Diprediksi, Obama tak akan ubah kebijakan terhadap China
Kamis, 08 November 2012 - 15:25 WIB
Diprediksi, Obama tak akan ubah kebijakan terhadap China
A
A
A
Sindonews.com – Di masa kepemimpinan kedua sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama diprediksi tak akan mengubah kebijakannya terhadap China. Obama masih akan tetap mempertahankan sikap seperti masa pemerintahan pertama.
“Saya pikir, dia akan tetap mempertahankan kebijakan lama, Obama akan lebih banyak menggunakan diplomasi, dibanding jika Mitt Romney yang terpilih sebagai Presiden. Dan, Obama memang sangat bagus dalam melakukan diplomasi,” kata Perwaklian Partai Demokrat, Judy Chu.
Zhu Zhiqun, seorang Profesor ilmu politik di Universitas Bucknell, di Pennsylvania, mengatakan, kemenangan Obama berarti tidak akan ada perubahan dalam kebijakan Gedung Putih terhadap China dan Asia.
"Demokrat cenderung memiliki agenda lengkap dan sering memiliki kondisi yang melekat pada hubungan komersial," kata Zhiqun. "Mereka lebih cenderung menekankan nilai-nilai universal, seperti demokrasi dan hak asasi manusia dalam hubungan," lanjutnya.
Obama juga diprediksi akan mengurangi pengeluaran AS, dengan membatasi impor dari negara-negara lain, khususnya China. Hal ini akan berakibat penurunan ekspor dari China ke AS.
Ann Lee, seorang Profesor ekonomi di New York University, mengatakan, apa yang ditetapkan Obama kontras dengan retorika Romney. "Bahkan, sikap Obama terhadap China bisa dikatakan sangat ganas. Hal ini bahkan bisa membuat mantan Presiden George W. Bush terlihat lembut dibandingkan Obama,” kata Lee.
Menurutnya, sikap Obama terhadap China kontraproduktif terhadap hubungan bilateral yang jauh lebih luas dari sekedar masalah ekonomi. “Menyalahkan China untuk pekerjaan yang hilang selama masa resesi ekonomi, mungkin bisa menaikan popularitas saat kampanye. Tapi, hal terburuk bisa terjadi pada perekonomian Amerika adalah, jika perekonomian China tertatih-tatih,” lanjutnya.
“Saya pikir, dia akan tetap mempertahankan kebijakan lama, Obama akan lebih banyak menggunakan diplomasi, dibanding jika Mitt Romney yang terpilih sebagai Presiden. Dan, Obama memang sangat bagus dalam melakukan diplomasi,” kata Perwaklian Partai Demokrat, Judy Chu.
Zhu Zhiqun, seorang Profesor ilmu politik di Universitas Bucknell, di Pennsylvania, mengatakan, kemenangan Obama berarti tidak akan ada perubahan dalam kebijakan Gedung Putih terhadap China dan Asia.
"Demokrat cenderung memiliki agenda lengkap dan sering memiliki kondisi yang melekat pada hubungan komersial," kata Zhiqun. "Mereka lebih cenderung menekankan nilai-nilai universal, seperti demokrasi dan hak asasi manusia dalam hubungan," lanjutnya.
Obama juga diprediksi akan mengurangi pengeluaran AS, dengan membatasi impor dari negara-negara lain, khususnya China. Hal ini akan berakibat penurunan ekspor dari China ke AS.
Ann Lee, seorang Profesor ekonomi di New York University, mengatakan, apa yang ditetapkan Obama kontras dengan retorika Romney. "Bahkan, sikap Obama terhadap China bisa dikatakan sangat ganas. Hal ini bahkan bisa membuat mantan Presiden George W. Bush terlihat lembut dibandingkan Obama,” kata Lee.
Menurutnya, sikap Obama terhadap China kontraproduktif terhadap hubungan bilateral yang jauh lebih luas dari sekedar masalah ekonomi. “Menyalahkan China untuk pekerjaan yang hilang selama masa resesi ekonomi, mungkin bisa menaikan popularitas saat kampanye. Tapi, hal terburuk bisa terjadi pada perekonomian Amerika adalah, jika perekonomian China tertatih-tatih,” lanjutnya.
(esn)