AS dilaporkan memata-matai kantor pusat PBB
Senin, 26 Agustus 2013 - 23:13 WIB
AS dilaporkan memata-matai kantor pusat PBB
A
A
A
Sindonews.com – Badan intelijen Amerika Serikat (AS), National Security Agency (NSA), dilaporkan telah menyadap sistem konferensi video di kantor pusat PBB, di New York. Demikian dilaporkan mingguan Jerman, Der Spiegel, Minggu (25/8/2013).
Der Spiegel mengutip dokumen-dokumen rahasia yang diungkapkan oleh mantan kontraktor intelijen AS, Edward Snowden, yang saat ini berada di Moskow, Rusia. Menurut dokumen itu, penyadapan dilakukan pada musim panas 2012.
“Langkah yang dilakukan NSA ini adalah peningkatan dramatis data pada konferensi video dan kemampuan untuk mendeskripsi data itu," kata sebuah dokumen yang dikutip Der Spiegel. Dokumen itu mencatat, bahwa jumlah komunikasi yang dideskripsi melonjak dari 12 menjadi 458 dalam waktu tiga pekan.
Der Spiegel juga melaporkan, bahwa badan intelijen AS memata-matai misi Uni Eropa, setelah misi itu pindah ke kedutaan baru di New York pada September lalu. Menurut dokumen yang dianalisis oleh Der Spiegel, NSA juga menjalankan program pemantauan yang mencakup lebih dari 80 kedutaan dan konsulat di seluruh dunia.
Program ini disebut "Layanan Koleksi Khusus" dan dioperasikan tanpa sepengetahuan negara tuan rumah, kata majalah itu. Dokumen NSA mendesak untuk menjaga keberadaan program sebagai rahasia, yang bisa berakibat pada rusaknya "hubungan dengan negara tuan rumah" jika rahasia itu bocor.
Der Spiegel mengutip dokumen-dokumen rahasia yang diungkapkan oleh mantan kontraktor intelijen AS, Edward Snowden, yang saat ini berada di Moskow, Rusia. Menurut dokumen itu, penyadapan dilakukan pada musim panas 2012.
“Langkah yang dilakukan NSA ini adalah peningkatan dramatis data pada konferensi video dan kemampuan untuk mendeskripsi data itu," kata sebuah dokumen yang dikutip Der Spiegel. Dokumen itu mencatat, bahwa jumlah komunikasi yang dideskripsi melonjak dari 12 menjadi 458 dalam waktu tiga pekan.
Der Spiegel juga melaporkan, bahwa badan intelijen AS memata-matai misi Uni Eropa, setelah misi itu pindah ke kedutaan baru di New York pada September lalu. Menurut dokumen yang dianalisis oleh Der Spiegel, NSA juga menjalankan program pemantauan yang mencakup lebih dari 80 kedutaan dan konsulat di seluruh dunia.
Program ini disebut "Layanan Koleksi Khusus" dan dioperasikan tanpa sepengetahuan negara tuan rumah, kata majalah itu. Dokumen NSA mendesak untuk menjaga keberadaan program sebagai rahasia, yang bisa berakibat pada rusaknya "hubungan dengan negara tuan rumah" jika rahasia itu bocor.
(esn)