Jadwal pemilu Mesir diubah, oposisi serukan boikot
Senin, 25 Februari 2013 - 20:32 WIB
Jadwal pemilu Mesir diubah, oposisi serukan boikot
A
A
A
Sindonews.com – Pemimpin oposisi Mesir Mohamed ElBaradei menyerukan untuk memboikot pemilihan umum (pemilu) parlemen, menyusul keputusan Presiden Mesir Mohamed Morsi mengubah jadwal pemilu.
”Saya menyerukan untuk memboikot pemilihan parlemen pada 2010 karena alasan demokrasi palsu. Hari ini saya ulangi seruan boikot ini.Saya tidak akan menjadi bagian dari tindakan penipuan,” tulis pemenang Nobel Perdamaian dan mantan Kepala Badan Pengawas Atom PBB melalui akun Twitter, seperti dikutip AFP.
ElBaradei curiga akan ada kecurangan dalam pemilu seperti pada pemilu 2010, di bawah Presiden Mesir Husni Mubarak yang telah digulingkan.
Mantan Menteri Luar Negeri Amr Mussa dan sejumlah pemimpin lain yang tergabung dalam Front Keselamatan Nasional (NSF) menyatakan bahwa banyak anggota blok oposisi yang cenderung untuk memboikot pemilu parlemen.
”Ada kelompok besar yang ingin memboikot, namun belum dibahas dan belum ada keputusan yang diambil,” kata Mussa kepada AFP. Mulanya pemilu dijadwalkan digelar pada 27 April mendatang, namun saat itu bertepatan dengan hari libur Paskah sehingga banyak protes dari penganut Kristen. Mursi kemudian meresponsnya dengan mengubah jadwal pemilu.
Pastor Rafiq Greish,juru bicara Gereja Katolik (Koptik) di Mesir, mengatakan, pihaknya telah berbicara dengan Mursi dan menerima penjadwalan ulang untuk putaran pertama pemilu. Jadwal terbaru untuk pemilu tahap pertama akan digelar pada 22-23 April, bukan 27-28 sesuai jadwal semula. Pemilu ini berlangsung di lima provinsi, termasuk Kairo.Sedangkan putaran kedua akan berlangsung pada 29-30 Mei, bukan 4-5 Mei.
Akibat dari perubahan jadwal ini, sidang parlemen akan digelar pada 2 Juli, bukan 6 Juli. Sementara itu, para pemimpin NSF, sebuah aliansi yang menyatukan kelompok liberal dan sekuler, sebelumnya mengusulkan penundaan suara. Namun, wakil dari Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP) milik Ikhwanul Muslimin yang memenangkan 43% kursi di majelis rendah, majelis rakyat, dan 59% dari kursi di Dewan Syura, Issam al-Arian justru mengutuk seruan ElBaradei.
”Melarikan diri dari pemilu seperti menganggap kekuasaan eksekutif tanpa mandat demokrasi. Kami tidak pernah atau belum mengetahui mereka menghadapi pemilu yang serius,” kata Arian, dikutip BBC.
Dia menambahkan,pemungutan suara akan berlangsung di bawah peradilan lengkap dan dipantau warga sipil Mesir, asing, dan kelompok penggiat hak asasi manusia. Pemilu digelar hanya beberapa pekan setelah lebih dari 70 orang tewas dalam bentrokan pasukan keamanan dan pendukung oposisi. Aksi protes digelar di seluruh negeri untuk memperingati tahun kedua dari revolusi Mubarak.
”Saya menyerukan untuk memboikot pemilihan parlemen pada 2010 karena alasan demokrasi palsu. Hari ini saya ulangi seruan boikot ini.Saya tidak akan menjadi bagian dari tindakan penipuan,” tulis pemenang Nobel Perdamaian dan mantan Kepala Badan Pengawas Atom PBB melalui akun Twitter, seperti dikutip AFP.
ElBaradei curiga akan ada kecurangan dalam pemilu seperti pada pemilu 2010, di bawah Presiden Mesir Husni Mubarak yang telah digulingkan.
Mantan Menteri Luar Negeri Amr Mussa dan sejumlah pemimpin lain yang tergabung dalam Front Keselamatan Nasional (NSF) menyatakan bahwa banyak anggota blok oposisi yang cenderung untuk memboikot pemilu parlemen.
”Ada kelompok besar yang ingin memboikot, namun belum dibahas dan belum ada keputusan yang diambil,” kata Mussa kepada AFP. Mulanya pemilu dijadwalkan digelar pada 27 April mendatang, namun saat itu bertepatan dengan hari libur Paskah sehingga banyak protes dari penganut Kristen. Mursi kemudian meresponsnya dengan mengubah jadwal pemilu.
Pastor Rafiq Greish,juru bicara Gereja Katolik (Koptik) di Mesir, mengatakan, pihaknya telah berbicara dengan Mursi dan menerima penjadwalan ulang untuk putaran pertama pemilu. Jadwal terbaru untuk pemilu tahap pertama akan digelar pada 22-23 April, bukan 27-28 sesuai jadwal semula. Pemilu ini berlangsung di lima provinsi, termasuk Kairo.Sedangkan putaran kedua akan berlangsung pada 29-30 Mei, bukan 4-5 Mei.
Akibat dari perubahan jadwal ini, sidang parlemen akan digelar pada 2 Juli, bukan 6 Juli. Sementara itu, para pemimpin NSF, sebuah aliansi yang menyatukan kelompok liberal dan sekuler, sebelumnya mengusulkan penundaan suara. Namun, wakil dari Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP) milik Ikhwanul Muslimin yang memenangkan 43% kursi di majelis rendah, majelis rakyat, dan 59% dari kursi di Dewan Syura, Issam al-Arian justru mengutuk seruan ElBaradei.
”Melarikan diri dari pemilu seperti menganggap kekuasaan eksekutif tanpa mandat demokrasi. Kami tidak pernah atau belum mengetahui mereka menghadapi pemilu yang serius,” kata Arian, dikutip BBC.
Dia menambahkan,pemungutan suara akan berlangsung di bawah peradilan lengkap dan dipantau warga sipil Mesir, asing, dan kelompok penggiat hak asasi manusia. Pemilu digelar hanya beberapa pekan setelah lebih dari 70 orang tewas dalam bentrokan pasukan keamanan dan pendukung oposisi. Aksi protes digelar di seluruh negeri untuk memperingati tahun kedua dari revolusi Mubarak.
(esn)