HRW: Tentara Suriah gunakan bom bakar
Kamis, 13 Desember 2012 - 19:19 WIB
HRW: Tentara Suriah gunakan bom bakar
A
A
A
Sindonews.com – Kelompok HAM yang berbasis di New York, AS, Human Rights Watch (HRW) mengeluarkan sebuah laporan yang menyebut militer Suriah menggunakan bom bakar dalam perang melawan pemberontak. Bom yang dijatuhkan di kota-kota di luar Damaskus ini memiliki kemampuan untuk menimbulkan kebakaran hebat di lokasi tempat jatuhnya bom.
Menurut HRW, sebagian besar senjata yang ditemukan, kemungkinan berasal dari era Uni Soviet. Salah satu bom itu bisa melepaskan 48 peledak dan membakar aeral seukuran lapangan sepak bola.
Bom bakar mengandung bahan yang mudah terbakar, seperti napalm, termit atau fosfor putih yang dapat membakar bangunan atau menyebabkan luka bakar yang parah dan kerusakan pernapasan.
"Ketika digunakan di daerah-daerah padat penduduk, senjata-senjata ini menyebabkan penderitaan yang kejam bagi warga sipil dan penghancuran properti luas," kata Steve Goose, Direktur Divisi Senjata HRW, seperti dikutip dari Ynet, Kamis (13/12/2012).
HRW mendesak rezim Presiden Bashar al-Assad untuk menghentikan penggunaan bom jenis ini. "Pemerintah Suriah harus berhenti menggunakan senjata pembakar. Bom ini mengakibatkan kerugian luar biasa,” lanjutnya.
Berdasar wawancara dengan beberapa saksi mata dan menganalisis video yang diunggah oleh para aktivis, HRW menyatakan setidaknya 4 daerah telah terkena dampak bom bakar ini. Dua daerah berada di dekat Damaskus, satu di utara Provinsi Idlib, dan sebuah kota di Provinsi Homs.
"Luka bakar sulit untuk diobati, terutama di daerah konflik yang kekurangan fasilitas medis. Perawatan penderita luka bakar juga sangat menyiksa korban. Setelah sembuh, bekas luka bakar bisa membuat korban mengalami pengucilan sosial,” lanjut Goose.
Menurut HRW, sebagian besar senjata yang ditemukan, kemungkinan berasal dari era Uni Soviet. Salah satu bom itu bisa melepaskan 48 peledak dan membakar aeral seukuran lapangan sepak bola.
Bom bakar mengandung bahan yang mudah terbakar, seperti napalm, termit atau fosfor putih yang dapat membakar bangunan atau menyebabkan luka bakar yang parah dan kerusakan pernapasan.
"Ketika digunakan di daerah-daerah padat penduduk, senjata-senjata ini menyebabkan penderitaan yang kejam bagi warga sipil dan penghancuran properti luas," kata Steve Goose, Direktur Divisi Senjata HRW, seperti dikutip dari Ynet, Kamis (13/12/2012).
HRW mendesak rezim Presiden Bashar al-Assad untuk menghentikan penggunaan bom jenis ini. "Pemerintah Suriah harus berhenti menggunakan senjata pembakar. Bom ini mengakibatkan kerugian luar biasa,” lanjutnya.
Berdasar wawancara dengan beberapa saksi mata dan menganalisis video yang diunggah oleh para aktivis, HRW menyatakan setidaknya 4 daerah telah terkena dampak bom bakar ini. Dua daerah berada di dekat Damaskus, satu di utara Provinsi Idlib, dan sebuah kota di Provinsi Homs.
"Luka bakar sulit untuk diobati, terutama di daerah konflik yang kekurangan fasilitas medis. Perawatan penderita luka bakar juga sangat menyiksa korban. Setelah sembuh, bekas luka bakar bisa membuat korban mengalami pengucilan sosial,” lanjut Goose.
(esn)