April, Mubarak kembali jalani sidang pembunuhan

Senin, 04 Maret 2013 - 17:32 WIB
April, Mubarak kembali...
April, Mubarak kembali jalani sidang pembunuhan
A A A
Sindonews.com - Persidangan ulang mantan presiden Mesir Husni Mubarak bakal digelar pada 13 April mendatang. Bersamaan dengan Mubarak, mantan Menteri Dalam Negeri Habib al-Adly dan tujuh pimpinan keamanan juga bakal menjalani persidangan ulang atas perintah Pengadilan Kasasi, pengadilan banding tertinggi di Mesir.

Mereka menjalani persidangan kasus pembunuhan terhadap ratusan demonstran pada kerusuhan 2011 lalu. ”Presiden Pengadilan Banding Kairo Samir Abul Maati telah memutuskan untuk menggelar persidangan pada 13 April mendatang,” demikian laporan kantor berita Mesir, MENA.

Putra Mubarak, Alaa dan Gamal, juga bakal disidang ulang. Keduanya dikenal sebagai simbol kekuasaan dan kekayaan di Mesir. Mereka diduga terlibat dalam skandal korupsi.

Hakim Pengadilan Kasasi Ahmed Ali Abdelrahman telah sepakat pada Januari silam atas pengadilan ulang terhadap Mubarak, 84, yang mengajukan banding atas vonis hukuman seumur hidup karena dinyatakan bersalah.

Dengan banding tersebut, vonis penjara seumur hidup itu dibatalkan. Pada Juni 2012 lalu, hakim pengadilan di Kairo menyatakan Mubarak bersalah karena tidak mencegah penembakan terhadap 800 pengunjuk rasa pada demonstrasi yang akhirnya memaksa Mubarak mundur dari kekuasaan.

Sementara untuk dakwaan lain yang lebih serius, yaitu memerintahkan aparat keamanan membunuh demonstran, hakim menyatakan tidak terbukti bersalah. Saat ini Mubarak sedang menjalani perawatan di rumah sakit militer. Pada Januari lalu, Mubarak dilaporkan menderita patah tulang rusuk dan adanya cairan di paru-paru.

Mubarak juga diduga bakal dijadikan tersangka untuk kasus tuduhan korupsi karena menerima hadiah senilai USD1 juta dari kantor berita Al-Ahram. Sebelum jatuh dari kursi kepresidenan, Mubarak merupakan orang yang sangat berkuasa di Mesir yang memegang kekuasaan selama 30 tahun. Dia dipaksa mundur melalui gerakan aksi protes rakyat pada Februari 2011 lalu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat(AS) John Kerry kemarin bertemu dengan Presiden Mesir Muhammad Mursi. Kerry menegaskan perundingan dengan Mursi bukan sebagai bentuk intervensi.

“Saya ada di sini untuk mendengarkan,” terangnya dikutip AFP. Kerry menyerukan berbagai faksi yang terpecah di Mesir agar mencapai satu konsensus untuk perbaikan ekonomi. Dia juga sebelumnya bertemu dengan panglima militer Mesir, Abdel Fatah al-Sisi.

”Perlu adanya keinginan dari semua pihak untuk melaksanakan kompromi bermakna dalam berbagai isu demi kepentingan rakyat Mesir,” kata Kerry saat menggelar jumpa pers pada Sabtu (2/3) lalu bersama Menlu Mesir Mohammed Kamel Amr. ”Tantangan ekonomi sangat penting bagi rakyat Mesir untuk tetap bersama.”
(esn)
Berita Terkait
Tim Arkeolog Mesir Temukan...
Tim Arkeolog Mesir Temukan Sarkofagus Kayu Kuno di Situs Saqqara
Berfoto di Piramida...
Berfoto di Piramida Kuno, Model Asal Mesir Ditangkap
Melihat Koleksi Museum...
Melihat Koleksi Museum Nasional Peradaban Mesir di Kairo
6 Fakta tentang Alexandria,...
6 Fakta tentang Alexandria, dari Alexander Agung hingga Banyak Mitos
Pesta Kemenangan Rakyat...
Pesta Kemenangan Rakyat Senegal Juarai Piala Afrika 2021
67 Juta Warga Mesir...
67 Juta Warga Mesir Berhak Berikan Suaranya dalam Pemilihan Presiden Mesir
Berita Terkini
Mossad Pasok Milisi...
Mossad Pasok Milisi Kurdi dengan Senjata yang Disita dari Hamas dan Hizbullah
2 jam yang lalu
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
3 jam yang lalu
Drone Terjang Galilea...
Drone Terjang Galilea Barat Beberapa Menit setelah Netanyahu Pergi
4 jam yang lalu
Iran Sebut Pangkalan...
Iran Sebut Pangkalan AS Target Sah dan Sumber Kekacauan Timur Tengah
5 jam yang lalu
Mayoritas Penduduk di...
Mayoritas Penduduk di 36 Negara Anggap Israel Tidak Baik
6 jam yang lalu
Iran Berupaya Pungut...
Iran Berupaya Pungut Biaya Layanan, Bukan Tol untuk Lintasi Selat Hormuz
7 jam yang lalu
Infografis
Donald Trump Kembali...
Donald Trump Kembali Memperpanjang Batas Waktu Penjualan TikTok
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved