Duel akhir kian sengit
Sabtu, 03 November 2012 - 14:20 WIB
Duel akhir kian sengit
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dan penantangnya Mitt Romney kembali berduel sengit pada pekan terakhir kampanye pemilu.
Gencatan senjata selama tiga hari akibat badai Sandy, membuat kampanye pekan terakhir ini justru semakin memanas. Badai terparah yang menerjang AS dalam beberapa dekade terakhir itu, tampaknya justru membuat popularitas Obama mengalahkan Romney.
Di kampanye pekan terakhir ini, Obama menerapkan strategi dengan mendatangi empat negara bagian kunci, sehari setelah mengunjungi pesisir New Jersey yang dihantam badai Sandy. Dalam pidatonya di Green Bay, Wisconsin, kemarin, dia memuji rakyat AS yang bersatu menghadapi badai dan meminta pemilih memberinya kesempatan empat tahun lagi di Gedung Putih.
”Saat bencana menyerang, kita saksikan Amerika di posisi terbaiknya. Semua perbedaan yang ada pada kita semua melebur.Tidak ada Demokrat atau Republik selama badai, mereka hanya rakyat AS,” ujar Obama di depan ribuan pendukungnya. Obama patut bersyukur karena dia dapat keluar dari krisis badai itu tanpa kehilangan popularitasnya.Kekhawatiran ini sempat muncul di awal saat Sandy mulai menerjang Pantai Timur AS. Tim kampanye Obama sangat khawatir jika badai Sandy dapat membawa dampak buruk bagi kampanye Partai Demokrat.
Seperti yang pernah dialami Presiden AS George W Bush yang popularitasnya hancur akibat badai Katrina. Justru dengan adanya badai Sandy, Obama mampu menunjukkan kekuatan kepemimpinannya dan efektivitas pemerintahannya. Alhasil, Romney tidak memiliki amunisi apapun untuk mengecam penanganan bencana oleh Obama saat ini.
Sebaliknya,Romney sangat berhati-hati agar tidak terkesan memolitisasi isu bencana ini, karena dia sebelumnya telah mendapat kecaman publik karena memanfaatkan tragedi serangan di konsulat AS di Benghazi, Libya, untuk kepentingan kampanyenya. Untuk semakin memanaskan detik-detik terakhir kampanye, Obama menyebut Romney berupaya merebut ”jubah perubahan” dari sang presiden AS.
”Sekarang, di pekan penutup kampanye,gubernur Romney menggunakan seluruh talentanya sebagai seorang penjual untuk menyusun berbagai kebijakan yang sangat sama yang telah menggagalkan negara kita sangat buruk, kebijakan yang sangat sama yang telah kita bersihkan selama empat tahun terakhir, dan dia menawarkan semuanya sebagai perubahan,” tegas Obama.
Menurut Obama, semua yang ditawarkan Romney bukanlah perubahan. ”Memberikan kembali kekuasaan lebih besar pada bank-bank besar itu bukan perubahan. Membiarkan jutaan orang tanpa asuransi kesehatan juga bukan perubahan,”ungkapnya. Dengan memberikan penekanan itu, Obama hendak menegaskan ke publik bahwa dialah yang membawa perubahan di Negeri Paman Sam itu.Namun, upaya Obama untuk menegaskan kembali bahwa dialah pembawa perubahan, tidak membuat Romney berdiam diri.
Romney yang dalam beberapa hari terakhir tenggelam dari pemberitaan media massa akibat badai Sandy,juga mulai memanaskan mesin kampanyenya. Dia sengaja memilih Virginia sebagai tempat kampanyenya yang menjanjikan perubahan ekonomi. ”Saya tahu Obama meneriakkan ‘empat tahun lagi,’ Tapi slogan kita ini: ‘Lima hari lagi!”tuturnya. Capres dari Partai Republik itu sangat percaya diri dengan peluangnya merebut Gedung Putih. Hal ini berdasarkan hasil sejumlah polling yang menunjukkan persaingan ketat antara Obama dan Romney di beberapa negara bagian kunci.
Romney menggunakan pekan terakhir kampanye ini untuk menyerang rencana Obama yang hendak membentuk Menteri Bisnis.Menurut Romney, rencana itu tidak akan mampu memperbaiki kondisi ekonomi. ”Kita tidak perlu seorang Menteri Bisnis untuk memahami bisnis. Kita memerlukan seorang presiden yang paham bisnis, dan saya paham,” tutur Romney, mantan eksekutif bursa saham dan mantan gubernur Massachusetts itu.
Gencatan senjata selama tiga hari akibat badai Sandy, membuat kampanye pekan terakhir ini justru semakin memanas. Badai terparah yang menerjang AS dalam beberapa dekade terakhir itu, tampaknya justru membuat popularitas Obama mengalahkan Romney.
Di kampanye pekan terakhir ini, Obama menerapkan strategi dengan mendatangi empat negara bagian kunci, sehari setelah mengunjungi pesisir New Jersey yang dihantam badai Sandy. Dalam pidatonya di Green Bay, Wisconsin, kemarin, dia memuji rakyat AS yang bersatu menghadapi badai dan meminta pemilih memberinya kesempatan empat tahun lagi di Gedung Putih.
”Saat bencana menyerang, kita saksikan Amerika di posisi terbaiknya. Semua perbedaan yang ada pada kita semua melebur.Tidak ada Demokrat atau Republik selama badai, mereka hanya rakyat AS,” ujar Obama di depan ribuan pendukungnya. Obama patut bersyukur karena dia dapat keluar dari krisis badai itu tanpa kehilangan popularitasnya.Kekhawatiran ini sempat muncul di awal saat Sandy mulai menerjang Pantai Timur AS. Tim kampanye Obama sangat khawatir jika badai Sandy dapat membawa dampak buruk bagi kampanye Partai Demokrat.
Seperti yang pernah dialami Presiden AS George W Bush yang popularitasnya hancur akibat badai Katrina. Justru dengan adanya badai Sandy, Obama mampu menunjukkan kekuatan kepemimpinannya dan efektivitas pemerintahannya. Alhasil, Romney tidak memiliki amunisi apapun untuk mengecam penanganan bencana oleh Obama saat ini.
Sebaliknya,Romney sangat berhati-hati agar tidak terkesan memolitisasi isu bencana ini, karena dia sebelumnya telah mendapat kecaman publik karena memanfaatkan tragedi serangan di konsulat AS di Benghazi, Libya, untuk kepentingan kampanyenya. Untuk semakin memanaskan detik-detik terakhir kampanye, Obama menyebut Romney berupaya merebut ”jubah perubahan” dari sang presiden AS.
”Sekarang, di pekan penutup kampanye,gubernur Romney menggunakan seluruh talentanya sebagai seorang penjual untuk menyusun berbagai kebijakan yang sangat sama yang telah menggagalkan negara kita sangat buruk, kebijakan yang sangat sama yang telah kita bersihkan selama empat tahun terakhir, dan dia menawarkan semuanya sebagai perubahan,” tegas Obama.
Menurut Obama, semua yang ditawarkan Romney bukanlah perubahan. ”Memberikan kembali kekuasaan lebih besar pada bank-bank besar itu bukan perubahan. Membiarkan jutaan orang tanpa asuransi kesehatan juga bukan perubahan,”ungkapnya. Dengan memberikan penekanan itu, Obama hendak menegaskan ke publik bahwa dialah yang membawa perubahan di Negeri Paman Sam itu.Namun, upaya Obama untuk menegaskan kembali bahwa dialah pembawa perubahan, tidak membuat Romney berdiam diri.
Romney yang dalam beberapa hari terakhir tenggelam dari pemberitaan media massa akibat badai Sandy,juga mulai memanaskan mesin kampanyenya. Dia sengaja memilih Virginia sebagai tempat kampanyenya yang menjanjikan perubahan ekonomi. ”Saya tahu Obama meneriakkan ‘empat tahun lagi,’ Tapi slogan kita ini: ‘Lima hari lagi!”tuturnya. Capres dari Partai Republik itu sangat percaya diri dengan peluangnya merebut Gedung Putih. Hal ini berdasarkan hasil sejumlah polling yang menunjukkan persaingan ketat antara Obama dan Romney di beberapa negara bagian kunci.
Romney menggunakan pekan terakhir kampanye ini untuk menyerang rencana Obama yang hendak membentuk Menteri Bisnis.Menurut Romney, rencana itu tidak akan mampu memperbaiki kondisi ekonomi. ”Kita tidak perlu seorang Menteri Bisnis untuk memahami bisnis. Kita memerlukan seorang presiden yang paham bisnis, dan saya paham,” tutur Romney, mantan eksekutif bursa saham dan mantan gubernur Massachusetts itu.
(esn)