Satelit Korut tak berfungsi
Rabu, 19 Desember 2012 - 08:03 WIB
Satelit Korut tak berfungsi
A
A
A
Sindonews.com – Satelit milik Korea Utara (Korut) yang diluncurkan pekan lalu ternyata tidak berfungsi karena tidak memantulkan sinyal saat dideteksi.
Para ahli antariksa yang memonitor mengungkapkan, satelit Korut itu tidak menunjukkan aktivitas dan proses kerja layaknya satelit yang aktif pada umumnya. Mereka menuding satelit itu hanya menjadi alasan Korut untuk latihan peluncuran rudal jarak jauh.
Jonathan McDowell dari Pusat Kajian Harvard-Smithsonian untuk Fisika Astronomi mengungkapkan, satelit itu memang berada di orbit bumi, tetapi tidak ada “lagu” yang terdengar. “Berdasarkan pengalaman kami, satelit itu tidak bekerja. Rasanya ada yang salah dengan satelit itu,” kata McDowell, dikutip AFP.
Selain itu, terdapat tanda permasalahan lainnya. McDowell mengungkapkan, satelit itu berfluktuasi dan bergerak turun naik serta terlihat sangat terang. Itu berarti matahari berada pada sudut yang berbeda. “Bisa jadi, satelit itu memang tidak menghadap ke Bumi seperti seharusnya kebanyakan satelit,” katanya.
Meski tidak berfungsi, satelit tetap berada di orbit. Situs komersial www.n2yo.com pada Senin (17/12) menjelaskan, satelit mengorbit sekitar 505 kilometer di atas permukaan Bumi. Itu sesuai dengan pernyataan resmi Pemerintah Korut.
Mengenai hal tersebut, McDowell menyatakan sulit menghitung secara kasar jarak antara satelit hingga ke bumi. Pasalnya, objek itu memiliki kepadatan yang tinggi dan harus bertahan selama beberapa tahun.
McDowell mengungkapkan kesuksesan satelit Korut mengorbit mungkin bakal menjadi bumerang bagi negara komunis tersebut. “Bagi warga Korea Utara,itu bakal menjadi kebanggaan atas teknologi yang dikuasai pada abad 21, meskipun mereka tidak dapat memberikan makan rakyatnya,” katanya.
Kantor berita Korut KCNA pekan lalu mengutip pernyataan seorang ilmuwan yang menyebutkan teknologi peluncuran roket dan satelit Korut sangat sempurna.Apalagi,satelit itu menyiarkan “Lagu Jenderal Kim Il-sung”dan “Lagi Jenderal Kim Jong-il”. Dua orang itu merupakan mantan pemimpin Korut yang juga kakek dan ayah pemimpin Korut sekarang, Kim Jong-un.
Sebelumnya Amerika Serikat (AS),Korea Selatan (Korsel) dan Jepang mengutuk peluncuran roket itu. Mereka menganggap aksi itu sebagai dalih latihan peluncuran rudal jarak jauh. Juru Bicara Pentagon George Little menegaskan,AS masih melakukan penilaian dan pengukuran dengan kewaspadaan tinggi. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan,perlunya respons yang cukup sebagai tanggapan atas peluncuran roket tersebut.
“Peluncuran ini merupakan program senjata, bukan untuk tujuan damai,”ujar Juru Bicara Departemen Luar Negeri Victoria Nuland.
Sementara, China tetap menolak upaya AS menambah sanksi baru bagi Korut. Gary Locke, Duta Besar AS untuk Beijing, mengungkapkan bahwa kedua negara memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam menanggapi aksi Korut dengan resolusi Dewan Keamanan PBB. DK-PBB yang beranggotakan 15 anggota,termasuk China, mengecam peluncuran roket hanya beberapa jam sebelum roket dilepaskan.
“China sangat percaya bahwa kita harus memberikan kesempatan kepada Korut. Kita harus membantu mereka secara ekonomi,” kata Locke. Apalagi, China ingin menghidupkan kembali perundingan enam negara mengenai senjata nuklir Korut.
Para ahli antariksa yang memonitor mengungkapkan, satelit Korut itu tidak menunjukkan aktivitas dan proses kerja layaknya satelit yang aktif pada umumnya. Mereka menuding satelit itu hanya menjadi alasan Korut untuk latihan peluncuran rudal jarak jauh.
Jonathan McDowell dari Pusat Kajian Harvard-Smithsonian untuk Fisika Astronomi mengungkapkan, satelit itu memang berada di orbit bumi, tetapi tidak ada “lagu” yang terdengar. “Berdasarkan pengalaman kami, satelit itu tidak bekerja. Rasanya ada yang salah dengan satelit itu,” kata McDowell, dikutip AFP.
Selain itu, terdapat tanda permasalahan lainnya. McDowell mengungkapkan, satelit itu berfluktuasi dan bergerak turun naik serta terlihat sangat terang. Itu berarti matahari berada pada sudut yang berbeda. “Bisa jadi, satelit itu memang tidak menghadap ke Bumi seperti seharusnya kebanyakan satelit,” katanya.
Meski tidak berfungsi, satelit tetap berada di orbit. Situs komersial www.n2yo.com pada Senin (17/12) menjelaskan, satelit mengorbit sekitar 505 kilometer di atas permukaan Bumi. Itu sesuai dengan pernyataan resmi Pemerintah Korut.
Mengenai hal tersebut, McDowell menyatakan sulit menghitung secara kasar jarak antara satelit hingga ke bumi. Pasalnya, objek itu memiliki kepadatan yang tinggi dan harus bertahan selama beberapa tahun.
McDowell mengungkapkan kesuksesan satelit Korut mengorbit mungkin bakal menjadi bumerang bagi negara komunis tersebut. “Bagi warga Korea Utara,itu bakal menjadi kebanggaan atas teknologi yang dikuasai pada abad 21, meskipun mereka tidak dapat memberikan makan rakyatnya,” katanya.
Kantor berita Korut KCNA pekan lalu mengutip pernyataan seorang ilmuwan yang menyebutkan teknologi peluncuran roket dan satelit Korut sangat sempurna.Apalagi,satelit itu menyiarkan “Lagu Jenderal Kim Il-sung”dan “Lagi Jenderal Kim Jong-il”. Dua orang itu merupakan mantan pemimpin Korut yang juga kakek dan ayah pemimpin Korut sekarang, Kim Jong-un.
Sebelumnya Amerika Serikat (AS),Korea Selatan (Korsel) dan Jepang mengutuk peluncuran roket itu. Mereka menganggap aksi itu sebagai dalih latihan peluncuran rudal jarak jauh. Juru Bicara Pentagon George Little menegaskan,AS masih melakukan penilaian dan pengukuran dengan kewaspadaan tinggi. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan,perlunya respons yang cukup sebagai tanggapan atas peluncuran roket tersebut.
“Peluncuran ini merupakan program senjata, bukan untuk tujuan damai,”ujar Juru Bicara Departemen Luar Negeri Victoria Nuland.
Sementara, China tetap menolak upaya AS menambah sanksi baru bagi Korut. Gary Locke, Duta Besar AS untuk Beijing, mengungkapkan bahwa kedua negara memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam menanggapi aksi Korut dengan resolusi Dewan Keamanan PBB. DK-PBB yang beranggotakan 15 anggota,termasuk China, mengecam peluncuran roket hanya beberapa jam sebelum roket dilepaskan.
“China sangat percaya bahwa kita harus memberikan kesempatan kepada Korut. Kita harus membantu mereka secara ekonomi,” kata Locke. Apalagi, China ingin menghidupkan kembali perundingan enam negara mengenai senjata nuklir Korut.
(esn)