Parlemen Iran kecam pembunuhan kaum Muslim di Myanmar
Selasa, 11 Desember 2012 - 23:18 WIB
Parlemen Iran kecam pembunuhan kaum Muslim di Myanmar
A
A
A
Sindonews.com - Parlemen Iran menyuarakan keprihatinan serius tentang pembantaian kaum Muslim di Myanmar. Parlemen Iran juga menyerukan kepada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mengadakan pertemuan darurat dalam upaya untuk menemukan solusi terhadap krisis ini dan melindungi hak-hak dasar kaum minoritas Muslim di Asia Tenggara.
Seperti dikutip dari kantor berita Fars, Selasa (11/12/2012), Pusat Penelitian Parlemen Iran, dalam sebuah laporan yang dikeluarkan setelah penyelidikan menyeluruh tentang krisis di Myanmar, mendesak OKI untuk berkonsultasi dengan kepala negara Muslim dan mengadakan pertemuan tingkat menteri. Iran mendesak untuk membahas cara-cara guna mengakhiri pembantaian kaum Muslim di Myanmar.
Laporan tersebut juga menekankan, bahwa PBB, Gerakan Non-Blok (NAM), dan Inter-Parliamentary Union (IPU) harus dimanfaatkan untuk menekan organisasi internasional guna menemukan cara untuk mengakhiri pembantaian kaum Muslim di negara Asia Tenggara.
Lebih dari 22 ribu orang, terutama komunitas Muslim telah dipaksa meninggalkan rumah mereka di sebalah barat Myanmar. Hal ini terjadi setelah munculnya gelombang baru kekerasan dan pembakaran yang menyebabkan puluhan orang tewas, sebut laporan PBB tertanggal 29 Oktober.
Perwakilan PBB di Yangon, Ashok Nigam, mengatakan, pada akhir Oktober 22.587 orang telah mengungsi dan 4.665 rumah dibakar dalam pertumpahan darah terbaru. "Ini adalah orang-orang yang rumahnya telah dibakar, mereka masih di wilayah yang sama. Aksi ini membuat kaum Muslim mengungsi," kata Nigam.
Seperti dikutip dari kantor berita Fars, Selasa (11/12/2012), Pusat Penelitian Parlemen Iran, dalam sebuah laporan yang dikeluarkan setelah penyelidikan menyeluruh tentang krisis di Myanmar, mendesak OKI untuk berkonsultasi dengan kepala negara Muslim dan mengadakan pertemuan tingkat menteri. Iran mendesak untuk membahas cara-cara guna mengakhiri pembantaian kaum Muslim di Myanmar.
Laporan tersebut juga menekankan, bahwa PBB, Gerakan Non-Blok (NAM), dan Inter-Parliamentary Union (IPU) harus dimanfaatkan untuk menekan organisasi internasional guna menemukan cara untuk mengakhiri pembantaian kaum Muslim di negara Asia Tenggara.
Lebih dari 22 ribu orang, terutama komunitas Muslim telah dipaksa meninggalkan rumah mereka di sebalah barat Myanmar. Hal ini terjadi setelah munculnya gelombang baru kekerasan dan pembakaran yang menyebabkan puluhan orang tewas, sebut laporan PBB tertanggal 29 Oktober.
Perwakilan PBB di Yangon, Ashok Nigam, mengatakan, pada akhir Oktober 22.587 orang telah mengungsi dan 4.665 rumah dibakar dalam pertumpahan darah terbaru. "Ini adalah orang-orang yang rumahnya telah dibakar, mereka masih di wilayah yang sama. Aksi ini membuat kaum Muslim mengungsi," kata Nigam.
(esn)