Korsel desak Korut tuntaskan masalah zona industri Kaesong
Minggu, 04 Agustus 2013 - 19:52 WIB
Korsel desak Korut tuntaskan masalah zona industri Kaesong
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Unifikasi Korea Selatan (Korsel) lagi-lagi mendesak Korea Utara (Korut) untuk melanjutkan pembicaraan normalisasi operasi kawasan industri Kaesong. Permintaan itu kembali dilayangkan setelah Korut tidak kunjung merespok tawaran dialog Korsel yang sebelumnya.
"Jika Korut benar-benar ingin memecahkan masalan Kaesong dan menganggap masalah ini sebagai ujian bagi hubungan antara Korsel, maka Korut harus menunjukkan sikap yang tulus dan tidak hanya berdiam diri," ungkap seorang Juru Bicara Kementerian Reunifikasi Korsel dalam sebuah pernyataan, Minggu (4/8/2013).
"Orang Korsel telah mencapai batas kesabaran," imbuh Jubir itu.
Desakan itu datang sepekan setelah, Ryoo Kihl-Jae, Menteri Runifikasi Korsel yang menangani urusan lintas batas mengusulkan pembicaraan final dengan pemerintah Korut untuk memutuskan nasib zona industri gabungan Kaesong.
"Kami ingin jawaban yang jelas dan tidak ingin kejadian ini terulang kembali," ungkap Kihl-Jae. "Lagipula kami tidak punya pilihan, selain membuat keputusan serius untuk mencegah terjadianya kerusakan dengan sejumlah perusahaan Korsel di masa depan," terangnya.
Sebagai bukti keseriusan, Korsel mengajak Korut berunding. Korsel juga telah menyetujui rencana pengiriman bantuan kemanusiaan kepada Korut. Lima kelompok sipil diizinkan untuk mengirimkan obat-obatan, makanan, dan pakaian senilau USD 1,24 juta bagi anak-anak Korut.
Sejauh ini delegasi Korut dan Korsel telah enam kali berunding membahas masalah zona industri Kaesong, namun pada pertemuan terakhir perbedaan pendapat membuat perundiangan itu rusak dan tidak terselesaikan.
Hingga saat ini, opeasional 123 perusahaan di Korsel di zona industri Kaesong telah ditangguhkan selama lebih dari tiga bulan. Sementara itu, sebanyak 53 ribu pekerja Korsel di Kaesong juga telah kembali ke Korsel.
"Jika Korut benar-benar ingin memecahkan masalan Kaesong dan menganggap masalah ini sebagai ujian bagi hubungan antara Korsel, maka Korut harus menunjukkan sikap yang tulus dan tidak hanya berdiam diri," ungkap seorang Juru Bicara Kementerian Reunifikasi Korsel dalam sebuah pernyataan, Minggu (4/8/2013).
"Orang Korsel telah mencapai batas kesabaran," imbuh Jubir itu.
Desakan itu datang sepekan setelah, Ryoo Kihl-Jae, Menteri Runifikasi Korsel yang menangani urusan lintas batas mengusulkan pembicaraan final dengan pemerintah Korut untuk memutuskan nasib zona industri gabungan Kaesong.
"Kami ingin jawaban yang jelas dan tidak ingin kejadian ini terulang kembali," ungkap Kihl-Jae. "Lagipula kami tidak punya pilihan, selain membuat keputusan serius untuk mencegah terjadianya kerusakan dengan sejumlah perusahaan Korsel di masa depan," terangnya.
Sebagai bukti keseriusan, Korsel mengajak Korut berunding. Korsel juga telah menyetujui rencana pengiriman bantuan kemanusiaan kepada Korut. Lima kelompok sipil diizinkan untuk mengirimkan obat-obatan, makanan, dan pakaian senilau USD 1,24 juta bagi anak-anak Korut.
Sejauh ini delegasi Korut dan Korsel telah enam kali berunding membahas masalah zona industri Kaesong, namun pada pertemuan terakhir perbedaan pendapat membuat perundiangan itu rusak dan tidak terselesaikan.
Hingga saat ini, opeasional 123 perusahaan di Korsel di zona industri Kaesong telah ditangguhkan selama lebih dari tiga bulan. Sementara itu, sebanyak 53 ribu pekerja Korsel di Kaesong juga telah kembali ke Korsel.
(esn)