AS: Pembicaraan damai di Afghanistan tergantung Taliban
Selasa, 25 Juni 2013 - 03:32 WIB
AS: Pembicaraan damai di Afghanistan tergantung Taliban
A
A
A
Sindonews.com – Kemajuan dalam pembicaraan perdamaian di Afghanistan terletak sepenuhnya pada kemungkinan, apakah Taliban bersedia untuk datang ke meja perundingan. Demikian dikatakan utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk Afghanistan dan Pakistan, James Dobbins, Senin (24/6/2013).
Dobbins tiba di Kabul pada hari Senin untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, setelah sebelumnya menghabiskan beberapa hari di Qatar. Ia menghadapi kebuntuan untuk mengatur negosiasi guna mengakhiri perang 12 tahun antara pemberontak Taliban dan pasukan internasional dan Afghanistan.
Ketika ditanya apakah Taliban telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai, Dobbins mengatakan, bahwa hal itu masih belum jelas. "Saya benar-benar tidak tahu. Kami menunggu untuk mendengar hal itu," katanya.
"Jelas, mereka cukup serius untuk sampai ke titik yang kita inginkan. Kami telah berbicara secara langsung selama beberapa bulan, dan secara tidak langsung selama satu tahun setengah," kata Dobbins, seperti dikutip dari Reuters.
"Jadi, itu tidak tampak seperti sebuah upaya yang sama sekali palsu di bagian mereka. Tapi, apakah mereka siap untuk berpartisipasi, saya tidak tahu. Kita harus menunggu dan melihat," lanjutnya.
Pemerintah Afghanistan sendiri telah menyatakan rasa marah mereka akibat pembukaan kantor Taliban di Doha, Qatar. Terlebih, Taliban menggunakan nama “Emirat Islam Afghanistan" dan mengibarkan bendera sendiri.
Dobbins tiba di Kabul pada hari Senin untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, setelah sebelumnya menghabiskan beberapa hari di Qatar. Ia menghadapi kebuntuan untuk mengatur negosiasi guna mengakhiri perang 12 tahun antara pemberontak Taliban dan pasukan internasional dan Afghanistan.
Ketika ditanya apakah Taliban telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai, Dobbins mengatakan, bahwa hal itu masih belum jelas. "Saya benar-benar tidak tahu. Kami menunggu untuk mendengar hal itu," katanya.
"Jelas, mereka cukup serius untuk sampai ke titik yang kita inginkan. Kami telah berbicara secara langsung selama beberapa bulan, dan secara tidak langsung selama satu tahun setengah," kata Dobbins, seperti dikutip dari Reuters.
"Jadi, itu tidak tampak seperti sebuah upaya yang sama sekali palsu di bagian mereka. Tapi, apakah mereka siap untuk berpartisipasi, saya tidak tahu. Kita harus menunggu dan melihat," lanjutnya.
Pemerintah Afghanistan sendiri telah menyatakan rasa marah mereka akibat pembukaan kantor Taliban di Doha, Qatar. Terlebih, Taliban menggunakan nama “Emirat Islam Afghanistan" dan mengibarkan bendera sendiri.
(esn)