Ada puluhan agen CIA saat konsulat AS di Libya diserang
Jum'at, 02 Agustus 2013 - 15:28 WIB
Ada puluhan agen CIA saat konsulat AS di Libya diserang
A
A
A
Sindonews.com – Ada teka-teki baru yang belum terpecahkan di balik serangan di kantor Konsulat AS yang berada di Benghanzi, Libya, 11 September 2012 lalu. Yakni, saat serangan terjadi, ada lebih dari 20 agen CIA di sekitar kantor konsulat itu.
Serangan 11 September tahun lalu itu, menewaskan empat warga AS, termasuk Duta Besar Chris Stevens. Sebuah sumber, mengatakan kepada CNN, bahwa, saat insiden 11 September 2012, 35 orang Amerika, termasuk sekitar 21 agen CIA yang sebagian bekerja di kantor itu, dan sebagian lagi berkerja di kantor basis rahasia CIA.
Tujuh jam setelah serangan, CIA merilis lampiran data bangunan yang diserang, termasuk merilis dua orang yang tewas, yakni mantan anggota Navy SEAL. Yang jadi teka-teki, bagaimana para penyerang tahu tentang fasilitas rahasia CIA di kantor itu.
Sumber juga mengatakan, bahwa CIA terlibat dalam upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk menjaga rahasia agen mata-mata di Benghazi tidak bocor.
Untuk mencegah kebocoran, beberapa agen CIA yang terlibat dalam misi di Libya sedang diintimidasi dan diancam oleh agen yang berkepentingan. Beberapa di antaranya, sering diperiksa.
Kongres AS, khawatir tentang kurangnya informasi dan tekanan untuk membungkam agen CIA yang terlibat itu. ”Saya pikir itu adalah bentuk cover-up, dan saya pikir itu upaya untuk mendorong penyembunyian rahasia. Saya pikir, rakyat Amerika merasakan hal yang sama," kata politisi Partai Repubblik AS, Frank Wolf, Jumat (2/8/2013).
”Kita harus tahu orang-orang yang berada di tempat kejadian, bersaksi di bawah sumpah, dan mengungkap secara terbuka. Sebenarnya tidak ada masalah keamanan nasional yang terlibat, berkaitan dengan itu,” lanjut Wolf.
Serangan 11 September tahun lalu itu, menewaskan empat warga AS, termasuk Duta Besar Chris Stevens. Sebuah sumber, mengatakan kepada CNN, bahwa, saat insiden 11 September 2012, 35 orang Amerika, termasuk sekitar 21 agen CIA yang sebagian bekerja di kantor itu, dan sebagian lagi berkerja di kantor basis rahasia CIA.
Tujuh jam setelah serangan, CIA merilis lampiran data bangunan yang diserang, termasuk merilis dua orang yang tewas, yakni mantan anggota Navy SEAL. Yang jadi teka-teki, bagaimana para penyerang tahu tentang fasilitas rahasia CIA di kantor itu.
Sumber juga mengatakan, bahwa CIA terlibat dalam upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk menjaga rahasia agen mata-mata di Benghazi tidak bocor.
Untuk mencegah kebocoran, beberapa agen CIA yang terlibat dalam misi di Libya sedang diintimidasi dan diancam oleh agen yang berkepentingan. Beberapa di antaranya, sering diperiksa.
Kongres AS, khawatir tentang kurangnya informasi dan tekanan untuk membungkam agen CIA yang terlibat itu. ”Saya pikir itu adalah bentuk cover-up, dan saya pikir itu upaya untuk mendorong penyembunyian rahasia. Saya pikir, rakyat Amerika merasakan hal yang sama," kata politisi Partai Repubblik AS, Frank Wolf, Jumat (2/8/2013).
”Kita harus tahu orang-orang yang berada di tempat kejadian, bersaksi di bawah sumpah, dan mengungkap secara terbuka. Sebenarnya tidak ada masalah keamanan nasional yang terlibat, berkaitan dengan itu,” lanjut Wolf.
(esn)