Bangladesh tolak 160 orang pengungsi Rohingya

Kamis, 01 November 2012 - 10:08 WIB
Bangladesh tolak 160...
Bangladesh tolak 160 orang pengungsi Rohingya
A A A
Sindonews.com - Penjaga perbatasan Bangladesh menolak lebih dari 160 orang pengungsi Rohingya dalam beberapa hari terakhir. Gelombang pengungsi meningkat akibat konflik sipil di Myanmar.

Komandan Penjaga Perbatasan Bangladesh Mohammad Khalequzzaman mengatakan, para pengungsi mencoba menyeberangi perbatasan dan masuk ke wilayah Ukhia yang berbatasan dengan Rakhine.

Sejauh ini penjaga perbatasan Bangladesh telah menolak lebih dari 160 pengungsi Rohingya yang mencoba ke Bangladesh melalui perbatasan sejak Minggu (21/10) lalu. Mereka mengungsi akibat gelombang kerusuhan di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Tim patroli sungai Bangladesh juga memaksa pulang 16 perahu yang membawa pengungsi Rohingya yang kebanyakan wanita dan anak-anak. Mereka yang ditolak termasuk 27 orang yang mencoba masuk Ukhia pada Selasa (30/10) lalu.

Khalequzzaman mengatakan, para pengungsi tiba secara berkelompok yang terdiri atas enam hingga 10 orang dalam tiga gelombang. “Kami menolak mereka sore ini setelah memberi mereka makanan. Tak satu pun dari mereka terluka atau sakit,” ujarnya.

Menurut laporan The Telegraph, sebanyak 3.000 etnis Rohingya yang datang dengan 50 kapal masih menunggu kepastian nasib mereka di lepas pantai Cox Bazaar di Bangladesh, setelah melarikan diri dari Myanmar.

Ribuan etnis Rohingya, salah satu kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia, terus melarikan diri ke gunung untuk menghindari kerusuhan. Ribuan pengungsi lainnya turun ke kapal menuju ibu kota negara bagian Sittwe dan negara tetangga Bangladesh.

Tadi malam pejabat senior Departemen Luar Negeri Bangladesh Saida Muna Tasneem mengatakan,meski bersimpati dengan penderitaan Rohingya namun mereka yakin sebagian besar yang menuju pantai itu bukan pengungsi asli, melainkan migran yang diselundupkan pelaku perdagangan manusia.

Dari 800–1.000 orang Rohingya yang tiba di Bangladesh dengan perahu pada Juni lalu, 80% merupakan korban perdagangan manusia dan hanya 20% pengungsi yang melarikan diri dari kekerasan.

“Bangladesh adalah negara yang sangat kecil dan salah satu negara yang paling padat penduduknya di dunia.Sementara kita bersimpati,masyarakat internasional harus merenungkan mengapa orang-orang ini dianiaya,”ungkapnya. Selain itu, Bangladesh mengatakan tidak akan menerima pengungsi baru karena telah dibebani dengan 300.000 pengungi Rohingya yang telah tinggal di sebelah tenggara negara tersebut.

Langkah Bangladesh yang menolak pengungsi Rohingya mengundang kecaman dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok hak asasi manusia. PBB memperkirakan, lebih dari 28.000 orang mengungsi sejak 21 Oktober lalu.
(esn)
Berita Terkait
Mirip di Indonesia,...
Mirip di Indonesia, Begini Suasana Mudik di Bangladesh
Bangladesh Diharapkan...
Bangladesh Diharapkan Menjalani Transisi ke Pemerintahan Baru dengan Damai
Depot Kontainer Meledak,...
Depot Kontainer Meledak, Lima Tewas dan Ratusan Terluka
Jenderal Waker-Uz-Zaman,...
Jenderal Waker-Uz-Zaman, Panglima Militer yang Enggan Berkuasa
Timnas Indonesia Ditahan...
Timnas Indonesia Ditahan Imbang Bangladesh
Horor, 37 Orang Tewas...
Horor, 37 Orang Tewas dalam Kebakaran Ferry di Bangladesh
Berita Terkini
Iran Ungkap Rudalnya...
Iran Ungkap Rudalnya Berhasil Hantam Jet Tempur AS di Yordania
25 menit yang lalu
Israel Berencana Gunakan...
Israel Berencana Gunakan Buaya untuk Jaga Tahanan Palestina
1 jam yang lalu
Beberapa Personel Militer...
Beberapa Personel Militer Kuwait Terluka dalam Serangan Iran
10 jam yang lalu
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
12 jam yang lalu
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
12 jam yang lalu
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
13 jam yang lalu
Infografis
125 Juta Orang Dapat...
125 Juta Orang Dapat Binasa Akibat Perang Nuklir India-Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved