Kekuatan Obama dan Romney imbang
Senin, 05 November 2012 - 06:54 WIB
Kekuatan Obama dan Romney imbang
A
A
A
Sindonews.com - Hasil jajak pendapat terbaru ABC News/Washington Post pada Minggu (4/11) menunjukkan masing-masing meraih 48% dukungan.“Untuk peringkat calon presiden yang disenangi pemilih, keduanya juga tidak terpaut terlalu jauh. Obama meraih 54% dan Romney 53%,” ungkap hasil polling ABC News/Washington Post seperti dikutip AFP.
Dukungan keduanya berbeda di antara berbagai kelompok etnik dan sosial. Obama unggul di antara pemilih perempuan dengan marjin 6%,sedangkan Romney unggul untuk pemilih pria dengan selisih 7%. Dengan hasil polling itu, Obama dan Romney dituntut berjuang keras agar dapat menuai dukungan suara untuk menjadi pemenang Pemilu Presiden AS yang berlangsung besok,Selasa (6/11).
Sementara itu, jadwal kampanye yang sangat padat yang selama ini dilakukan Obama dan Romney membuat keduanya sudah tampak kelelahan. Suara Obama sudah terdengar serak di beberapa lokasi kampanye. Obama terbang ke New Hampshire untuk bertemu dengan Bill Clinton pada Sabtu (3/11) sebagai simbol bahwa sang mantan presiden meletakkan dukungannya kepada pria yang lebih muda.
Obama menggelar kampanye intens di Florida, Colorado, dan Ohio pada Minggu (4/11). Obama yang telah menghabiskan ratusan juta dolar, menggelar berbagai kampanye, dan melakukan perjalanan selama berbulan-bulan menyadari nasibnya kini bukan di tangannya lagi. “Saya hanya menopang kampanye.Kekuasaan bukan ada pada kami lagi, perencanaan semuanya kami lakukan, itu tidak masalah. Ini semua terserah Anda, ini terserah kepada sukarelawan. Anda memiliki kekuasaan itu. Itulah seharusnya demokrasi,” ujar Obama dalam konser outdoor di Bristow, Virginia, yang dihadiri 24.000 orang.
Clinton mengatakan bahwa Obama telah melakukan yang terbaik dan ingin terpilih lagi karena mampu sebagai presiden.“ Saya telah memberikan suara saya untuk melayani presiden saya,”kata Clinton dalam lebih dari 20 kampanye untuk Obama,termasuk saat kampanye di Virginia tersebut.Clinton merupakan sosok yang penting untuk menuai dukungan bagi Obama.Dia juga turut berkampanye di Pennsylvania pada hari ini untuk melawan Romney di negara bagian tersebut.
Tim kampanye Obama menyatakan, Romney sudah putus asa dan menyadari tidak dapat lagi mengumpulkan 270 suara electoral collage untuk memenangi pemilu tersebut.Kubu Obama menegaskan mereka tidak lagi merasa terancam kehilangan Gedung Putih. Di Milwaukee, kampanye Obama mendatangkan penyanyi Katy Perry yang mengenakan pakaian bertulis slogan “Forward” yang menjadi semboyan kampanye Demokrat.
Kampanye itu dihadiri 20.000 pendukung Obama. Dalam polling yang digelar surat kabar Des Moines Register, Obama unggul lima poin di Iowa. Obama juga unggul di Nevada dan Ohio. Romney menggunakan sisasisa tenaganya untuk berkampanye di Iowa, Ohio, dan Virginia. Dia juga akan ke Pennsylvania, negara bagian yang menjadi basis Obama.
Namun Republikan berupaya menggeser situasi agar lebih berpihak kepadanya.“Saya minta rakyat Amerika memilih untuk mencintai negara,” ujar Romney yang mengulang pesannya dalam pawai di Dubuque,Iowa, tempat dia mengecam Obama karena tingginya pengangguran dan naiknya harga gas.
Di Colorado Springs,Romney menegaskan bahwa pemilu 6 November besok merupakan momen untuk melihat masa depan.“ Bayangkan apa yang dapat kita lakukan dalam empat tahun lalu. Kita semakin dekat sekarang. Pintu ke masa depan cerah ada di sana,”tuturnya.
Sementara itu, pemilu kali ini juga mengizinkan pemilih untuk memberikan suara melalui surat.Kubu Republik dan Demokrat memperingatkan bahwa cara itu berpotensi untuk penipuan suara dan pemaksaan suara. Ide untuk memberikan suara melalui surat muncul karena membutuhkan biaya lebih murah.
Di negara bagian Ohio dan Florida, lebih dari seperlima pemilih lebih suka menggunakan surat pada 2010. Di Colorado,jumlah pemilih yang menggunakan surat hampir dua pertiga dari total pemilih. Namun cara itu juga menuai kontroversi. Dengan berbagai alasan, memberikan suara melalui surat lebih banyak ditolak daripada dengan cara konvensional. Sah dan tidaknya surat suara melalui surat itu diputuskan oleh petugas resmi yang melihat tanda tangan di surat suara itu.
Namun sejumlah pengamat mengkhawatirkan hal itu sangat rawan untuk terjadi kecurangan. “Anda akan mengkhawatirkan itu di Florida, khususnya, untuk menentukan apakah itu surat suara yang memiliki tanda tangan sebenarnya,” ujar Charles Stewart III, Direktur Voting Technology Project dan profesor di Massachusetts Institute of Technology. “Dalam kasus di Florida, banyak surat suara ditolak karena masalah tanda tangan. Itu terbuka untuk penyalahgunaan,” tutur Stewart.
Sementara itu, kampanye pemilu kali ini lebih fokus pada 22% populasi AS di sembilan negara bagian yang dianggap menentukan hasil akhir pemilu. Karena itu pula, kedua capres fokus berkampanye dan beriklan di sembilan negara bagian tersebut. Hal itu pun membuat empat perlima rakyat AS secara efektif dikesampingkan, padahal jumlah tersebut merupakan proporsi terbesar.
Ini menunjukkan bahwa rakyat AS memilih presiden mereka tidak berdasarkan suara populer,tapi melalui proses yang disebut electoral college, orang yang dipilih untuk memilih presiden dan wakil presiden. Pemenang di tiap negara bagian biasanya mendapat suara elektoral di negara bagian tersebut. Setiap capres memerlukan 270 suara elektoral untuk merebut Gedung Putih.
“Selama empat dekade terakhir, pilpres menjadi ajang pertarungan karena partai politik menjadi lebih bersatu secara ideologis dan AS menjadi masyarakat yang saling berbagi pendapat politik mereka,” tutur para pengamat. Alhasil, sebagian besar negara bagian tidak masuk perhitungan, bahkan sebelum kampanye presiden dimulai.
Dukungan keduanya berbeda di antara berbagai kelompok etnik dan sosial. Obama unggul di antara pemilih perempuan dengan marjin 6%,sedangkan Romney unggul untuk pemilih pria dengan selisih 7%. Dengan hasil polling itu, Obama dan Romney dituntut berjuang keras agar dapat menuai dukungan suara untuk menjadi pemenang Pemilu Presiden AS yang berlangsung besok,Selasa (6/11).
Sementara itu, jadwal kampanye yang sangat padat yang selama ini dilakukan Obama dan Romney membuat keduanya sudah tampak kelelahan. Suara Obama sudah terdengar serak di beberapa lokasi kampanye. Obama terbang ke New Hampshire untuk bertemu dengan Bill Clinton pada Sabtu (3/11) sebagai simbol bahwa sang mantan presiden meletakkan dukungannya kepada pria yang lebih muda.
Obama menggelar kampanye intens di Florida, Colorado, dan Ohio pada Minggu (4/11). Obama yang telah menghabiskan ratusan juta dolar, menggelar berbagai kampanye, dan melakukan perjalanan selama berbulan-bulan menyadari nasibnya kini bukan di tangannya lagi. “Saya hanya menopang kampanye.Kekuasaan bukan ada pada kami lagi, perencanaan semuanya kami lakukan, itu tidak masalah. Ini semua terserah Anda, ini terserah kepada sukarelawan. Anda memiliki kekuasaan itu. Itulah seharusnya demokrasi,” ujar Obama dalam konser outdoor di Bristow, Virginia, yang dihadiri 24.000 orang.
Clinton mengatakan bahwa Obama telah melakukan yang terbaik dan ingin terpilih lagi karena mampu sebagai presiden.“ Saya telah memberikan suara saya untuk melayani presiden saya,”kata Clinton dalam lebih dari 20 kampanye untuk Obama,termasuk saat kampanye di Virginia tersebut.Clinton merupakan sosok yang penting untuk menuai dukungan bagi Obama.Dia juga turut berkampanye di Pennsylvania pada hari ini untuk melawan Romney di negara bagian tersebut.
Tim kampanye Obama menyatakan, Romney sudah putus asa dan menyadari tidak dapat lagi mengumpulkan 270 suara electoral collage untuk memenangi pemilu tersebut.Kubu Obama menegaskan mereka tidak lagi merasa terancam kehilangan Gedung Putih. Di Milwaukee, kampanye Obama mendatangkan penyanyi Katy Perry yang mengenakan pakaian bertulis slogan “Forward” yang menjadi semboyan kampanye Demokrat.
Kampanye itu dihadiri 20.000 pendukung Obama. Dalam polling yang digelar surat kabar Des Moines Register, Obama unggul lima poin di Iowa. Obama juga unggul di Nevada dan Ohio. Romney menggunakan sisasisa tenaganya untuk berkampanye di Iowa, Ohio, dan Virginia. Dia juga akan ke Pennsylvania, negara bagian yang menjadi basis Obama.
Namun Republikan berupaya menggeser situasi agar lebih berpihak kepadanya.“Saya minta rakyat Amerika memilih untuk mencintai negara,” ujar Romney yang mengulang pesannya dalam pawai di Dubuque,Iowa, tempat dia mengecam Obama karena tingginya pengangguran dan naiknya harga gas.
Di Colorado Springs,Romney menegaskan bahwa pemilu 6 November besok merupakan momen untuk melihat masa depan.“ Bayangkan apa yang dapat kita lakukan dalam empat tahun lalu. Kita semakin dekat sekarang. Pintu ke masa depan cerah ada di sana,”tuturnya.
Sementara itu, pemilu kali ini juga mengizinkan pemilih untuk memberikan suara melalui surat.Kubu Republik dan Demokrat memperingatkan bahwa cara itu berpotensi untuk penipuan suara dan pemaksaan suara. Ide untuk memberikan suara melalui surat muncul karena membutuhkan biaya lebih murah.
Di negara bagian Ohio dan Florida, lebih dari seperlima pemilih lebih suka menggunakan surat pada 2010. Di Colorado,jumlah pemilih yang menggunakan surat hampir dua pertiga dari total pemilih. Namun cara itu juga menuai kontroversi. Dengan berbagai alasan, memberikan suara melalui surat lebih banyak ditolak daripada dengan cara konvensional. Sah dan tidaknya surat suara melalui surat itu diputuskan oleh petugas resmi yang melihat tanda tangan di surat suara itu.
Namun sejumlah pengamat mengkhawatirkan hal itu sangat rawan untuk terjadi kecurangan. “Anda akan mengkhawatirkan itu di Florida, khususnya, untuk menentukan apakah itu surat suara yang memiliki tanda tangan sebenarnya,” ujar Charles Stewart III, Direktur Voting Technology Project dan profesor di Massachusetts Institute of Technology. “Dalam kasus di Florida, banyak surat suara ditolak karena masalah tanda tangan. Itu terbuka untuk penyalahgunaan,” tutur Stewart.
Sementara itu, kampanye pemilu kali ini lebih fokus pada 22% populasi AS di sembilan negara bagian yang dianggap menentukan hasil akhir pemilu. Karena itu pula, kedua capres fokus berkampanye dan beriklan di sembilan negara bagian tersebut. Hal itu pun membuat empat perlima rakyat AS secara efektif dikesampingkan, padahal jumlah tersebut merupakan proporsi terbesar.
Ini menunjukkan bahwa rakyat AS memilih presiden mereka tidak berdasarkan suara populer,tapi melalui proses yang disebut electoral college, orang yang dipilih untuk memilih presiden dan wakil presiden. Pemenang di tiap negara bagian biasanya mendapat suara elektoral di negara bagian tersebut. Setiap capres memerlukan 270 suara elektoral untuk merebut Gedung Putih.
“Selama empat dekade terakhir, pilpres menjadi ajang pertarungan karena partai politik menjadi lebih bersatu secara ideologis dan AS menjadi masyarakat yang saling berbagi pendapat politik mereka,” tutur para pengamat. Alhasil, sebagian besar negara bagian tidak masuk perhitungan, bahkan sebelum kampanye presiden dimulai.
(esn)