Assad tuduh Israel-Turki sepakat menentang Suriah
Minggu, 07 April 2013 - 19:50 WIB
Assad tuduh Israel-Turki sepakat menentang Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan diterimanya permintaan damai Israel kepada Turki atas insiden kapal Mavi Marmara mencerminkan bahwa kedua belah pihak sepakat menentang Suriah. Tudingan tersebut disampaikan disela-sela wawancara dengan Tv, Turkish Ulusal Kanal, Jumat (7/4/2013).
Assad berdalih, diterimanya permintaan maaf Israel oleh Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menandakan bahwa Erdogan dan Israel telah sepakat untuk merusak situasi di Suriah.
"Yang menjadi pertanyaan mengapa Perdana Menteri Binyamin Netanyahu tidak minta maaf sejak dulu. Apa yang telah berubah? Erdogan dan Netayahu tetaplah sama, yang berubah adalah situasi di Suriah," ungkap Assad.
Assad memperingatkan, jika sampai kelompok pemberontak Suriah berhasil mengalahkan pasukan militer dan mengambil alih kekuasaan pemerintah, yang terjadi adalah terjadinya instabilitas di Timur Tengah selama beberapa dekade ke depan.
"Jika kerusuhan di Suriah mengarah pada perpecahan negara atau pasukan teroris mengambil alih situasi, dipastikan akan merembet ke negara tentangga dan menimbulkan efek dunia di wilayah Timur Tengah dan wilayah sekitarnya," terang Assad.
"Kekacauan yang menyebar ke wilayah timur, barat, utara dan selatan hanya akan menciptakan instabilitas selama beberapa tahun atau beberapa dekade mendatang," imbuh Assad.
Assad mengambarkan, pihak lawan telah menggunakan slogan sektarian sebagai esensi dari pertempuran yang terjadi antara sebuah orang-orang dan beberapa negara yang ingin membawa rakyat Suriah kembali ke zaman sejarah. Dan mereka juga berniat merampas kesejahteraan masa depan rakyat Suriah. Ungkapan tersebut merujuk kepada negara teluk yang mayoritas penduduknya adalah pengikut Islam Sunni, yakni Arab Saudi dan Qatar.
"Erdogan merekrut pemberontak dengan dibiayai oleh Qatar untuk berperang di Suriah," ungkap Assad sambil memperingatkan mantan temanya bahwa pertumpahan darah yang terjadi di Suriah tidak dapat diakhiri dengan mudah. "Lagi pula, tidak ada satu kata jujur yang diungkapkan oleh Erdogan sejak krisis Suriah pecah," imbuh Assad.
Assad berdalih, diterimanya permintaan maaf Israel oleh Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menandakan bahwa Erdogan dan Israel telah sepakat untuk merusak situasi di Suriah.
"Yang menjadi pertanyaan mengapa Perdana Menteri Binyamin Netanyahu tidak minta maaf sejak dulu. Apa yang telah berubah? Erdogan dan Netayahu tetaplah sama, yang berubah adalah situasi di Suriah," ungkap Assad.
Assad memperingatkan, jika sampai kelompok pemberontak Suriah berhasil mengalahkan pasukan militer dan mengambil alih kekuasaan pemerintah, yang terjadi adalah terjadinya instabilitas di Timur Tengah selama beberapa dekade ke depan.
"Jika kerusuhan di Suriah mengarah pada perpecahan negara atau pasukan teroris mengambil alih situasi, dipastikan akan merembet ke negara tentangga dan menimbulkan efek dunia di wilayah Timur Tengah dan wilayah sekitarnya," terang Assad.
"Kekacauan yang menyebar ke wilayah timur, barat, utara dan selatan hanya akan menciptakan instabilitas selama beberapa tahun atau beberapa dekade mendatang," imbuh Assad.
Assad mengambarkan, pihak lawan telah menggunakan slogan sektarian sebagai esensi dari pertempuran yang terjadi antara sebuah orang-orang dan beberapa negara yang ingin membawa rakyat Suriah kembali ke zaman sejarah. Dan mereka juga berniat merampas kesejahteraan masa depan rakyat Suriah. Ungkapan tersebut merujuk kepada negara teluk yang mayoritas penduduknya adalah pengikut Islam Sunni, yakni Arab Saudi dan Qatar.
"Erdogan merekrut pemberontak dengan dibiayai oleh Qatar untuk berperang di Suriah," ungkap Assad sambil memperingatkan mantan temanya bahwa pertumpahan darah yang terjadi di Suriah tidak dapat diakhiri dengan mudah. "Lagi pula, tidak ada satu kata jujur yang diungkapkan oleh Erdogan sejak krisis Suriah pecah," imbuh Assad.
(esn)