada tahun 1971, dengan tujuan melawan pemerintah Filipina untuk sebuah negara Islam merdeka. Meskipun kelompok itu telah menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah pada tahun 1996, tetapi mereka terus terlibat dalam bentrokan di Filipina selatan. Banyak faksi di MNLF diketahui telah pecah.
(esn)