HRW: Polisi Myanmar gagal hentikan pembunuhan & pembakaran
Senin, 01 April 2013 - 20:24 WIB
HRW: Polisi Myanmar gagal hentikan pembunuhan & pembakaran
A
A
A
Sindonews.com – Organisasi pengamat Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbasis di New York, Human Right Watch (HRW), mendesak pemerintah Myanmar untuk menyelidiki kegagalan polisi negara itu dalam menghentikan aksi pembakaran dan pembunuhan dalam bentrokan antara umat Budha dan Muslim yang terjadi sepekan yang lalu.
HRW mengatakan, hasil pencitraan satelit menunjukan, lebih dari 800 bangunan di pusat kota Meiktila hancur total. Sementara beberapa rumah dan bangunan juga terlihat hancur sebagian di sekitar kota itu.
"Pemerintah Myanmar harus mengusut tuntas siapa pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas aksi kekerasan yang terjadi di Meiktila dan mencari tahu mengapa polisi Myanmar gagal menghentikan aksi pembakaran dan aksi saling bunuh," ungkap Brad Adams, Direktur HRW Asia.
Sementara itu, Phil Robertson, Wakil Direktur HRW Asia mengatakan, umat Muslim adalah pihak yang paling terpukul dalam kerusuhan di Meiktila. Menurut PBB, bentrok tersebut telah menewaskan 43 orang dan menghancurkan 1.300 rumah dan sejumlah bangunan lainnya.
"Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari berbagai pihak di Myanmar, polisi membiarkan aksi kerusuhan tersebut dan tidak ikut campur menyelesaikan krisis selama beberapa hari," jelas Robertson.
Kerusuhan di Meikhtila yang terletak 540 km sebelah utara Yangon itu bermula dari perselisihan antara beberapa umat Budha dengan seorang Muslim pemilik toko emas. “Perselisihan itu meningkat menjadi kerusuhan yang melibatkan ratusan orang,” kata polisi Myanmar.
HRW mengatakan, hasil pencitraan satelit menunjukan, lebih dari 800 bangunan di pusat kota Meiktila hancur total. Sementara beberapa rumah dan bangunan juga terlihat hancur sebagian di sekitar kota itu.
"Pemerintah Myanmar harus mengusut tuntas siapa pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas aksi kekerasan yang terjadi di Meiktila dan mencari tahu mengapa polisi Myanmar gagal menghentikan aksi pembakaran dan aksi saling bunuh," ungkap Brad Adams, Direktur HRW Asia.
Sementara itu, Phil Robertson, Wakil Direktur HRW Asia mengatakan, umat Muslim adalah pihak yang paling terpukul dalam kerusuhan di Meiktila. Menurut PBB, bentrok tersebut telah menewaskan 43 orang dan menghancurkan 1.300 rumah dan sejumlah bangunan lainnya.
"Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari berbagai pihak di Myanmar, polisi membiarkan aksi kerusuhan tersebut dan tidak ikut campur menyelesaikan krisis selama beberapa hari," jelas Robertson.
Kerusuhan di Meikhtila yang terletak 540 km sebelah utara Yangon itu bermula dari perselisihan antara beberapa umat Budha dengan seorang Muslim pemilik toko emas. “Perselisihan itu meningkat menjadi kerusuhan yang melibatkan ratusan orang,” kata polisi Myanmar.
(esn)