Obama akan diuji dalam hubungan dengan Korsel
Rabu, 07 November 2012 - 18:42 WIB
Obama akan diuji dalam hubungan dengan Korsel
A
A
A
Sindonews.com - Salah satu ujian di sektor kebijakan luar negeri yang akan dihadapi Barack Obama di masa kedua pemerintahannya adalah hubungan bilateral dengan Korea Selatan (Korsel). Pada pertengahan Desember mendatang, Korsel akan menggelar pemilihan umum.
Dua kandidat Presiden yang akan maju, Park Geun-hye dari partai Saenuri dan kandidat dari oposisi, Moon Jae-In sama-sama memiliki keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara (Korut).
Geun-hye berniat membuka kantor perwakilan di Pyongyang dan menjalin kerja sama di berbagai bidang dengan Korut. Sementara Jae-in mengaku akan memberikan bantuan kemanusiaan tanpa syarat bagi daerah-daerah terpencil di Korut yang dilanda krisis pangan.
Niat dua calon penguasa Korsel ini diprediksi akan menghadirkan pekerjaan rumah baru bagi Obama. Sebelumnya, kebijakan Presiden Korsel saat ini, Lee Myung-bak sejalan dengan keinginan Amerika Serikat (AS). Bahkan, bisa dikatakan Myung-bak bersikap keras pada Korut.
“Hubungan AS dan Korsel di masa depan akan lebih banyak ditentukan oleh siapa yang bakal menjadi Presiden Korsel usai pemilihan umum dan bukan pada kebijakan apa yang akan diterapkan Obama di periode kedua kepemimpinannya,” ujar Chun Chae-sung, Profesor hubungan internasional di Seoul National University.
Menurutnya, jika kandidat dari partai oposisi keluar sebagai pemenang, kemungkinan besar hal ini akan memengaruhi hubungan dengan AS. “Pihak oposisi Korsel punya keinginan untuk memperkuat hubungan dengan Korut. Tentu ini berbeda dengan kebijakan AS dan ini bisa menyebabkan perselisihan,” lanjut Chae-sung.
Dua kandidat Presiden yang akan maju, Park Geun-hye dari partai Saenuri dan kandidat dari oposisi, Moon Jae-In sama-sama memiliki keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara (Korut).
Geun-hye berniat membuka kantor perwakilan di Pyongyang dan menjalin kerja sama di berbagai bidang dengan Korut. Sementara Jae-in mengaku akan memberikan bantuan kemanusiaan tanpa syarat bagi daerah-daerah terpencil di Korut yang dilanda krisis pangan.
Niat dua calon penguasa Korsel ini diprediksi akan menghadirkan pekerjaan rumah baru bagi Obama. Sebelumnya, kebijakan Presiden Korsel saat ini, Lee Myung-bak sejalan dengan keinginan Amerika Serikat (AS). Bahkan, bisa dikatakan Myung-bak bersikap keras pada Korut.
“Hubungan AS dan Korsel di masa depan akan lebih banyak ditentukan oleh siapa yang bakal menjadi Presiden Korsel usai pemilihan umum dan bukan pada kebijakan apa yang akan diterapkan Obama di periode kedua kepemimpinannya,” ujar Chun Chae-sung, Profesor hubungan internasional di Seoul National University.
Menurutnya, jika kandidat dari partai oposisi keluar sebagai pemenang, kemungkinan besar hal ini akan memengaruhi hubungan dengan AS. “Pihak oposisi Korsel punya keinginan untuk memperkuat hubungan dengan Korut. Tentu ini berbeda dengan kebijakan AS dan ini bisa menyebabkan perselisihan,” lanjut Chae-sung.
(esn)