Warga Myanmar dilanda demam Obama
Senin, 19 November 2012 - 08:30 WIB
Warga Myanmar dilanda demam Obama
A
A
A
Sindonews.com – Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Myanmar, Senin (19/11/2012), diharap membawa dampak positif bagi negara itu. Obama akan menjadi Presiden AS pertama yang mengunjungi Myanmar.
Beberapa hari jelang kunjungan Presiden kulit hitam pertama AS itu, warga Myanmar dilanda deman Obama. Sejumlah toko memajang kaos, mug, dan benda-benda bergambar Obama lainnya. Gambar Obama juga terpampang di berbagai penjuru Ibu Kota Myanmar, Yangon.
Warga di jalan-jalan Yangon menyuarakan harapan mereka, bahwa kedatangan bersejarah Obama akan berdampak positif pada proses reformasi di negara mereka. "Saya pikir kunjungannya akan membantu jalan kami menuju demokrasi dan mendorong pemerintah Myanmar untuk melanjutkan proses demokrasi," kata Thant Zaw Oo (28), seorang penjaga toko di Yangon.
"Saya ingin memberitahu Presiden Obama untuk mendorong pemerintah Myanmar agar berani menapaki jalan menuju demokrasi dan menjamin hak asasi manusia secara penuh,” lanjutnya.
Di Myanmar, Obama dijadwalkan untuk berbicara di Yangon University. Tempat ini dianggap sebagai simbol demokrasi Myanmar. Di tempat inilah, pada 1988 sebuah demonstrasi berakhir dengan tindakan keras militer. Sejumlah nyawa mahasiswa melayang dalam peristiwa itu.
“Saya berharap kunjungan Obama akan membantu Myanmar untuk dapat diterima dan diakui oleh masyarakat internasional. Setelah kunjungan ini, saya harap perekonomian negara kita akan menjadi lebih terbuka. Dan karena AS lebih mengutamakan hak asasi manusia, negara kita akan mendapatkan standar yang lebih baik soal hak dan demokrasi," kata Kaung San, seorang mahasiswa di Yangon.
Beberapa hari jelang kunjungan Presiden kulit hitam pertama AS itu, warga Myanmar dilanda deman Obama. Sejumlah toko memajang kaos, mug, dan benda-benda bergambar Obama lainnya. Gambar Obama juga terpampang di berbagai penjuru Ibu Kota Myanmar, Yangon.
Warga di jalan-jalan Yangon menyuarakan harapan mereka, bahwa kedatangan bersejarah Obama akan berdampak positif pada proses reformasi di negara mereka. "Saya pikir kunjungannya akan membantu jalan kami menuju demokrasi dan mendorong pemerintah Myanmar untuk melanjutkan proses demokrasi," kata Thant Zaw Oo (28), seorang penjaga toko di Yangon.
"Saya ingin memberitahu Presiden Obama untuk mendorong pemerintah Myanmar agar berani menapaki jalan menuju demokrasi dan menjamin hak asasi manusia secara penuh,” lanjutnya.
Di Myanmar, Obama dijadwalkan untuk berbicara di Yangon University. Tempat ini dianggap sebagai simbol demokrasi Myanmar. Di tempat inilah, pada 1988 sebuah demonstrasi berakhir dengan tindakan keras militer. Sejumlah nyawa mahasiswa melayang dalam peristiwa itu.
“Saya berharap kunjungan Obama akan membantu Myanmar untuk dapat diterima dan diakui oleh masyarakat internasional. Setelah kunjungan ini, saya harap perekonomian negara kita akan menjadi lebih terbuka. Dan karena AS lebih mengutamakan hak asasi manusia, negara kita akan mendapatkan standar yang lebih baik soal hak dan demokrasi," kata Kaung San, seorang mahasiswa di Yangon.
(esn)