Israel tangkap seorang mata-mata Hizbullah
Senin, 26 November 2012 - 07:00 WIB
Israel tangkap seorang mata-mata Hizbullah
A
A
A
Sindonews.com - Seorang pria keturunan Arab-Israel yang tinggal di Jerusalem Timur, Azam Mash'hara (37), dijatuhi tuduhan melakukan kegiatan mata-mata oleh Pengadilan Distrik Jerusalem, Minggu (25/11/2012). Mash'hara dituding telah menyampaikan informasi tentang tempat-tempat strategis di Israel untuk kelompok Hizbullah di Libanon.
Mash'hara yang berasal dari Desa Jabel Mukaber, diduga telah memberikan data-data tentang gedung Parlemen Israel, kampus Universitas Ibrani, gedung-gedung pemerintah dan rumah sakit kepada Hizbullah.
Dia pun akhirnya didakwa karena berkomunikasi dengan agen asing, membagikan informasi kepada musuh, dan mengunjungi negara musuh tanpa izin. Dinas keamanan Israel menangkap Mash'hara satu bulan yang lalu, namun baru mempublikasikan kasus ini pada Minggu (25/11/2012).
Dalam interogasi, Mash'hara yang berprofesi sebagai supir bus itu telah mengakui, bahwa ia bekerja untuk Hisbullah. Selama kunjungan ke Libanon pada Juni lalu, ia memberikan informasi tentang materi yang disebutkan dalam dakawaan.
Menurut pernyataan Badan Keamanan Intelijen Israel, Shin Bet, Mash'hara diminta tetap berhubungan dengan Hizbullah melalui internet. "Kasus Mash'hara adalah contoh lain untuk upaya Hizbullah merekrut agen-agen Israel, atau mereka yang memiliki KTP Israel, untuk melakukan layanan spionase," kata Shin Bet dalam pernyataannya.
Ada sekitar 300 ribu warga Arab-Israel yang tinggal di wilayah di Jerusalem timur yang dicaplok Israel setelah perang 1967. Ratusan ribu warga Arab-Israel ini memiliki KTP Israel, namun tak bisa ikut pemilu di negara itu.
Penduduk desa Arab di Jerusalem Timur telah mengeluh selama beberapa dekade tentang keadaan infrastruktur, sistem pendidikan, dan larangan pembangunan di daerah tersebut.
Mash'hara yang berasal dari Desa Jabel Mukaber, diduga telah memberikan data-data tentang gedung Parlemen Israel, kampus Universitas Ibrani, gedung-gedung pemerintah dan rumah sakit kepada Hizbullah.
Dia pun akhirnya didakwa karena berkomunikasi dengan agen asing, membagikan informasi kepada musuh, dan mengunjungi negara musuh tanpa izin. Dinas keamanan Israel menangkap Mash'hara satu bulan yang lalu, namun baru mempublikasikan kasus ini pada Minggu (25/11/2012).
Dalam interogasi, Mash'hara yang berprofesi sebagai supir bus itu telah mengakui, bahwa ia bekerja untuk Hisbullah. Selama kunjungan ke Libanon pada Juni lalu, ia memberikan informasi tentang materi yang disebutkan dalam dakawaan.
Menurut pernyataan Badan Keamanan Intelijen Israel, Shin Bet, Mash'hara diminta tetap berhubungan dengan Hizbullah melalui internet. "Kasus Mash'hara adalah contoh lain untuk upaya Hizbullah merekrut agen-agen Israel, atau mereka yang memiliki KTP Israel, untuk melakukan layanan spionase," kata Shin Bet dalam pernyataannya.
Ada sekitar 300 ribu warga Arab-Israel yang tinggal di wilayah di Jerusalem timur yang dicaplok Israel setelah perang 1967. Ratusan ribu warga Arab-Israel ini memiliki KTP Israel, namun tak bisa ikut pemilu di negara itu.
Penduduk desa Arab di Jerusalem Timur telah mengeluh selama beberapa dekade tentang keadaan infrastruktur, sistem pendidikan, dan larangan pembangunan di daerah tersebut.
(esn)