Sarkozy diperiksa hakim

Jum'at, 23 November 2012 - 12:58 WIB
Sarkozy diperiksa hakim
Sarkozy diperiksa hakim
A A A
Sindonews.com - Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy diperiksa hakim di pengadilan Brodeaux pada Kamis (22/11) waktu setempat terkait skandal sumbangan ilegal.

Sarkozy kemarin tiba di kantor hakim pukul 09.15 waktu setempat (14.15 WIB). Dia bakal diperiksa secara langsung oleh hakim Jean-Michel Gentil selama satu hari penuh mengenai aliran dana donasi ilegal yang diperoleh.

Dia diperiksa terkait tuduhan skandal donasi kampanye pemilu pada 2007. Skandal itu melibatkan dana ilegal dari perempuan terkaya Prancis yang sekaligus pemilik perusahaan kosmetik L’Oreal, Liliane Bettencourt. Menurut Claude Gueant, sekutu dekat Sarkozy yang pernah menjabat menteri dalam negeri, pengadilan harus menunjukkan kenapa pertanyaan dalam penyidikan itu penting.

"Saya menganggap bahwa kesaksian ini sangat penting,” kata Gueant kepada radio RTL. Dia menuturkan, tidak ada kesempatan untuk pembiayaan kampanye ilegal karena kontrol yang sangat kuat.

Sarkozy diduga mendapatkan keuntungan finansial yang dimanfaatkan untuk memenangkan pemilu 2007. Sarkozy diduga menerima ribuan euro dari Bettencourt. Sarkozy yang telah kehilangan imunitas pada Mei silam itu pun membantah semua tuduhan tersebut.Polisi pun telah menggeledah rumah Sarkozy pada Juli lalu sebagai bagian dari penyidikan yang diperintahkan oleh hakim penyidik, Jean-Michel Gentil.

Meski mengalami kekalahan dari penantang Sosialis, Francois Hollande, Sarkozy diperkirakan memiliki ambisi untuk maju pada pemilu 2017.

Namun, hasil penyidikan hakim itu bakal menentukan apakah mantan presiden itu bakal maju ke dunia politik atau tidak. Jika terbukti bersalah di mata hukum, Sarkozy bakal mengakhiri karier politiknya.

BBC melaporkan bahwa skandal donasi terlarang Sarkozy itu terkuak setelah mantan akuntan Bettencourt, Claire Thibout, menuding bendahara tim kampanye Sarkozy, Eric Woerth, mengumpulkan dana tunai secara pribadi.

Thibout juga mengungkapkan laporan polisi yang bocor soal seringnya Sarkozy berkunjung ke rumah Bettencourt saat menjabat sebagai Wali Kota Neuilly dari 1983 hingga 2002.

Namun, Sarkozy membantah berita yang beredar bahwa dia mengambil amplop yang berisi uang tunai. Woerth dipaksa mundur dari bendara partai UMP pada Juli lalu akibat skandal itu.Dia sudah menjalani penyidikan formal atas tuduhan pembayaran senilai 150.000 euro atau setara Rp1,85 miliar.

Seperti Sarkozy dan Bettencourt, Woerth juga membantah keterlibatan dalam skandal tersebut. Seperti dilaporkan AFP,Thibout mengungkapkan kepada polisi bahwa dia menyerahkan uang 150.000 euro kepada tangan kanan Bettencourt, Patrice de Maistre.Maistre itulah yang memberikan uang kepada Woerth.

Maistre yang dikenal sebagai pendukung utama Sarkozy itu menarik uang tunai senilai empat juta euro dari rekening milik Bettencourt di bank Swiss dalam tujuh kali penarikan antara 2007 dan 2009.

Para penyidik kini menduga uang itu berpindah tangan ke Sarkozy atau ke partainya secara langsung. Pengadilan juga telah memerintahkan penyitaan buku catatan harian Sarkozy untuk mengetahui apa yang dia lakukan saat kejadian itu dan ke mana aliran dana itu berpindah.

Selain itu, Otoritas Prancis telah mengonfirmasi penyidikan pendahuluan terhadap manajemen jajak pendapat yang dilaksanakan selama masa kekuasaan Sarkozy, 2007 hingga 2012.

Penyidikan itu dipicu oleh organisasi anti-korupsi, Anticor, yang menduga mantan presiden itu telah menyerahkan kontrak untuk pelaksanaan jajak pendapat ke sebuah perusahaan, Publifact yang dijalankan mantan penasihatnya, Patrick Buisson. Anticor menuding dana yang digunakan untuk melakukan jajak pendapat adalah dan publik.

Dana pemerintah itu digunakan oleh Sarkozy untuk kepentingan riset pemilu demi kepentingan partai politiknya. Bukan hanya kasus Bettencourt dan korupsi dana untuk kepentingan riset politik, Sarkozy juga diduga menerima bantuan dana dari mantan diktator Libya Muammar Khadafi senilai 50 juta euro atau setara Rp619,4 miliar untuk kampanye pemilu 2007.
(esn)
Berita Terkait
Lyon Jadi Pelabuhan...
Lyon Jadi Pelabuhan Baru Jerome Boateng
8 Bukti Prancis Kehilangan...
8 Bukti Prancis Kehilangan Pengaruh Neokolonialisme di Afrika
Prancis Imbau Warganya...
Prancis Imbau Warganya Segera Tinggalkan Pakistan
Pelaku Penyanderaan...
Pelaku Penyanderaan di Bank Prancis Masuk dalam Daftar Pemantauan
Gerakan Boikot Produk...
Gerakan Boikot Produk Prancis Raih Momentum di Bangladesh
5 Alasan PM Prancis...
5 Alasan PM Prancis Sebastien Lecornu Mundur, dari Defisit Anggaran hingga Rasio Utang Capai 113 Persen
Berita Terkini
Kelompok Garis Keras...
Kelompok Garis Keras Iran Klaim Akan Ada Kudeta, Akankah Mojtaba Tumbang?
27 menit yang lalu
Houthi Ancam Serang...
Houthi Ancam Serang Infrastruktur Minyak Saudi jika Perang Terus Berlanjut
2 jam yang lalu
PM Irak Pernah Ditawari...
PM Irak Pernah Ditawari Suap Rp3,5 Triliun, tapi Justru Bentuk Badan Pemberantasan Korupsi
3 jam yang lalu
Setelah 4 Bulan Tenang...
Setelah 4 Bulan Tenang dan Nyaman, Arab Saudi Kembali Dibombardir Iran
4 jam yang lalu
Iran Peringatkan Negara-negara...
Iran Peringatkan Negara-negara Penampung Pasukan AS Bersiap Hadapi Respons Setara
5 jam yang lalu
Tentara AS Terluka dalam...
Tentara AS Terluka dalam Serangan Iran di Yordania, Pentagon Belum Mengakui
6 jam yang lalu
Infografis
Pukul Petugas Rutan...
Pukul Petugas Rutan KPK, Nurhadi Segera Diperiksa Polisi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved