Lagi, tentara AS berulah di Okinawa
Sabtu, 03 November 2012 - 21:57 WIB
Lagi, tentara AS berulah di Okinawa
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Jepang kembali mengajukan protes pada Amerika Serikat (AS), terkait dengan pelanggaran yang dilakukan personel militer AS di Okinawa. Seperti dikutip dari Jiji Press, Sabtu (3/11/2012), seorang pria yang memiliki kartu anggota Angkatan Udara AS dilaporkan telah menerobos masuk ke dalam sebuah apartemen dan memukul seorang remaja pria.
Menurut pihak Kepolisian Okinawa, pria itu diduga habis menegak minuman keras di sebuah restoran yang terletak di desa Yomitan. Dia kemudian masuk ke sebuah apartemen yang terkunci di lantai tiga. Apartemen ini terletak di gedung yang sama dengan restoran tersebut.
Setelah menerobos ke dalam apartemen, ia lalu masuk ke dalam kamar seorang remaja pria berusia 13 tahun. Prajurit tersebut lantas memukul pipi remaja penghuni kamar yang tengah tertidur itu.
Usai memukul, prajurit itu menabrak satu set televisi saat mencoba kabur lewat jendela. Sialnya, ia malah terjatuh dari jendela apartemen lantai 3 itu. Prajurit berusia 24 tahun itu lalu dibawa ke rumah sakit di Kamp militer Kuwae milik AS. Prajurit itu diyakini adalah seorang teknisi di Pangkalan Udara Kadena.
"Polisi sedang menyelidiki kasus, di mana orang bisa dikenakan tuduhan untuk masuk tanpa izin, menimbulkan cedera, dan menyebabkan kerusakan properti," ujar seorang Juru Bicara polisi setempat yang dikutip oleh kantor berita AFP.
Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, Kira Shuji langsung memanggil Duta Besar AS untuk Jepang, John Roos untuk memprotes insiden ini. Shuji menuntut AS agar mengambil langkah-langkah konkret guna menghentikan insiden yang terjadi berulang kali ini.
"Saya sangat marah. Itu adalah pernyataan untuk mengungkapkan rasa kecewa saya terhadap insiden yang dilaporkan terjadi di Okinawa," kata Roos, setelah ia dipanggil Kemenlu Jepang.
Aksi anarkis yang dilakukan personel militer AS di Okinawa memang bukan baru kali pertama terjadi. Bulan lalu, dua anggota Angkatan Laut AS ditangkap karena memperkosa seorang wanita di Okinawa. Setelah insiden perkosaan ini, militer AS mengaku menerapkan jam malam bagi seluruh personel mereka di Jepang.
"Atas nama semua desa, saya sangat mengutuk tindakan ini. Apa yang terjadi dengan jam malam?," tegas Walikota Yomitan, Denjitsu Ishimine. Rangkaian insiden ini telah memicu gelombang protes anti AS dan meminta AS memindahkan pangkalan militer mereka dari seluruh Jepang.
Di Tokyo, Kepala Sekretaris Kabinet, Osamu Fujimura, mengatakan, Pemerintah Jepang telah mengajukan protes ke Amerika Serikat melalui saluran diplomatik. Ia sangat menyesalkan terjadinya insiden selama masa jam malam.
Menurut pihak Kepolisian Okinawa, pria itu diduga habis menegak minuman keras di sebuah restoran yang terletak di desa Yomitan. Dia kemudian masuk ke sebuah apartemen yang terkunci di lantai tiga. Apartemen ini terletak di gedung yang sama dengan restoran tersebut.
Setelah menerobos ke dalam apartemen, ia lalu masuk ke dalam kamar seorang remaja pria berusia 13 tahun. Prajurit tersebut lantas memukul pipi remaja penghuni kamar yang tengah tertidur itu.
Usai memukul, prajurit itu menabrak satu set televisi saat mencoba kabur lewat jendela. Sialnya, ia malah terjatuh dari jendela apartemen lantai 3 itu. Prajurit berusia 24 tahun itu lalu dibawa ke rumah sakit di Kamp militer Kuwae milik AS. Prajurit itu diyakini adalah seorang teknisi di Pangkalan Udara Kadena.
"Polisi sedang menyelidiki kasus, di mana orang bisa dikenakan tuduhan untuk masuk tanpa izin, menimbulkan cedera, dan menyebabkan kerusakan properti," ujar seorang Juru Bicara polisi setempat yang dikutip oleh kantor berita AFP.
Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, Kira Shuji langsung memanggil Duta Besar AS untuk Jepang, John Roos untuk memprotes insiden ini. Shuji menuntut AS agar mengambil langkah-langkah konkret guna menghentikan insiden yang terjadi berulang kali ini.
"Saya sangat marah. Itu adalah pernyataan untuk mengungkapkan rasa kecewa saya terhadap insiden yang dilaporkan terjadi di Okinawa," kata Roos, setelah ia dipanggil Kemenlu Jepang.
Aksi anarkis yang dilakukan personel militer AS di Okinawa memang bukan baru kali pertama terjadi. Bulan lalu, dua anggota Angkatan Laut AS ditangkap karena memperkosa seorang wanita di Okinawa. Setelah insiden perkosaan ini, militer AS mengaku menerapkan jam malam bagi seluruh personel mereka di Jepang.
"Atas nama semua desa, saya sangat mengutuk tindakan ini. Apa yang terjadi dengan jam malam?," tegas Walikota Yomitan, Denjitsu Ishimine. Rangkaian insiden ini telah memicu gelombang protes anti AS dan meminta AS memindahkan pangkalan militer mereka dari seluruh Jepang.
Di Tokyo, Kepala Sekretaris Kabinet, Osamu Fujimura, mengatakan, Pemerintah Jepang telah mengajukan protes ke Amerika Serikat melalui saluran diplomatik. Ia sangat menyesalkan terjadinya insiden selama masa jam malam.
(esn)