Korut sebut tawaran dialog Korsel sebagai taktik licik
Senin, 15 April 2013 - 07:00 WIB
Korut sebut tawaran dialog Korsel sebagai taktik licik
A
A
A
Sindonews.com – Korea Utara (Korut) mengecam tawaran dialog yang dilontarkan Korea Selatan (Korsel). Seperti dilaporkan kantor berita Yonhap, Minggu (14/4/2013), Korut menyebut tawaran itu sebagai taktik licik.
“Tawaran dialog adalah taktik licik untuk menyembunyikan kesalahan kriminal mereka yang mendorong Kompleks Industri Kaesong ke dalam krisis, menyesatkan opini publik di dalam dan luar, serta menyembunyikan kebijakan konfrontasi," kata Juru Bicara Komite Korut untuk Reunifikasi Damai Korea dalam sebuah wawancara dengan kantor berita resmi KCNA.
Juru Bicara itu juga menyebut, tawaran dialog Korsel sebagai "tindakan putus asa" dan "omong kosong,". Ia mengecam Korsel yang tidak pernah menyatakan permintaan maaf apapun untuk latihan militer bersama antara Korsel dan Amerika Serikat yang telah membuat marah Korut.
Hingga kini, tercatat sudah dua kali Korsel mengajukan tawaran untuk berdialog di meja perundingan dengan Korut. "Kami secara efektif mengusulkan dialog (pada Korut). Presiden juga menyebutkan pernyataan dengan maksud yang sama, kemarin malam," kata Kim Hyung-seok, Juru Bicara Kementerian Unifikasi pada wartawan di konferensi pers, Jumat (12/4/2013).
Pada Kamis (11/4/2013), Menteri Unifikasi Korsel, Ryoo Kihl-jae mengeluarkan pernyataan resmi, yang isinya menyerukan Pyongyang untuk "datang ke meja dialog" guna membahas cara-cara normalisasi operasi kawasan industri bersama Kaseong yang terletak di kawasan perbatasan kedua negara.
Pada hari yang sama, Presiden Korsel, Park Geun-hye mengatakan dalam pertemuan makan malam dengan anggota parlemen partai yang berkuasa, bahwa pemerintahnya akan mendorong dialog dengan Korsel.
Saat ini, situasi di Semenanjung Korea memang kian memanas. Korut telah beberapa kali mengeluarkan ancaman terhadap Korsel dan AS, setelah negara komunis itu dijatuhi sanksi baru oleh PBB. Sanksi baru ini dijatuhkan, karena Korut kembali melakukan uji coba nuklir pada 12 Februari silam.
Selain menebar ancaman, Korut juga sudah mengeluarkan peringatan bagi staf diplomatik dan perwakilan asing di Pyongyang, serta peringatan bagi warga asing yang berada di Korsel. Peringatan itu berisi imbauan agar warga asing meninggalkan Korsel, karena perang bisa meletus setiap saat. Sementara staf diplomatik negara-negara sing di Pyongyang, di minta untuk mempertimbangkan evakuasi.
“Tawaran dialog adalah taktik licik untuk menyembunyikan kesalahan kriminal mereka yang mendorong Kompleks Industri Kaesong ke dalam krisis, menyesatkan opini publik di dalam dan luar, serta menyembunyikan kebijakan konfrontasi," kata Juru Bicara Komite Korut untuk Reunifikasi Damai Korea dalam sebuah wawancara dengan kantor berita resmi KCNA.
Juru Bicara itu juga menyebut, tawaran dialog Korsel sebagai "tindakan putus asa" dan "omong kosong,". Ia mengecam Korsel yang tidak pernah menyatakan permintaan maaf apapun untuk latihan militer bersama antara Korsel dan Amerika Serikat yang telah membuat marah Korut.
Hingga kini, tercatat sudah dua kali Korsel mengajukan tawaran untuk berdialog di meja perundingan dengan Korut. "Kami secara efektif mengusulkan dialog (pada Korut). Presiden juga menyebutkan pernyataan dengan maksud yang sama, kemarin malam," kata Kim Hyung-seok, Juru Bicara Kementerian Unifikasi pada wartawan di konferensi pers, Jumat (12/4/2013).
Pada Kamis (11/4/2013), Menteri Unifikasi Korsel, Ryoo Kihl-jae mengeluarkan pernyataan resmi, yang isinya menyerukan Pyongyang untuk "datang ke meja dialog" guna membahas cara-cara normalisasi operasi kawasan industri bersama Kaseong yang terletak di kawasan perbatasan kedua negara.
Pada hari yang sama, Presiden Korsel, Park Geun-hye mengatakan dalam pertemuan makan malam dengan anggota parlemen partai yang berkuasa, bahwa pemerintahnya akan mendorong dialog dengan Korsel.
Saat ini, situasi di Semenanjung Korea memang kian memanas. Korut telah beberapa kali mengeluarkan ancaman terhadap Korsel dan AS, setelah negara komunis itu dijatuhi sanksi baru oleh PBB. Sanksi baru ini dijatuhkan, karena Korut kembali melakukan uji coba nuklir pada 12 Februari silam.
Selain menebar ancaman, Korut juga sudah mengeluarkan peringatan bagi staf diplomatik dan perwakilan asing di Pyongyang, serta peringatan bagi warga asing yang berada di Korsel. Peringatan itu berisi imbauan agar warga asing meninggalkan Korsel, karena perang bisa meletus setiap saat. Sementara staf diplomatik negara-negara sing di Pyongyang, di minta untuk mempertimbangkan evakuasi.
(esn)