Pemberontak Suriah jadikan bandara Damaskus sebagai zona perang
Jum'at, 07 Desember 2012 - 21:12 WIB
Pemberontak Suriah jadikan bandara Damaskus sebagai zona perang
A
A
A
Sindonews.com – Kaum pemberontak Suriah yang berusaha menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad menyatakan, bahwa Bandara Internasional Damaskus saat ini telah menjadi zona perang. Pernyataan ini disampaikan pemberontak Suriah, Jumat (7/12/2012).
Dengan penetapan ini, maka kaum pemberontak memperingatkan penduduk sipil dan maskapai penerbangan untuk tidak mendekati Bandara Internasional Damaskus. “Jika ada yang memasuki Bandara Internasional Damaskus, maka resiko harus mereka tanggung sendiri,” sebut pernyataan kaum pemberontak, seperti dikutip dari Reuters.
Selama beberapa pekan terakhir, tensi pertempuran di sekitar Ibu Kota Suriah memang meningkat. Kondisi ini memunculkan prediksi, bahwa perang yang sudah berlangsung selama 20 bulan itu, kemungkinan akan segera berakhir, dan salah satu pihak keluar sebagai pemenang.
Hal ini juga sesuai dengan prediksi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton. “Tekanan terhadap rezim pemerintah di Damaskus dan sekitar kota itu nampaknya akan meningkat,” ujar Clinton.
"Memang benar, bahwa rezim telah menarik mundur pasukan mereka di banyak daerah dan rezim sedang menuju kehancuran. Tapi, pertempuran belum akan berakhir. Kemajuan hanya ada di media massa, namun kondisi di lapangan sangat berbeda,” kata Rami Abdelrahman dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.
Dengan penetapan ini, maka kaum pemberontak memperingatkan penduduk sipil dan maskapai penerbangan untuk tidak mendekati Bandara Internasional Damaskus. “Jika ada yang memasuki Bandara Internasional Damaskus, maka resiko harus mereka tanggung sendiri,” sebut pernyataan kaum pemberontak, seperti dikutip dari Reuters.
Selama beberapa pekan terakhir, tensi pertempuran di sekitar Ibu Kota Suriah memang meningkat. Kondisi ini memunculkan prediksi, bahwa perang yang sudah berlangsung selama 20 bulan itu, kemungkinan akan segera berakhir, dan salah satu pihak keluar sebagai pemenang.
Hal ini juga sesuai dengan prediksi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton. “Tekanan terhadap rezim pemerintah di Damaskus dan sekitar kota itu nampaknya akan meningkat,” ujar Clinton.
"Memang benar, bahwa rezim telah menarik mundur pasukan mereka di banyak daerah dan rezim sedang menuju kehancuran. Tapi, pertempuran belum akan berakhir. Kemajuan hanya ada di media massa, namun kondisi di lapangan sangat berbeda,” kata Rami Abdelrahman dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.
(esn)