Pasukan Pemerintah Suriah kembali luncurkan rudal Scud
Jum'at, 21 Desember 2012 - 18:54 WIB
Pasukan Pemerintah Suriah kembali luncurkan rudal Scud
A
A
A
Sindonews.com - Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen menegaskan, bahwa pasukan Pemerintah Suriah terus meluncurkan rudal Scud dalam beberapa hari terakhir ini.
"Saya dapat mengkonfirmasi peluncuran jenis rudal Scud di Suriah. Kami sangat menyesalkan penggunaan rudal tersebut. Saya menilai langkah tersebut dilakukan karena rezim sudah mendekati keputusasaan," ungkap Rasmussen, Jumat (21/12/2012).
Rasmussen menekankan, penggunaan rudal Scud oleh militer Suriah baru-baru ini akan menjadi sebuah ancaman yang nyata bagi Turki.
"Satu-satunya alasan bagi NATO untuk menempatkan rudal Patriot di perbatasan Turki, semata-mata untuk memberikan solusi dengan memberikan pertahanan yang aktif dan efektif bagi penduduk Turki," ungkap Rasmussen.
Pekan lalu, NATO dan pejabat AS mengatakan, Pemerintah Suriah telah menembakkan sekitar enam rudal Scud pada kaum pemberontak. Hal ini dilakukan karena diyakini bahwa wilayah kekuasaan pemberontak Suriah makin meluas.
Namun, Pemerintah Suriah membantah tuduhan pengunaan Scud rudal tersebut. Kemenlu Suriah menegaskan, bahwa rudal-rudal itu belum digunakan terhadap kelompok bersenjata, meskipun kaum pemberontak telah menggunakan persenjataan canggih dalam melawan pasukan Pemerintah Suriah.
Selama ini, militer Suriah hanya menggunakan senjata artileri, helikopter, dan jet temput untuk menyerang target dalam jarak dekat. NATO tidak bisa menjelaskan, mengapa pasukan militer Suriah mengerahkan rudal yang marak digunakan diktator Irak, Saddam Hussein dalam Perang Teluk 1991.
Rudal scud berasal dari era Uni Soviet dan dikenal sebagai rudal yang tidak akurat. Dalam perang internal di suatu negara, kaum gerilyawan, pemberontak, dan gerakan anti pemerintah sangat jarang mengunakan rudal ini.
"Saya dapat mengkonfirmasi peluncuran jenis rudal Scud di Suriah. Kami sangat menyesalkan penggunaan rudal tersebut. Saya menilai langkah tersebut dilakukan karena rezim sudah mendekati keputusasaan," ungkap Rasmussen, Jumat (21/12/2012).
Rasmussen menekankan, penggunaan rudal Scud oleh militer Suriah baru-baru ini akan menjadi sebuah ancaman yang nyata bagi Turki.
"Satu-satunya alasan bagi NATO untuk menempatkan rudal Patriot di perbatasan Turki, semata-mata untuk memberikan solusi dengan memberikan pertahanan yang aktif dan efektif bagi penduduk Turki," ungkap Rasmussen.
Pekan lalu, NATO dan pejabat AS mengatakan, Pemerintah Suriah telah menembakkan sekitar enam rudal Scud pada kaum pemberontak. Hal ini dilakukan karena diyakini bahwa wilayah kekuasaan pemberontak Suriah makin meluas.
Namun, Pemerintah Suriah membantah tuduhan pengunaan Scud rudal tersebut. Kemenlu Suriah menegaskan, bahwa rudal-rudal itu belum digunakan terhadap kelompok bersenjata, meskipun kaum pemberontak telah menggunakan persenjataan canggih dalam melawan pasukan Pemerintah Suriah.
Selama ini, militer Suriah hanya menggunakan senjata artileri, helikopter, dan jet temput untuk menyerang target dalam jarak dekat. NATO tidak bisa menjelaskan, mengapa pasukan militer Suriah mengerahkan rudal yang marak digunakan diktator Irak, Saddam Hussein dalam Perang Teluk 1991.
Rudal scud berasal dari era Uni Soviet dan dikenal sebagai rudal yang tidak akurat. Dalam perang internal di suatu negara, kaum gerilyawan, pemberontak, dan gerakan anti pemerintah sangat jarang mengunakan rudal ini.
(esn)