Presiden Afghanistan tuduh AS bersekongkol dengan Taliban

Senin, 11 Maret 2013 - 20:42 WIB
Presiden Afghanistan...
Presiden Afghanistan tuduh AS bersekongkol dengan Taliban
A A A
Sindonews.com – Presiden Afghanistan Hamid Karzai menuduh Amerika Serikat (AS) telah bersekongkol dengan Taliban untuk membenarkan kehadiran AS di tanah Afghanistan. Tudingan ini merujuk pada bom kembar yang terjadi saat kunjungan Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel ke Afghanistan.

"Bom-bom yang diledakkan di Kabul dan Khost tidak menunjukkan kekuatan dari mereka yang melayani Amerika," kata Karzai dalam pidato yang disiarkan televisi, mengacu pada dua ledakan bunuh diri yang menyebabkan 19 orang tewas.

Akibat serangan bom ini, konferensi pers Karzai dan Hagel yang semula akan dilakukan pada Minggu 10 Maret, akhirnya dibatalkan. “Bom bunuh diri dan serangan gerilyawan memungkinkan pasukan militer internasional untuk tetap tersebar di Afghanistan,” ujar Karzai, Senin (11/3/2013), seperti dikutip dari Global Post.

"Ini adalah slogan mereka untuk 2014 dan menakut-nakuti kita, bahwa jika AS tidak ada di sini (Afghanistan), maka rakyat kami akan binasa,” lanjut Karzai. Sebelumnya, Karzai telah sering mengecam AS dan marah karena penundaan baru untuk rencana pengalihan kendali penjara Bagram, dari AS ke Pemerintah Afghanistan.

Karzai juga bersikeras, bahwa pemerintahnya harus terlibat dalam setiap kontak antara AS dan Taliban. Menurut Waheed Wafa, Direktur Pusat penelitian Afghanistan di Kabul University, pernyataan Karzai itu bukanlah ledakan irasional, tapi pesan untuk publik di dalam negeri.

"Karzai berusaha untuk meyakinkan Taliban untk melakukan pembicaraan damai di bawah pemerintahannya dan membiarkan AS pergi dari tanah Afghanistan," kata Wafa.

Sementara Jenderal Joseph Dunford, komandan 100 ribu pasukan NATO di Afghanistan mengatakan, tuduhan Karzai itu tak berdasar. "Kami tidak punya alasan untuk berkolusi dengan Taliban, kami tidak memiliki alasan untuk mendukung ketidakstabilan di Afghanistan," katanya.

"Kami sudah berjuang terlalu keras selama 12 tahun, kami telah menumpahkan darah terlalu banyak selama 12 tahun terakhir. Kami telah melakukan terlalu banyak untuk membantu pasukan keamanan Afghanistan tumbuh selama 12 tahun terakhir, kami tidak pernah berpikir bahwa kekerasan dan ketidakstabilan akan untuk keuntungan kita," lanjutnya.
(esn)
Berita Terkait
Negara yang Pernah Diinvasi...
Negara yang Pernah Diinvasi Amerika Serikat
Iran: Pengusiran Amerika...
Iran: Pengusiran Amerika Serikat dari Afghanistan 'Memalukan'
Taliban dan Gagalnya...
Taliban dan Gagalnya Amerika Serikat Membangun Negara Boneka di Afghanistan
Senator Republik: Amerika...
Senator Republik: Amerika Serikat Akan Kembali ke Afghanistan
Viral! Promo Undang...
Viral! Promo Undang Warga Amerika Serikat Berlibur ke Afghanistan
Tentara Seksi Amerika...
Tentara Seksi Amerika Serikat Ini Tewas Bunuh Diri
Berita Terkini
Inggris Akan Larang...
Inggris Akan Larang Penggunaan Media Sosial saat Malam Hari
11 menit yang lalu
Ilmuwan AS Ini Pelajari...
Ilmuwan AS Ini Pelajari Uji Coba Nuklir Korut, tapi Ditangkap China karena Melakukan Spionase
1 jam yang lalu
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
2 jam yang lalu
Enggan Kirim Pasukan...
Enggan Kirim Pasukan AS untuk Invasi Darat ke Iran, Trump: Orang Lain yang Akan Melakukannya
3 jam yang lalu
Iran Sedang Mempersiapkan...
Iran Sedang Mempersiapkan Ujian Besar terhadap Blokade AS di Selat Hormuz
4 jam yang lalu
Trump Desak Netanyahu...
Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon
5 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved