Diwarnai aksi boikot, pemilu Kuwait tetap berlangsung
Minggu, 02 Desember 2012 - 17:05 WIB
Diwarnai aksi boikot, pemilu Kuwait tetap berlangsung
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Kuwait tetap menggelar Pemilihan Umum, meski diwarnai aksi boikot, Sabtu (1/12/2012). Aksi boikot yang diserukan kubu oposisi ini membuat jumlah pemilih menurun drastis. Sebuah TPS di Salwa, 15 km sebelah Selatan Kuwait City, hanya didatangi sejumlah pemilik suara. Padahal, ada 4.600 orang yang terdaftar di TPS itu.
Saat ini, populasi di Kuwait adalah 3,8 juta jiwa, namun 69 persennya adalah pekerja asing. Sedangkan warga negara Kuwait sendiri hanya 1,2 juta jiwa. Dari jumlah itu, hanya 422 ribu orang yang memiliki hak suara.
Warga negara yang boleh memilih adalah yang berusia 21 tahun ke atas. Kaum wanita adalah kelompok pemilih terbesar, dengan jumlah 54 persen. Polisi dan tentara dilarang mengikuti pemilihan umum di Kuwait.
Pemungutan suara ditutup 12 jam setelah dimulinya pemilihan umum. Hingga kini, masih berlangsung perhitungan suara. Meski tergolong negara kaya, namun penghitungan suara di Kuwait masih menggunakan sistem manual.
Kubu oposisi menyuarakan boikot, karena tak terima dengan putusan Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah yang hanya memperbolehkan seseorang memilih satu kandidat dalam pemilu kali ini. Sebelumnya, seorang pemilih berhak memilih empat kandidat.
Meski kubu oposisi menyerukan boikot, namun tak semua warga Kuwait mematuhinya. "Saya memberikan suara, karena saya peduli pada negara saya. Saya menentang seruan boikot," kata Mahmud Abedin (47), seorang warga Kuwait pada kantor berita AFP setelah memberikan suaranya.
"Pemerintah dan Emir menyediakan semuanya bagi kami. Mereka memberikan pelayanan perumahan yang baik, gaji yang baik dan banyak layanan publik yang hampir seluruhnya gratis. Jadi, mengapa kita harus memboikot pemilu," lanjut Abedin.
Saat ini, populasi di Kuwait adalah 3,8 juta jiwa, namun 69 persennya adalah pekerja asing. Sedangkan warga negara Kuwait sendiri hanya 1,2 juta jiwa. Dari jumlah itu, hanya 422 ribu orang yang memiliki hak suara.
Warga negara yang boleh memilih adalah yang berusia 21 tahun ke atas. Kaum wanita adalah kelompok pemilih terbesar, dengan jumlah 54 persen. Polisi dan tentara dilarang mengikuti pemilihan umum di Kuwait.
Pemungutan suara ditutup 12 jam setelah dimulinya pemilihan umum. Hingga kini, masih berlangsung perhitungan suara. Meski tergolong negara kaya, namun penghitungan suara di Kuwait masih menggunakan sistem manual.
Kubu oposisi menyuarakan boikot, karena tak terima dengan putusan Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah yang hanya memperbolehkan seseorang memilih satu kandidat dalam pemilu kali ini. Sebelumnya, seorang pemilih berhak memilih empat kandidat.
Meski kubu oposisi menyerukan boikot, namun tak semua warga Kuwait mematuhinya. "Saya memberikan suara, karena saya peduli pada negara saya. Saya menentang seruan boikot," kata Mahmud Abedin (47), seorang warga Kuwait pada kantor berita AFP setelah memberikan suaranya.
"Pemerintah dan Emir menyediakan semuanya bagi kami. Mereka memberikan pelayanan perumahan yang baik, gaji yang baik dan banyak layanan publik yang hampir seluruhnya gratis. Jadi, mengapa kita harus memboikot pemilu," lanjut Abedin.
(esn)