Dana rekonstruksi tsunami Jepang disalahgunakan
Rabu, 31 Oktober 2012 - 16:59 WIB
Dana rekonstruksi tsunami Jepang disalahgunakan
A
A
A
Sindonews.com – Audit yang dilakukan pemerintah Jepang menemukan bahwa dana yang dikucurkan untuk merekonstruksi daerah-daerah yang hancur akibat tsunami 2011 silam, telah disalahgunakan untuk hal lain. Audit pemerintah itu menunjukkan kalau dana tersebut digunakan untuk proyek-proyek yang tidak terkait dengan bencana.
Akibatnya, setelah 18 bulan bencana berlalu, masih ada 325 ribu orang yang tinggal di daerah pengungsian. Padahal, pemerintah telah mengucurkan USD150 miliar untuk membangun kembali daerah Timur Laut Jepang yang hancur akibat gempa dan tsunami.
“Belum ada satu pun gedung yang dibangun di pusat kota yang hancur akibat gempa. Dalam kurun 19 bulan, pada dasarnya tak ada perubahan besar yang dilakukan,” jelas Takashi Kubota, Wakil Walikota Rikuzentakata.
Rikuzentakata adalah sebuah kota pelabuhan. Saat gempa dan tsunami melanda, hampir separuh rumah di kota ini hancur dan tersapu gelombang tsunami. Bencana ini sendiri menelan korban sangat besar. Dilaporkan ada 19 ribu orang yang tewas dan hilang.
Perdana Menteri Jepang, Yoshihiko Noda berjanji akan segera menangani kasus ini. "Ada berbagai kritik yang dilayangkan tentang bagaimana anggaran untuk rekonstruksi telah dihabiskan," kata Noda.
"Kita harus mendengarkan suara-suara yang menyerukan prioritas utama dalam rekonstruksi daerah bencana. Kami akan memberikan tunjangan untuk item anggaran yang benar-benar dibutuhkan oleh daerah yang terkena bencana. Dan, kami akan mempersempit peluang pembelian barang-barang lain yang tak berhubungan dengan becana," lanjutnya.
Akibatnya, setelah 18 bulan bencana berlalu, masih ada 325 ribu orang yang tinggal di daerah pengungsian. Padahal, pemerintah telah mengucurkan USD150 miliar untuk membangun kembali daerah Timur Laut Jepang yang hancur akibat gempa dan tsunami.
“Belum ada satu pun gedung yang dibangun di pusat kota yang hancur akibat gempa. Dalam kurun 19 bulan, pada dasarnya tak ada perubahan besar yang dilakukan,” jelas Takashi Kubota, Wakil Walikota Rikuzentakata.
Rikuzentakata adalah sebuah kota pelabuhan. Saat gempa dan tsunami melanda, hampir separuh rumah di kota ini hancur dan tersapu gelombang tsunami. Bencana ini sendiri menelan korban sangat besar. Dilaporkan ada 19 ribu orang yang tewas dan hilang.
Perdana Menteri Jepang, Yoshihiko Noda berjanji akan segera menangani kasus ini. "Ada berbagai kritik yang dilayangkan tentang bagaimana anggaran untuk rekonstruksi telah dihabiskan," kata Noda.
"Kita harus mendengarkan suara-suara yang menyerukan prioritas utama dalam rekonstruksi daerah bencana. Kami akan memberikan tunjangan untuk item anggaran yang benar-benar dibutuhkan oleh daerah yang terkena bencana. Dan, kami akan mempersempit peluang pembelian barang-barang lain yang tak berhubungan dengan becana," lanjutnya.
(esn)