AS minta Rusia bujuk Assad turun dari jabatannya
Selasa, 11 Desember 2012 - 19:27 WIB
AS minta Rusia bujuk Assad turun dari jabatannya
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton meminta Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov untuk membujuk Presiden Suriah, Bashar al-Assad mundur dari jabatannya secara sukarela.
Dalam pertemuan di Phnom Penh dan Dublin, AS mengatakan kepada Rusia, bahwa mereka memiliki sebuah rencana untuk menyelesaikan konflik Suriah dengan beberapa syarat tertentu. Syarat itu adalah menyetujui gencatan senjata dan membentuk pemerintahan transisi di Suriah.
"Rencana AS ini akan meminimalisir resiko pasukan pendukung pemerintah Suriah untuk mengunakan senjata kimia ataupun kemungkinan senjata tersebut jatuh ke tangan pihak yang tidak dapat di kontrol," seperti diberitakan dalam Russiatoday, Selasa (11/12/2011).
Mananggapi pernyataan tersebut, Rusia mengatakan, guna menyelesaikan perang di Suriah, razim Assad setuju untuk membentuk pemerintahan transisi, yakni gabungan Pemerintah Suriah dan kelompok oposisi Suriah.
Namun, Rusia yakin kalau Assad tidak akan pernah setuju dengan permintaan AS untuk mundur secara sukarela.
"Semua keputusan politik untuk mereformasi sistem politik di Suriah harus datang dari rakyat Suriah tanpa ada intervensi ataupun paksaan langsung dari pihak internasional," ungkap Lavrov.
Menyikapi sejumlah tekanan internasional atas larangan untuk menggunakan senjata kimia,Presiden Assad mengatakan, pihaknya tidak akan menggunakan senjata kimia untuk melawan pemberontak. "Pengunaan senjata kimia sama saja dengan bunuh diri," ungkap Assad.
Dalam pertemuan di Phnom Penh dan Dublin, AS mengatakan kepada Rusia, bahwa mereka memiliki sebuah rencana untuk menyelesaikan konflik Suriah dengan beberapa syarat tertentu. Syarat itu adalah menyetujui gencatan senjata dan membentuk pemerintahan transisi di Suriah.
"Rencana AS ini akan meminimalisir resiko pasukan pendukung pemerintah Suriah untuk mengunakan senjata kimia ataupun kemungkinan senjata tersebut jatuh ke tangan pihak yang tidak dapat di kontrol," seperti diberitakan dalam Russiatoday, Selasa (11/12/2011).
Mananggapi pernyataan tersebut, Rusia mengatakan, guna menyelesaikan perang di Suriah, razim Assad setuju untuk membentuk pemerintahan transisi, yakni gabungan Pemerintah Suriah dan kelompok oposisi Suriah.
Namun, Rusia yakin kalau Assad tidak akan pernah setuju dengan permintaan AS untuk mundur secara sukarela.
"Semua keputusan politik untuk mereformasi sistem politik di Suriah harus datang dari rakyat Suriah tanpa ada intervensi ataupun paksaan langsung dari pihak internasional," ungkap Lavrov.
Menyikapi sejumlah tekanan internasional atas larangan untuk menggunakan senjata kimia,Presiden Assad mengatakan, pihaknya tidak akan menggunakan senjata kimia untuk melawan pemberontak. "Pengunaan senjata kimia sama saja dengan bunuh diri," ungkap Assad.
(esn)