Popularitas Hamas di mata rakyat Palestina meningkat
Selasa, 20 November 2012 - 13:06 WIB
Popularitas Hamas di mata rakyat Palestina meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Hingga hari ini, Jalur Gaza masih terus dibombardir Israel. Tapi,di tengah kekacauan itu, Minggu (17/11), Ali Al-Ahmed, seorang warga Kota Gaza, seolah tak menghiraukannya.
Dia tetap bisa melenggang santai di jalanan kota itu hanya dengan mengenakan piyamanya untuk membeli telur dan cokelat untuk tiga anaknya. “Rasanya menakutkan,” ujar Al-Ahmed kepada Reuters.
“Tapi, mereka juga meneror sisi lain perbatasan. Jujur saja, dulu saya kira Hamas sudah lupa melawan Israel. Ternyata,saya salah.” Ucapan Ali ini akan menjadi penyejuk bagi gerakan yang memerintah Gaza sejak 2007. Dalam bentrokan pada 2008–2009, banyak rival Palestina menuding penembakan roket yang dilakukan Hamas menjadi pemicu militer Israel membombardir Gaza.
Perang itu berakhir dengan lebih dari 1.400 warga Palestina tewas. Tapi, serangan yang dilakukan mulai pekan lalu itu berbeda. Revolusi Arab atau Arab Spring telah mengubah Timur Tengah dan Hamas memiliki senjata yang lebih kuat.
Banyak laman Facebook yang secara terang-terangan mengecam Israel dan dua penyanyi Tepi Barat berhasil membuat hit di YouTube dengan lagu berjudul Strike Tel Aviv yang memuji Hamas dan lainnya karena menembakkan roket yang bisa mengancam Tel Aviv dan Yerusalem untuk kali pertama.
Hamas juga berhasil meraih dukungan diplomatik dengan kunjungan solidaritas yang dilakukan para menteri luar negeri Mesir dan Tunisia ketika posisi mereka diserang. Kedua negara itu diperintah autokrat bekingan Barat ketika Gaza diinvasi pada 2008–2009 lalu, tapi Revolusi Arab telah menyingkirkan mereka dan kini gerakan Islam mendominasi Kairo dan Tunis, yang merepresentasikan massa yang mendukung Hamas.
“Sekarang, kami angkat topi untuk Hamas,” ujar Talal Okal, analis politik Hamas yang biasanya kritis terhadap gerakan radikal itu. “Mereka terlihat terorganisasi, menyadari apa yang mereka lakukan, dan siap membayar biasa untuk mencapai agenda mereka. Orang biasanya hanya bisa menghormati mereka sekarang.” Menurut Okal, kini Israel tak lagi mampu memprediksikan apa yang bakal dilakukan para pemimpin Arab kalau serangan darat dilakukan.
“Mungkin Israel tak terlalu peduli. Tapi, sekutu Amerika dan Eropanya peduli. Mereka memedulikan kepentingan di Timur Tengah, Timur Tengah baru,” ujar Okal. Meskipun invasi darat terjadi, rakyat Palestina merasa tidak ada yang abadi bagi Israel.
“Ratusan warga sipil mungkin akan tewas begitu Israel menginvasi,”ujar Ali Al-Ahmed. “Tapi, begitu mereka pergi, roket akan mengikuti mereka, jadi mereka akan gagal.”.
Dia tetap bisa melenggang santai di jalanan kota itu hanya dengan mengenakan piyamanya untuk membeli telur dan cokelat untuk tiga anaknya. “Rasanya menakutkan,” ujar Al-Ahmed kepada Reuters.
“Tapi, mereka juga meneror sisi lain perbatasan. Jujur saja, dulu saya kira Hamas sudah lupa melawan Israel. Ternyata,saya salah.” Ucapan Ali ini akan menjadi penyejuk bagi gerakan yang memerintah Gaza sejak 2007. Dalam bentrokan pada 2008–2009, banyak rival Palestina menuding penembakan roket yang dilakukan Hamas menjadi pemicu militer Israel membombardir Gaza.
Perang itu berakhir dengan lebih dari 1.400 warga Palestina tewas. Tapi, serangan yang dilakukan mulai pekan lalu itu berbeda. Revolusi Arab atau Arab Spring telah mengubah Timur Tengah dan Hamas memiliki senjata yang lebih kuat.
Banyak laman Facebook yang secara terang-terangan mengecam Israel dan dua penyanyi Tepi Barat berhasil membuat hit di YouTube dengan lagu berjudul Strike Tel Aviv yang memuji Hamas dan lainnya karena menembakkan roket yang bisa mengancam Tel Aviv dan Yerusalem untuk kali pertama.
Hamas juga berhasil meraih dukungan diplomatik dengan kunjungan solidaritas yang dilakukan para menteri luar negeri Mesir dan Tunisia ketika posisi mereka diserang. Kedua negara itu diperintah autokrat bekingan Barat ketika Gaza diinvasi pada 2008–2009 lalu, tapi Revolusi Arab telah menyingkirkan mereka dan kini gerakan Islam mendominasi Kairo dan Tunis, yang merepresentasikan massa yang mendukung Hamas.
“Sekarang, kami angkat topi untuk Hamas,” ujar Talal Okal, analis politik Hamas yang biasanya kritis terhadap gerakan radikal itu. “Mereka terlihat terorganisasi, menyadari apa yang mereka lakukan, dan siap membayar biasa untuk mencapai agenda mereka. Orang biasanya hanya bisa menghormati mereka sekarang.” Menurut Okal, kini Israel tak lagi mampu memprediksikan apa yang bakal dilakukan para pemimpin Arab kalau serangan darat dilakukan.
“Mungkin Israel tak terlalu peduli. Tapi, sekutu Amerika dan Eropanya peduli. Mereka memedulikan kepentingan di Timur Tengah, Timur Tengah baru,” ujar Okal. Meskipun invasi darat terjadi, rakyat Palestina merasa tidak ada yang abadi bagi Israel.
“Ratusan warga sipil mungkin akan tewas begitu Israel menginvasi,”ujar Ali Al-Ahmed. “Tapi, begitu mereka pergi, roket akan mengikuti mereka, jadi mereka akan gagal.”.
(esn)