Pemimpin Asia berharap Myanmar bisa akhiri kekerasan sektarian
Senin, 19 November 2012 - 08:00 WIB
Pemimpin Asia berharap Myanmar bisa akhiri kekerasan sektarian
A
A
A
Sindonews.com - Para pemimpin Asia Tenggara akan menekan Myanmar untuk menyelesaikan kekerasan antara umat Budha dan minoritas Muslim. Sejak Juni lalu, diperkirakan sudah 167 orang tewas dan 100 ribu lainnya mengungsi akibat pertikaian ini.
Presiden Myanmar, Thein Sein menyalahkan kaum ekstremis nasionalis dan agama atas kerusuhan yang terjadi pada Juni dan Oktober. Sein menghadapi kecaman karena gagal mengatasi ketegangan yang mendasar di negara bagian Rakhine, di mana diperkirakan 800 ribu kaum Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara.
"Saat ini, 800 ribu orang berada di bawah tekanan yang besar," kata Surin Pitsuwan, Sekretaris Jenderal ASEAN pada wartawan di sela-sela pertemuan puncak regional di Ibu Kota Kamboja, Phnom Penh, Minggu (18/11/2012).
"Jika masalah yang tidak ditangani dengan baik dan efektif, ada resiko radikalisasi dan ekstremisme," katanya. Pitsuwan memperkirakan, para pemimpin ASEAN akan mengangkat masalah ini dengan Myanmar selama pembicaraan bilateral.
“Para pemimpin ASEAN berkomitmen untuk mengurangi konflik internal sebagai kelompok bergerak ke arah integrasi ekonomi pada 2015,” katanya.
Isu ini juga nampaknya yang akan diangkat oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama saat mengunjungi Myanmar untuk kali pertama, Senin (19/11/2012). "Selain reformasi demokrasi, kami juga prihatin dengan konflik etnis di Myanmar. Saya pikir Presiden akan menggarisbawahi bahwa rekonsiliasi nasional juga akan menjadi bagian dari transisi demokrasi Myanmar," kata Ben Rhodes, Wakil Penasehat Keamanan Nasional AS.
Presiden Myanmar, Thein Sein menyalahkan kaum ekstremis nasionalis dan agama atas kerusuhan yang terjadi pada Juni dan Oktober. Sein menghadapi kecaman karena gagal mengatasi ketegangan yang mendasar di negara bagian Rakhine, di mana diperkirakan 800 ribu kaum Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara.
"Saat ini, 800 ribu orang berada di bawah tekanan yang besar," kata Surin Pitsuwan, Sekretaris Jenderal ASEAN pada wartawan di sela-sela pertemuan puncak regional di Ibu Kota Kamboja, Phnom Penh, Minggu (18/11/2012).
"Jika masalah yang tidak ditangani dengan baik dan efektif, ada resiko radikalisasi dan ekstremisme," katanya. Pitsuwan memperkirakan, para pemimpin ASEAN akan mengangkat masalah ini dengan Myanmar selama pembicaraan bilateral.
“Para pemimpin ASEAN berkomitmen untuk mengurangi konflik internal sebagai kelompok bergerak ke arah integrasi ekonomi pada 2015,” katanya.
Isu ini juga nampaknya yang akan diangkat oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama saat mengunjungi Myanmar untuk kali pertama, Senin (19/11/2012). "Selain reformasi demokrasi, kami juga prihatin dengan konflik etnis di Myanmar. Saya pikir Presiden akan menggarisbawahi bahwa rekonsiliasi nasional juga akan menjadi bagian dari transisi demokrasi Myanmar," kata Ben Rhodes, Wakil Penasehat Keamanan Nasional AS.
(esn)