Untuk pertama kalinya Presiden AS kunjungi Myanmar
Kamis, 08 November 2012 - 21:22 WIB
Untuk pertama kalinya Presiden AS kunjungi Myanmar
A
A
A
Sindonews.com – Perkembangan demokrasi yang ditunjukan Myanmar, membuat Barack Obama merasa perlu memberikan apresiasi pada negara itu. Pada 19 November mendatang, Obama yang baru saja terpilih kali kedua sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), akan mengunjungi Myanmar.
Kunjungan ini akan jadi lawatan pertama seorang Presiden AS ke Myanmar. Selain akan bertemu dengan Presiden Thein Sein, Obama juga diagendakan bertemu dengan pemenang penghargaan Nobel di bidang perdamaian, Aung San Suu Kyi.
Setelah bertahun-tahun berada dalam tahanan rumah, saat Suu Kyi sudah bisa menghirup udara bebas. Bahkan, pemerintah Myanmar memperbolehkannya masuk ke dunia politik praktis sebagai anggota Parlemen Myanmar.
“Sejauh pengetahuan saya, Obama akan mengunjungi Myanmar pada 19 November dan dia akan bertemu dengan Presiden Thein Sein dan San Suu Kyi,” kata salah satu pejabat di Myanmar yang tak mau namanya disebutkan, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/11/2012).
Myanmar memang sudah berubah, dari sebuah negara yang dikuasai oleh junta militer, menjadi negara yang mengembangkan demokrasi sepenuhnya. Untuk itu, AS merasa perlu menghentikan sanksi mereka atas Myanmar pada tahun ini.
Putusan ini diambil sebagai pengakuan atas perubahan politik dan ekonomi di negara itu. Pada November 2011, Hillary Clinton menjadi Menlu AS pertama yang mengunjungi Myanmar setelah 50 tahun.
Kunjungan ini akan jadi lawatan pertama seorang Presiden AS ke Myanmar. Selain akan bertemu dengan Presiden Thein Sein, Obama juga diagendakan bertemu dengan pemenang penghargaan Nobel di bidang perdamaian, Aung San Suu Kyi.
Setelah bertahun-tahun berada dalam tahanan rumah, saat Suu Kyi sudah bisa menghirup udara bebas. Bahkan, pemerintah Myanmar memperbolehkannya masuk ke dunia politik praktis sebagai anggota Parlemen Myanmar.
“Sejauh pengetahuan saya, Obama akan mengunjungi Myanmar pada 19 November dan dia akan bertemu dengan Presiden Thein Sein dan San Suu Kyi,” kata salah satu pejabat di Myanmar yang tak mau namanya disebutkan, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/11/2012).
Myanmar memang sudah berubah, dari sebuah negara yang dikuasai oleh junta militer, menjadi negara yang mengembangkan demokrasi sepenuhnya. Untuk itu, AS merasa perlu menghentikan sanksi mereka atas Myanmar pada tahun ini.
Putusan ini diambil sebagai pengakuan atas perubahan politik dan ekonomi di negara itu. Pada November 2011, Hillary Clinton menjadi Menlu AS pertama yang mengunjungi Myanmar setelah 50 tahun.
(esn)