Badai berpotensi hantam megapolitan Asia
Jum'at, 02 November 2012 - 10:14 WIB
Badai berpotensi hantam megapolitan Asia
A
A
A
Sindonews.com - Setelah New York, Amerika Serikat (AS), dihantam badai dahsyat Sandy pada Selasa (30/10) lalu, kota-kota megapolitan di Asia, termasuk Jakarta,dinilai berpotensi dihantam badai besar. Para ahli mengatakan, setelah badai Sandy terjadi, kota-kota di Asia harus meningkatkan peringatan terjadinya ancaman badai serupa.
Terlebih,kota-kota di Asia ini dianggap kurang memiliki langkah pencegahan yang cukup baik. Hal ini terungkap melalui studi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2007 lalu yang mengidentifikasi 20 kota-kota pelabuhan yang diperkirakan akan paling terkena banjir pesisir pada tahun 2070 nanti.
Sedikitnya 15 kota yang berisiko terancam badai itu diduduki negara-negara Asia, di mana posisi pertama dihuni Kolkata, kemudian diikuti Mumbai, Dhaka, Guangzhou, Ho Chi Minh City, Shanghai, Bangkok dan Yangon.
Kota-kota Asia lainnya adalah Haiphong (10), Tianjin (12), Khulna di Bangladesh (13), Ningbo di China (14), Chittagong (18), Tokyo (19) dan Jakarta (20). Sedangkan sisanya adalah Miami di AS,(9), Alexandria di Mesir (11), Lagos di Nigeria (15), Abidjan di Pantai Gading (16),dan New York (17).
Para peneliti membandingkan dengan kondisi kota New York yang memiliki kemampuan di atas tingkat teknik sipil, tata pemerintahan yang baik dan ekonomi terkaya di dunia saat menghadapi bencana terbesar dalam satu abad itu. Namun, hal ini tidak dimiliki banyak kota. Terutama di busur pantai dari China ke Laut Arab, yang memikat jutaan orang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
“Kota-kota ini mengalami ekspansi yang sangat cepat dan mereka tidak hanya terkena kenaikan permukaan laut, mereka juga terkena badai tropis,” ungkap Bob Ward, Direktur Kebijakan di Institut Penelitian Grantham tentang Perubahan Iklim dan Lingkungan di London,seperti dikutip AFP.“ Jelas tidak ada perencanaan perkotaan terjadi, dan mereka memiliki banyak orang miskin yang tinggal di kualitas perumahan sangat rendah yang akan menjadi sangat rentan mengalami hal tersebut.
"Sementara,Susan Hanson, ahli di Pusat Penelitian Perubahan Iklim Tyndall di Inggris yang ikut menulis laporan tersebut menerangkan kota-kota dengan perlindungan tertinggi adalah negaranegara Eropa.Sebagai contoh tempat-tempat seperti Belanda sudah memiliki standar pertahanan (banjir) yang benar-benar tinggi. “Namun,di beberapa kota di Amerika,pertahanan mereka tidak begitu tinggi,” terangnya.
Selain hal itu,dia menambahkan, ada beberapa faktor lain yang membuat kota-kota itu rentan terkena bencana badai.Salah satunya adalah kenaikan permukaan air laut rata-rata, yang menurut model penelitian akan menjadi sekitar 50 cm pada 2070,ketika suhu hangat semakin meluas di lautan. Lalu ada daya dorong angin, atau angin yang menyebabkan gelombang badai, dari siklon, yang juga menyebabkan terjadinya sejumlah besar hujan. Beberapa ilmuwan mengatakan badai ini bisa menjadi lebih ganas dan akan sering terjadi seiring dengan waktu.
Namun, ilmuwan lain tidak menyetujui anggapan ini.“Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa dengan perubahan iklim kita mungkin melihat kecepatan angin yang kuat tetapi jumlah keseluruhan siklon tropis akan menunjukkan tidak ada perubahan atau bahkan mungkin turun sedikit,” terang Tom Mitchell, Kepala Perubahan Iklim di Institut Pembangunan Luar Negeri Inggris.
Hal lain yang terungkap pula yaitu dampak badai super akan semakin diperparah ketika kota mengabaikan pertahanan alami mereka dan orang-orang diizinkan untuk menghuni di tempat risiko. Lalu bagaimana penanganan yang benar bagi negara-negara di Asia?
Ashvin Dayal,KepalaYayasan Rockefeller di Asia,yang mendukung sebuah proyek untuk memperkuat pertahanan iklim daerah menjelaskan, kesadaran akan risiko dan tata pemerintahan yang baik merupakan kunci untuk mengurangi ancaman tersebut.
“Hal-hal seperti ini (badai besar Sandy) dapat menghentakkan orang dan membuat orang duduk dan memperhatikan.Kami hanya harus memastikan bahwa mereka tidak memiliki kenangan singkat,”tegasnya.
Terlebih,kota-kota di Asia ini dianggap kurang memiliki langkah pencegahan yang cukup baik. Hal ini terungkap melalui studi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2007 lalu yang mengidentifikasi 20 kota-kota pelabuhan yang diperkirakan akan paling terkena banjir pesisir pada tahun 2070 nanti.
Sedikitnya 15 kota yang berisiko terancam badai itu diduduki negara-negara Asia, di mana posisi pertama dihuni Kolkata, kemudian diikuti Mumbai, Dhaka, Guangzhou, Ho Chi Minh City, Shanghai, Bangkok dan Yangon.
Kota-kota Asia lainnya adalah Haiphong (10), Tianjin (12), Khulna di Bangladesh (13), Ningbo di China (14), Chittagong (18), Tokyo (19) dan Jakarta (20). Sedangkan sisanya adalah Miami di AS,(9), Alexandria di Mesir (11), Lagos di Nigeria (15), Abidjan di Pantai Gading (16),dan New York (17).
Para peneliti membandingkan dengan kondisi kota New York yang memiliki kemampuan di atas tingkat teknik sipil, tata pemerintahan yang baik dan ekonomi terkaya di dunia saat menghadapi bencana terbesar dalam satu abad itu. Namun, hal ini tidak dimiliki banyak kota. Terutama di busur pantai dari China ke Laut Arab, yang memikat jutaan orang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
“Kota-kota ini mengalami ekspansi yang sangat cepat dan mereka tidak hanya terkena kenaikan permukaan laut, mereka juga terkena badai tropis,” ungkap Bob Ward, Direktur Kebijakan di Institut Penelitian Grantham tentang Perubahan Iklim dan Lingkungan di London,seperti dikutip AFP.“ Jelas tidak ada perencanaan perkotaan terjadi, dan mereka memiliki banyak orang miskin yang tinggal di kualitas perumahan sangat rendah yang akan menjadi sangat rentan mengalami hal tersebut.
"Sementara,Susan Hanson, ahli di Pusat Penelitian Perubahan Iklim Tyndall di Inggris yang ikut menulis laporan tersebut menerangkan kota-kota dengan perlindungan tertinggi adalah negaranegara Eropa.Sebagai contoh tempat-tempat seperti Belanda sudah memiliki standar pertahanan (banjir) yang benar-benar tinggi. “Namun,di beberapa kota di Amerika,pertahanan mereka tidak begitu tinggi,” terangnya.
Selain hal itu,dia menambahkan, ada beberapa faktor lain yang membuat kota-kota itu rentan terkena bencana badai.Salah satunya adalah kenaikan permukaan air laut rata-rata, yang menurut model penelitian akan menjadi sekitar 50 cm pada 2070,ketika suhu hangat semakin meluas di lautan. Lalu ada daya dorong angin, atau angin yang menyebabkan gelombang badai, dari siklon, yang juga menyebabkan terjadinya sejumlah besar hujan. Beberapa ilmuwan mengatakan badai ini bisa menjadi lebih ganas dan akan sering terjadi seiring dengan waktu.
Namun, ilmuwan lain tidak menyetujui anggapan ini.“Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa dengan perubahan iklim kita mungkin melihat kecepatan angin yang kuat tetapi jumlah keseluruhan siklon tropis akan menunjukkan tidak ada perubahan atau bahkan mungkin turun sedikit,” terang Tom Mitchell, Kepala Perubahan Iklim di Institut Pembangunan Luar Negeri Inggris.
Hal lain yang terungkap pula yaitu dampak badai super akan semakin diperparah ketika kota mengabaikan pertahanan alami mereka dan orang-orang diizinkan untuk menghuni di tempat risiko. Lalu bagaimana penanganan yang benar bagi negara-negara di Asia?
Ashvin Dayal,KepalaYayasan Rockefeller di Asia,yang mendukung sebuah proyek untuk memperkuat pertahanan iklim daerah menjelaskan, kesadaran akan risiko dan tata pemerintahan yang baik merupakan kunci untuk mengurangi ancaman tersebut.
“Hal-hal seperti ini (badai besar Sandy) dapat menghentakkan orang dan membuat orang duduk dan memperhatikan.Kami hanya harus memastikan bahwa mereka tidak memiliki kenangan singkat,”tegasnya.
(esn)