Kampanye kembali panas
Kamis, 01 November 2012 - 10:02 WIB
Kampanye kembali panas
A
A
A
Sindonews.com - Barack Obama dan Mitt Romney kembali memanaskan mesin kampanyenya setelah 24 jam gencatan senjata karena badai Sandy.
Selama 24 jam itu pula, tim kampanye kedua calon presiden (capres) merancang bagaimana memanfaatkan pekan terakhir menjelang hari pemilu 6 November. Obama pada Selasa (30/10) masih menjalankan fungsi kepresidenan dengan memberikan sejumlah perintah pada badan darurat federal, menyatakan duka terhadap seluruh korban, dan tidak menyebut masalah pemilu presiden. Namun, kunjungannya ke New Jersey pada Rabu (31/10) dan bertemu Gubernur New Jersey Chris Christie lebih bersifat politis.
Christie merupakan gubernur dari Partai Republik yang mendukung Romney, tapi dia justru memuji kesigapan Obama dalam penanganan bencana. Padahal sebelum badai terjadi, Christie merupakan salah satu gubernur yang paling keras mengkritik Obama. Posisi Christie saat ini seperti Wali Kota New York Rudolph Giuliani setelah serangan 11 September 2011. Saat Christie ditanya tentang komentarnya yang menguntungkan kubu Obama, Christie menjawab, “Jika Anda sekarang berpikir saya memberikan penghalang pada politik kepresidenan, maka Anda tidak tahu saya.
“Christie disebut-sebut sebagai salah satu kandidat presiden di masa depan. Obama jelas memanfaatkan posisinya sebagai presiden untuk menunjukkan otoritas dan mengelola penanggulangan bencana serta mengungkapkan empati terhadap jutaan korban badai. “Jangan katakan mengapa kita tidak dapat melakukan sesuatu. Saya ingin Anda mengatakan bagaimana kita melakukan sesuatu,” ujar Obama pada para petugas saat mengunjungi kantor pusat Palang Merah AS di Washington, dikutip AFP.
Badai Sandy juga membuat Obama terus menjadi berita utama di berbagai media. Romney jelas tidak dapat membiarkan popularitas Obama terus meroket akibat badai tersebut. Capres Republik itu pun merencanakan kunjungan tiga hari di Florida, negara bagian yang menurutnya harus dimenangkan. Obama masih mendominasi pemberitaan media pada Rabu (31/10) saat dia berjalan melintasi properti yang rusak dan bertemu para korban badai. Romney berupaya mengimbangi permainan dengan menggelar kampanye di Florida.
Namun, Romney juga masih menghadapi ujian di Florida. Kubu Republik telah dituduh memanfaatkan tragedi serangan di konsulat AS di Benghazi, Libya,bulan lalu. Maka, ketika Romney memanfaatkan isu badai Sandy untuk kepentingan kampanyenya, dia dapat akan mendapat kecaman balik. Romney juga kembali dicurigai setelah komentarnya pada debat pemilu pendahuluan 2011, saat dia mengatakan hendak memberikan tanggung jawab pendanaan Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) pada negara bagian dan sektor swasta.
Dia berulang kali menghindari pertanyaan tentang apakah dia akan menghapus FEMA. Namun tim kampanyenya menyatakan, Romney saat ini tidak memiliki rencana untuk menghapus FEMA jika terpilih sebagai presiden. Sementara, polling yang dilakukan German Marshall Fund menunjukkan bahwa Eropa masih mengunggulkan Obama sebagai presiden AS. Sebanyak 75% responden mendukung Obama, dibandingkan hanya 8% yang mendukung Romney. Rating personal Obama di Eropa mencapai 71% saat ini turun 12% dibandingkan empat tahun silam.
Eropa memuji Obama dalam isu penarikan pasukan AS dari Irak dan reformasi layanan kesehatan. Eropa memuji keberhasilan AS membunuh pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden. Meski demikian, publik Eropa menyoroti kebuntuan dalam konflik Israel- Palestina dan kegagalan menutup pusat penahanan Guantanamo. “Sejumlah fakta menunjukkan Obama lebih dekat dengan Sosial Demokrat,seperti dikenal di Eropa,” tutur Jan Techau, kepala Carnegie Europe, dikutip AFP. Sebaliknya, Romney dianggap gagal memberikan jaminan bahwa dia akan menjadi sosok yang aman.
Latar belakang bisnisnya sebagai dealer finansial dan kebijakan ekonomi ultra-liberal membuatnya sulit mendapat kepercayaan publik Eropa yang menyalahkan para bankir dan pakar keuangan sebagai penyebab krisis ekonomi global 2008–2009. Selain itu, Romney dianggap memiliki latar belakang konservatif sayap kananjauh yang sama dengan mantan presiden George W Bush.
Selama pemerintahannya, Bush memimpin perang Irak dan menggunakan kekuatan AS yang sering membuat aliansinya geram.
Selama 24 jam itu pula, tim kampanye kedua calon presiden (capres) merancang bagaimana memanfaatkan pekan terakhir menjelang hari pemilu 6 November. Obama pada Selasa (30/10) masih menjalankan fungsi kepresidenan dengan memberikan sejumlah perintah pada badan darurat federal, menyatakan duka terhadap seluruh korban, dan tidak menyebut masalah pemilu presiden. Namun, kunjungannya ke New Jersey pada Rabu (31/10) dan bertemu Gubernur New Jersey Chris Christie lebih bersifat politis.
Christie merupakan gubernur dari Partai Republik yang mendukung Romney, tapi dia justru memuji kesigapan Obama dalam penanganan bencana. Padahal sebelum badai terjadi, Christie merupakan salah satu gubernur yang paling keras mengkritik Obama. Posisi Christie saat ini seperti Wali Kota New York Rudolph Giuliani setelah serangan 11 September 2011. Saat Christie ditanya tentang komentarnya yang menguntungkan kubu Obama, Christie menjawab, “Jika Anda sekarang berpikir saya memberikan penghalang pada politik kepresidenan, maka Anda tidak tahu saya.
“Christie disebut-sebut sebagai salah satu kandidat presiden di masa depan. Obama jelas memanfaatkan posisinya sebagai presiden untuk menunjukkan otoritas dan mengelola penanggulangan bencana serta mengungkapkan empati terhadap jutaan korban badai. “Jangan katakan mengapa kita tidak dapat melakukan sesuatu. Saya ingin Anda mengatakan bagaimana kita melakukan sesuatu,” ujar Obama pada para petugas saat mengunjungi kantor pusat Palang Merah AS di Washington, dikutip AFP.
Badai Sandy juga membuat Obama terus menjadi berita utama di berbagai media. Romney jelas tidak dapat membiarkan popularitas Obama terus meroket akibat badai tersebut. Capres Republik itu pun merencanakan kunjungan tiga hari di Florida, negara bagian yang menurutnya harus dimenangkan. Obama masih mendominasi pemberitaan media pada Rabu (31/10) saat dia berjalan melintasi properti yang rusak dan bertemu para korban badai. Romney berupaya mengimbangi permainan dengan menggelar kampanye di Florida.
Namun, Romney juga masih menghadapi ujian di Florida. Kubu Republik telah dituduh memanfaatkan tragedi serangan di konsulat AS di Benghazi, Libya,bulan lalu. Maka, ketika Romney memanfaatkan isu badai Sandy untuk kepentingan kampanyenya, dia dapat akan mendapat kecaman balik. Romney juga kembali dicurigai setelah komentarnya pada debat pemilu pendahuluan 2011, saat dia mengatakan hendak memberikan tanggung jawab pendanaan Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) pada negara bagian dan sektor swasta.
Dia berulang kali menghindari pertanyaan tentang apakah dia akan menghapus FEMA. Namun tim kampanyenya menyatakan, Romney saat ini tidak memiliki rencana untuk menghapus FEMA jika terpilih sebagai presiden. Sementara, polling yang dilakukan German Marshall Fund menunjukkan bahwa Eropa masih mengunggulkan Obama sebagai presiden AS. Sebanyak 75% responden mendukung Obama, dibandingkan hanya 8% yang mendukung Romney. Rating personal Obama di Eropa mencapai 71% saat ini turun 12% dibandingkan empat tahun silam.
Eropa memuji Obama dalam isu penarikan pasukan AS dari Irak dan reformasi layanan kesehatan. Eropa memuji keberhasilan AS membunuh pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden. Meski demikian, publik Eropa menyoroti kebuntuan dalam konflik Israel- Palestina dan kegagalan menutup pusat penahanan Guantanamo. “Sejumlah fakta menunjukkan Obama lebih dekat dengan Sosial Demokrat,seperti dikenal di Eropa,” tutur Jan Techau, kepala Carnegie Europe, dikutip AFP. Sebaliknya, Romney dianggap gagal memberikan jaminan bahwa dia akan menjadi sosok yang aman.
Latar belakang bisnisnya sebagai dealer finansial dan kebijakan ekonomi ultra-liberal membuatnya sulit mendapat kepercayaan publik Eropa yang menyalahkan para bankir dan pakar keuangan sebagai penyebab krisis ekonomi global 2008–2009. Selain itu, Romney dianggap memiliki latar belakang konservatif sayap kananjauh yang sama dengan mantan presiden George W Bush.
Selama pemerintahannya, Bush memimpin perang Irak dan menggunakan kekuatan AS yang sering membuat aliansinya geram.
(esn)