Warga Perancis diyakini telah dibunuh al-Qaeda di Mali
Senin, 15 Juli 2013 - 19:03 WIB
Warga Perancis diyakini telah dibunuh al-Qaeda di Mali
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Perancis, Francois Hollande pada Senin (15/7/2013), meyakini jasad yang ditemukan di Mali, adalah warga Perancis yang disandera dan dibunuh al-Qaeda. Hollande bersumpah, pelakunya akan mendapat balasan hukum yang setimpal.
Philippe Verdon, warga Perancis yang diculik kelompok al-Qaeda Maghreb Islam (AQIM) dari sebuah hotel di timur laut Mali pada November 2011 lalu, diyakini sudah meninggal. Terlebih, penculiknya mengumumkan pada Maret 2013, bahwa pria 53 tahun tersebut telah dieksekusi, karena intervensi militer Perancis di Mali.
”Kami menemukan mayat 10 hari yang lalu di Mali utara, kita melakukan segala kemungkinan untuk mengkonfirmasi bahwa ini bisa tubuh Philippe Verdon,” kata Hollande, di Kedutaan Mali di Paris.
”Kami akan menentukan penyebab kematian dan (pelakunya) tidak akan luput dari hukuman,” kata Hollande lagi. AQIM saat ini menyandera delapan orang Eropa, termasuk lima warga negara Perancis.
Militer Perancis melakukan intervensi di Mali pada Januari, untuk membantu militer Mali yang lemah dalam menghadapi gerilyawan yang telah merebut kekuasaan di wilayah utara negara itu.
Philippe Verdon, warga Perancis yang diculik kelompok al-Qaeda Maghreb Islam (AQIM) dari sebuah hotel di timur laut Mali pada November 2011 lalu, diyakini sudah meninggal. Terlebih, penculiknya mengumumkan pada Maret 2013, bahwa pria 53 tahun tersebut telah dieksekusi, karena intervensi militer Perancis di Mali.
”Kami menemukan mayat 10 hari yang lalu di Mali utara, kita melakukan segala kemungkinan untuk mengkonfirmasi bahwa ini bisa tubuh Philippe Verdon,” kata Hollande, di Kedutaan Mali di Paris.
”Kami akan menentukan penyebab kematian dan (pelakunya) tidak akan luput dari hukuman,” kata Hollande lagi. AQIM saat ini menyandera delapan orang Eropa, termasuk lima warga negara Perancis.
Militer Perancis melakukan intervensi di Mali pada Januari, untuk membantu militer Mali yang lemah dalam menghadapi gerilyawan yang telah merebut kekuasaan di wilayah utara negara itu.
(esn)