Terjebak di bawah reruntuhan, korban topan Bopha ditemukan hidup
Jum'at, 07 Desember 2012 - 15:49 WIB
Terjebak di bawah reruntuhan, korban topan Bopha ditemukan hidup
A
A
A
Sindonwews.com - Topan Bopha melintasi Pulau Mindanao, FIlipina, Selasa(4/12) dan menghancurkan keseluruhan kota di pulau tersebut. Topan itu membawa angin kencang dan hujan deras yang memicu banjir dan tanah longsor.
Berbagai keajaiban Tuhan terjadi di wilayah bencana itu. Seorang pria, Carlos Agang, ditemukan terjebak selama dua hari di bawah bebatuan dan reruntuhan bangunan setelah banjir bandang menyapu rumahnya.
”Ini sebuah keajaiban ketika saya dapat selamat.Saya pikir saya sudah mati” katanya. Beberapa anggota tim penyelamat juga berhasil mengevakuasi seorang perempuan hamil yang terjebak di pinggir sungai bersama seorang anaknya berusia satu tahun.
”Saya hanya bisa berdoa dan hingga tersangkut di pinggir sungai,” kata Lenlen Medrano, 23, korban selamat,dikutip Reuters. Pemerintah Filipina berusaha keras memberikan bantuan kepada para korban.
Presiden Benigno Aquino telah mengirimkan makanan dan keperluan lainnya bagi 150.000 orang di Mindanao. Menteri Kesejahteraan Sosial Filipina Corazon Soliman menjelaskan, pemerintah telah meminta bantuan Organisasi Internasional untuk Migrasi yang berbasis di Swiss.
Filipina meminta bantuan dalam pendirian tenda sementara sebagai tempat menampung warga yang kehilangan rumah. ”Prioritas kami adalah membangun permukiman sementara,” katanya kepada stasiun televisi ABS-CBN. Baik Amerika Serikat (AS) maupun Jepang telah siap memberikan bantuan darurat. AS telah menawarkan bantuan pada Filipina dan Palau.
”Kedutaan besar kami di Manila dan Koror menawarkan bantuan pascabencana darurat dan kami bekerja sangat erat dengan pemerintah di kedua negara untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar NegeriMark Toner, dikutip BBC. Topan Bopha ini terjadi hampir setahun setelah topan Washi menyerang Mindanao utara.
Berbagai keajaiban Tuhan terjadi di wilayah bencana itu. Seorang pria, Carlos Agang, ditemukan terjebak selama dua hari di bawah bebatuan dan reruntuhan bangunan setelah banjir bandang menyapu rumahnya.
”Ini sebuah keajaiban ketika saya dapat selamat.Saya pikir saya sudah mati” katanya. Beberapa anggota tim penyelamat juga berhasil mengevakuasi seorang perempuan hamil yang terjebak di pinggir sungai bersama seorang anaknya berusia satu tahun.
”Saya hanya bisa berdoa dan hingga tersangkut di pinggir sungai,” kata Lenlen Medrano, 23, korban selamat,dikutip Reuters. Pemerintah Filipina berusaha keras memberikan bantuan kepada para korban.
Presiden Benigno Aquino telah mengirimkan makanan dan keperluan lainnya bagi 150.000 orang di Mindanao. Menteri Kesejahteraan Sosial Filipina Corazon Soliman menjelaskan, pemerintah telah meminta bantuan Organisasi Internasional untuk Migrasi yang berbasis di Swiss.
Filipina meminta bantuan dalam pendirian tenda sementara sebagai tempat menampung warga yang kehilangan rumah. ”Prioritas kami adalah membangun permukiman sementara,” katanya kepada stasiun televisi ABS-CBN. Baik Amerika Serikat (AS) maupun Jepang telah siap memberikan bantuan darurat. AS telah menawarkan bantuan pada Filipina dan Palau.
”Kedutaan besar kami di Manila dan Koror menawarkan bantuan pascabencana darurat dan kami bekerja sangat erat dengan pemerintah di kedua negara untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar NegeriMark Toner, dikutip BBC. Topan Bopha ini terjadi hampir setahun setelah topan Washi menyerang Mindanao utara.
(esn)