300 ribu warga Filipina masih belum memiliki tempat tinggal
Jum'at, 21 Desember 2012 - 22:54 WIB
300 ribu warga Filipina masih belum memiliki tempat tinggal
A
A
A
Sindonews.com – Pasca serangan topan Bopha yang melanda Filipina pada awal pekan ini, sekitar 300 ribu warga Filipina masih belum memiliki tempat tingal. Demikian pernyataan yang dikeluarkan Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) dan Bulan Sabit Merah, Jumat (21/12/2012).
"Situasi ini benar-benar membuat putus asa," kata Gwendolyn Pang, Sekjen Palang Merah Filipina. “Begitu banyak orang yang hanya memiliki sangat sedikit harta benda sebelum topan melanda, kini tak memiliki apa-apa,” lanjut Pang, seperti dikutip dari Rappler.
IFRC mengatakan, bantuan kemanusiaan sangat dibutuhkan oleh ratusan ribu warga Filipina yang terkena dampak topan Bopha. "Beberapa pekan ke depan, kita harus memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari masyarakat, seperti makanan dan air. Tapi, mereka juga membutuhkan bantuan untuk membangun kembali rumah mereka dan mata pencaharian," jelasnya.
Menurut Pang, setidaknya 330 ribu rumah telah hancur akibat terjangan topan Bopha. Kini, para pengungsi tinggal di pusat-pusat pengungsian atau tinggal dengan kerabat mereka. IFRC sendiri telah meluncurkan permintaan darurat senilai USD17,7 juta.
"Situasi ini benar-benar membuat putus asa," kata Gwendolyn Pang, Sekjen Palang Merah Filipina. “Begitu banyak orang yang hanya memiliki sangat sedikit harta benda sebelum topan melanda, kini tak memiliki apa-apa,” lanjut Pang, seperti dikutip dari Rappler.
IFRC mengatakan, bantuan kemanusiaan sangat dibutuhkan oleh ratusan ribu warga Filipina yang terkena dampak topan Bopha. "Beberapa pekan ke depan, kita harus memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari masyarakat, seperti makanan dan air. Tapi, mereka juga membutuhkan bantuan untuk membangun kembali rumah mereka dan mata pencaharian," jelasnya.
Menurut Pang, setidaknya 330 ribu rumah telah hancur akibat terjangan topan Bopha. Kini, para pengungsi tinggal di pusat-pusat pengungsian atau tinggal dengan kerabat mereka. IFRC sendiri telah meluncurkan permintaan darurat senilai USD17,7 juta.
(esn)